1.200 Nakes Masuk Desa Tuntaskan Stunting Jember


JEMBER, berita
Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, telah menerjunkan 1.200 tenaga kesehatan ke desa-desa untuk mengentaskan kasus stunting. Tugas utama mereka adalah mendata ibu hamil dan memastikan akses layanan kesehatan yang terjangkau.

1.200 nakes diluncurkan ke desa-desa untuk mencegah stunting. Pencegahan stunting itu 1.000 hari kehidupan. Mulai di dalam kandungan sampai nanti usia 2 tahun, kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Kabupaten Jember, Moh. Djamil, kepada tim Ekspedisi Nusaraya berita, Senin (1/12/2025).

Selain itu, pencegahan stunting juga dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan pola asuh anak kepada calon pengantin dan mencegah pernikahan dini.

Namun demikian, Djamil menyebut bahwa pengentasan stunting tidak bisa dilakukan Pemerintah Kabupaten Jember sendirian. Butuh peran pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Penanganan stunting ini tidak bisa hanya dilakukan Pemkab Jember. Ini harus melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Kalau memamg ada program yang lebih jitu, kami siap melaksanakan, katanya.

Pihaknya kini memfokuskan percepatan penurunan stunting di 30 desa. Sebagian dari 30 desa tersebut ada yang merupakan kantong kemiskinan ekstrem.

Di kantong-kantong kemiskinan kasusnya juga tinggi. Dari 30 desa yang menjadi lokus, sebagian juga ada di kantong-kantong kemiskinan ekstrem, kata Djamil.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), pada 2022 prevalensi stunting di Jember sebesar 33,9 persen. Kemudian pada 2023 turun sedikit menjadi 29,7 persen dan pada 2024 naik lagi menjadi 30,4 persen.

Djamil mengatakan, angka yang fluktuatif ini menandakan bahwa ada penanganan yang kurang tepat.

Ini kan ada something wrong di dalam penanganan. Itu yang kita identifikasi. Sampai kita pada kesimpulan bahwa pencegahan ini lebih krusial daripada penurunan. Jadi kita fokus pada pencegahan dan percepatan penurunan, katanya.

Akibat dari tingginya kemiskinan ekstrem

Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, tingginya angka stunting di Jember salah satunya adalah dampak dari tingginya angka kemiskinan ekstrem. Menurutnya, kemiskinan ekstrem yang tinggi di Jember telah berdampak pada sektor sosial dan kesehatan, salah satunya adalah tingginya kasus stunting.

Angka stunting kami tertinggi di Jawa Timur. Gambarannya kan begini, enggak mungkin yang stunting itu anak-anak orang kaya, walaupun mungkin (anak orang kaya) kecil sekali. Rata-rata mereka adalah orang yang tidak mampu, kata bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu.

Gus Fawait mengatakan, warga yang berada di bawah garis kemiskinan ekstrem masih terkendala biaya untuk menjangkau layanan kesehatan. Karena itu, kemiskinan ekstrem berdampak pada sektor kesehatan.

Bukan hanya pada kasus stunting, tapi juga pada angka kematian ibu hamil dan angka kematian bayi.

Angka kematian ibu dan bayi tinggi, kenapa? Karena mereka tidak mendapatkan akses layanan kesehatan yang mumpuni. Kenapa begitu? Ya pasti karena mereka terkendala biaya, katanya.

Karena itu, Gus Fawait bertekad mengentaskan kemiskinan ekstrem yang angkanya masih sangat tinggi di Jember.

Artikel ini merupakan bagian dari perjalanan tim Ekspedisi Nusaraya berita di Kabupaten Jember, mulai dari 27 November hingga 2 Desember. Klik ini untuk mengikuti seluruh rangkaian perjalanan kami.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan