10 Barang Bukti Disita Polres Mitra Terkait Kasus Penembakan di PETI Kebun Raya Ratatotok

10 Barang Bukti Disita Polres Mitra Terkait Kasus Penembakan di PETI Kebun Raya Ratatotok

Penyitaan Barang Bukti dari Kasus Pembunuhan di PETI Kebun Raya

Polres Minahasa Tenggara (Mitra) telah menyita 10 barang bukti terkait kasus pembunuhan yang terjadi di lokasi pertambangan emas tanpa izin (PETI) Kebun Raya, Kecamatan Ratatotok. Dari 10 barang bukti tersebut, empat di antaranya adalah senapan angin, sementara enam sisanya berupa parang dan pisau badik.

Kasat Reskrim Polres Mitra AKP Lutfi Arinugraha Pratama mengungkapkan bahwa barang bukti ini berasal dari para terduga pelaku. "Para terduga pelaku sudah kita tangkap, dan ada 10 barang bukti yang disita," ujarnya melalui telepon pada Jumat, 26 Desember 2025.

Barang bukti ini diduga kuat digunakan saat para pelaku melakukan penyerangan di PETI Kebun Raya. "Ini yang dipakai saat kericuhan di Kebun Raya kemarin," tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa senjata angin yang digunakan oleh para pelaku dibeli sendiri oleh mereka dan dibawa ke lokasi pertambangan.

Saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami peran masing-masing tersangka dalam kasus ini. "Intinya sudah ada sembilan orang yang jadi tersangka. Kalau perannya masih kami dalami," ujar AKP Lutfi.

Sebelumnya diketahui, kasus penembakan terjadi lagi di lokasi PETI Kebun Raya, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Mitra. Berdasarkan kesaksian pihak korban, terungkap bahwa mereka memang diserang oleh para pelaku. Peristiwa berdarah itu terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025. Empat orang menjadi korban, tiga di antaranya meninggal dan satu dalam kondisi kritis hingga dilarikan ke RS Prof Kandou kesokan harinya, Minggu (21/12/2025).

Korban meninggal antara lain Safrudin Makalalag warga Borgo Satu, Mawandi Lakamunte warga Basaan Satu, dan Fathan Kalipe warga Belang. Korban kritis, seorang perempuan bernama Anisa Mamonto (57), warga Belang, Kabupaten Mitra.

Yamin, suami dari Anisa Mamonto, saat diwawancarai wartawan Tribun Manado di RS Kandouw menuturkan kronologis penembakan hingga menyebabkan tiga rekannya meninggal dan istrinya kritis. Ia mengaku sudah dapat ancaman sehari sebelumnya. "Ada yang katakan nanti ada kado," katanya.

Pada Sabtu siang, datang sekelompok orang menyerang tempat mereka. Melihat tembakan deras dan rekan-rekannya diburu, ia sempat keluar dan mengangkat tangan. "Saya katakan di sini ada perempuan," katanya. Tapi tembakan terus berdatangan. Saat tengah berlindung, dirinya mendengar suara seorang rekannya. "Dia katakan saya kena, dan dia akhirnya wafat," katanya.

Sibuk mengurus rekannya, Yamin belakangan sadar sang istri tertembak. Dibekapnya sang istri. "Saya lantas teriak, istri saya kena dan mereka pun teriak bawa saja," katanya. Hujan turun tak berapa lama setelah serangan itu. Dia pun menggendong sang istri yang sudah terluka di tengah hujan deras.

Mengenai para penyerang, ia melihat ada di antara mereka membawa semacam tabung dan benda mirip teleskop. Ia mengaku juga tertembak di dada. "Tapi tak luka serius," katanya. Ia mengatakan, Bupati Mitra membantu biaya pengobatan istrinya. "Dari pak Bupati membantu biaya pengobatan istri saya," katanya.

Dirinya berharap para pelaku penembakan dapat ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Sebanyak tiga orang tewas. Semuanya adalah kerabatnya. Sang istri Anisa Mamonto mengalami luka di kaki dan dagu. "Sekarang lagi tunggu operasi," katanya kepada Tribun Manado di lobi RS Prof Kandou di Kelurahan Malalayang, Kecamatan Malalayang, kota Manado, provinsi Sulut, Minggu (21/12/2025). Ia berharap operasi tersebut sukses dan sang istri sembuh.

Penertiban Aktivitas PETI di Kebun Raya

Polda Sulut dan Polres Mitra sempat melakukan penertiban aktivitas PETI di Kebun Raya Ratatotok. Namun meski sudah dilakukan penertiban, aktivitas PETI masih terus berlangsung secara diam-diam. Bahkan alat berat yang sempat diturunkan kembali dinaikkan ke Kebun Raya Ratatotok Mitra.

Aktivitas pertambangan di Ratatotok memang sudah tak terbendung. Kecamatan yang jaraknya sekitar 96 kilometer dari kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Ratatotok memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil emas di Sulut.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan