103.218 Pengungsi di Papua, Gereja Rayakan Natal dengan Rendah Hati dan Penuh Kasih

103.218 Pengungsi di Papua, Gereja Rayakan Natal dengan Rendah Hati dan Penuh Kasih

Seruan Gereja untuk Perayaan Natal 2025 yang Sederhana dan Penuh Solidaritas

Dewan Gereja Papua dan Pusat Studi HAM, Sosial, dan Pastoral Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura (STTWPJ) mengajak seluruh gereja di Tanah Papua untuk merayakan Hari Natal 2025 secara sederhana. Mereka menekankan pentingnya solidaritas terhadap 103.218 pengungsi yang tinggal di berbagai daerah di wilayah tersebut.

Moderator Dewan Gereja Papua, Pendeta Benny Giay, menjelaskan bahwa seruan ini muncul setelah rangkaian kegiatan Festival Literasi & Resiliensi pada 19 hingga 21 November 2025. Acara tersebut menunjukkan kreativitas generasi muda Papua sekaligus membangkitkan kesadaran kolektif tentang kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk.

Dalam acara tersebut, peserta disadarkan akan situasi para pengungsi internal di Papua. Mayoritas dari mereka mengungsi ke hutan tanpa tenda, tanpa makanan yang layak, dan tanpa akses layanan kesehatan. Ibu-ibu dan anak-anak juga rentan terhadap penyakit dan kelaparan.

Kasus tragis Ibu Sokoy dan bayinya yang meninggal setelah ditolak empat rumah sakit di Jayapura menjadi simbol ketidakadilan struktural yang masih terjadi di Tanah Papua. Pendeta Benny Giay menyampaikan bahwa dua realitas ini menampar kesadaran kita. Ia menegaskan bahwa gereja tidak boleh terus hidup dalam dunia yang nyaman sementara sebagian umat hidup dalam penderitaan.

Ketua Pusat Studi HAM, Sosial, dan Pastoral STTWPJ, Hendrica Henny Ohoitimur, menambahkan bahwa mayoritas pengungsi mengungsi ke hutan tanpa tenda, makanan yang layak, atau layanan kesehatan. Mereka menyambut Natal dengan kondisi yang sangat tragis dan sederhana. Mereka tinggal di kemah-kemah pengungsi atau hutan-hutan dan tidak menikmati apa yang biasanya dinikmati oleh banyak orang.

Seruan ini bertujuan agar perayaan Natal 2025 menjadi momen bagi gereja dan umat Kristen di Tanah Papua untuk menyampaikan perhatian dan solidaritas kepada para pengungsi. Pemerintah juga diharapkan dapat mengalihkan anggaran perayaan Natal untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi saat ini.

Hendrica mengatakan bahwa perayaan Natal yang lebih sederhana dan berpihak pada yang menderita dapat diwujudkan melalui langkah-langkah konkret seperti fokus pada ibadah gereja dan keluarga, bukan pesta dan acara seremonial. Ia menyarankan untuk mengurangi dekorasi dan hadiah Natal serta membatasi frekuensi perayaan hanya pada 24 Desember 2025.

Selain itu, ia juga mendorong aksi solidaritas dari jemaat dengan mengadakan persembahan "ebai mukai" atau aksi penggalangan dana untuk para pengungsi dan kelompok rentan lainnya.

Gereja harus keluar dari zona nyaman dan menjadi wadah bagi mereka yang menderita. Pendeta Benny Giay menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk hadir dan menyapa Tuhan yang hadir di antara mereka. Ia menyerukan agar perayaan Natal kali ini menjadi momen untuk bersolidaritas dan menunjukkan keberpihakan kepada mereka yang sedang menderita.

Pendeta Benny Giay juga menekankan pentingnya rasa empati terhadap peristiwa yang terjadi. Dengan mengingat kembali perjalanan Yesus yang juga pernah mengungsi, umat Kristen diharapkan dapat menumbuhkan rasa kemanusiaan dalam kesederhanaan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan