
Tiga Belas Tahun Di Lorong Kekuasaan
"Jika Anda ingin memahami rahasia alam semesta, berpikirlah dalam istilah energi, frekuensi, dan getaran."
Kalimat itu tidak berasal dari dukun Jawa atau ahli fengshui Tionghoa. Ia lahir dari pikiran Albert Einstein—fisikawan yang mengubah cara manusia memandang ruang dan waktu.
Di tempat lain, Nikola Tesla—bapak listrik modern—menguatkannya:
"Jika Anda ingin menemukan rahasia alam semesta, pikirkan dalam hal energi, frekuensi, dan vibrasi. Masa depan milik mereka yang mampu mengendalikan getaran."
Dua jenius Barat itu, tanpa membaca Kitab Primbon atau petak Lo Shu, tiba pada kesimpulan yang sama dengan leluhur kita ribuan tahun sebelumnya.
Di Jawa, orang tua kita sejak lama memahami bahwa setiap hari memiliki "frekuensi" sendiri—Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon—yang bertemu dengan siklus tujuh hari dan melahirkan 35 weton berbeda. Masing-masing membawa getaran unik yang mempengaruhi watak, rezeki, dan momentum hidup.
Di Tiongkok kuno, para ahli BaZi membaca delapan karakter kelahiran sebagai delapan frekuensi elemen yang bergerak dalam siklus sepuluh tahunan—membentuk pilar keberuntungan yang naik dan turun seperti gelombang.
Einstein dan Tesla menemukan hukum itu melalui matematika dan laboratorium.
Leluhur kita menemukannya melalui pengamatan langit, bumi, dan denyut nadi manusia selama berabad-abad.
Intinya sama: hidup bukan urutan kejadian acak. Hidup adalah simfoni frekuensi.
Yang berbeda hanyalah bahasa yang kita gunakan untuk mendengarnya.
Selama tiga belas tahun terakhir, saya belajar mendengarkan simfoni itu—dengan telinga Jawa, mata BaZi, dan hati yang akhirnya mengerti mengapa Einstein dan Tesla tidak pernah benar-benar salah.
Tiga belas tahun itu membawa saya masuk ke arus yang sama yang diyakini leluhur Jawa dan para ahli BaZi: gerak energi tak kasat mata yang menarik, mendorong, memukul, lalu mengangkat kembali manusia ke tempat yang seharusnya ia tuju.
Dalam tradisi Jawa, itu disebut wewenang lan wektu.
Dalam BaZi, itu adalah pergantian pilar keberuntungan.
Bagi saya, itu satu hal: takdir yang bergerak.
Saya tidak pernah benar-benar memilih jalan.
Saya hanya belajar membaca tanda—kapan pintu dibuka, kapan saya harus melangkah, dan kapan saya harus mundur tanpa meninggalkan luka yang tidak perlu.
2012 – Pembuka Gerbang
Saya dipanggil menulis untuk seorang pemimpin yang sedang terpuruk: pemulihan fitalitas fisik, citra retak serta bayangan masa depan politik yang buram. Namun, menyimpan energi semangat perjuangan yang masih membara.
Sedangkan saya, datang hanya dengan laptop dan secangkir kopi hitam, tanpa tahu bahwa menurut weton dan BaZi, pertemuan itu adalah ketemu wanci: hadir tepat ketika diperlukan, bukan karena kebetulan, tetapi karena jalannya memang sedang dibentangkan. Dua energi yang saling melengkapi.
Orang Jawa menyebutnya tepat ing sasmita.
BaZi menyebutnya Ren Chen—air besar di atas naga—membuat kata-kata saya mengalir dan menemukan tujuannya.
Saya tidak mencari tugas itu.
Tugas itu yang menemukan saya.
Di situlah saya belajar: narasi adalah senjata paling halus dari kekuasaan.
2015 – Ujian Loyalitas
Tiga tahun kemudian, energi berubah menjadi benturan. Tahun Yi Wei—kayu besar bertemu domba logam—adalah clash (benturan) energi terberat dalam bagan hidup saya.
Saya harus memilih: diam demi kenyamanan, keamanan finansial serta fasilitas kesehatan istimewa untuk keluarga atau bersuara demi kebenaran.
Saya memilih bersuara.
Saya kehilangan jabatan, akses, dan sebagian teman karena pilihan politik yang saya ambil. Namun pengorbanan itu justru menajamkan cara saya memahami kekuasaan—bahwa tidak semua kebenaran membutuhkan saksi agar tetap benar.
Namun dari kehilangan itu, saya belajar satu hal:
Kekuasaan sejati bukan ketika Anda mampu membungkam orang lain, tetapi ketika Anda tetap berdiri meski semua orang memilih menjauh.
Api itu membakar ego, meninggalkan inti yang lebih keras.
2018 – Mandat Berat
Tahun Wu Xu membawa tugas yang tak pernah saya minta: membangun stasiun televisi dari nol—DigdayaTV, lalu GarudaTV.
Saya merancang sistem siaran, memilih warna identitas, menegosiasikan satelit Palapa D, membangun newsroom, hingga menentukan ritme jam tayang.
Orang Jawa menyebutnya nandur wiji ing angkasa—menanam benih di langit.
Anda tidak tahu kapan hujan turun, kapan benih tumbuh, atau pohon seperti apa yang kelak muncul. Yang Anda tahu hanya satu: benih itu harus ditanam.
Lima tahun saya hidup dalam ritme 24 jam. Tidur tiga jam adalah kemewahan.
Namun ada rasa yang tidak dapat dibeli: kesadaran bahwa mandat itu bukan sekadar pekerjaan.
Ia adalah tanggung jawab membentuk pikiran jutaan orang.
2023 – Fan Yin, Frekuensi yang Bergeser
Lalu datang tahun Gui Hai—air hitam di atas babi. Dalam BaZi, itu adalah Fan Yin: bayangan terbalik.
Segala yang dulu selaras tiba-tiba terasa sumbang. Pemilik ingin mengubah televisi itu dari alat perjuangan menjadi mesin hiburan.
Terbayang hingar bingar lampu panggung. Energi api yang membuat elemen tanah saya menjadi kering. Semakin panas menjadi debu. Mudah tertiup angin. Hilang berhamburan tiada arah.
Saya tahu saatnya mundur.
Bukan karena kalah atau marah, tetapi karena saya paham hukum alam: bertahan di frekuensi yang sudah tidak memanggil nama Anda hanya akan mengikis jiwa.
Dalam tradisi Jawa, mundur pada waktunya disebut ngalah luhur—kalah yang mulia.
Saya menyerahkan kunci studio dengan tenang, lalu pulang untuk me-ruwat diri sebelum kehilangan arah dalam arus yang bukan miliknya lagi.
2024 – Perlintasan Takdir
Tahun Jia Chen—kayu besar di atas naga—membawa saya ke gelanggang politik.
Saya menjadi calon legislatif, bukan karena saya berambisi mengejar kursi, tetapi karena sebagai bagian perjalanan energi. Hal yang menuntun saya melihat kekuasaan dari jarak yang paling rendah: suara rakyat.
Saya berjalan desa ke desa, mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
Hasilnya memberi pelajaran penting: tidak semua pintu yang saya ketuk adalah pintu yang harus saya masuki.
Tetapi saya pulang dengan sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan:
pemahaman bahwa kekuasaan bukan terletak di kursi, tetapi di kemampuan membuat orang merasa didengar.
Kegagalan itu adalah penutup satu siklus besar.
2025 – Rekonstruksi Jiwa
Kini saya berada di tahun Yi Si—kayu kecil di atas ular api. Energinya lembut namun membakar.
Ini masa menata ulang fondasi batin sebelum siklus sepuluh tahunan berikutnya dimulai pada 2026.
Saya tidak lagi mengejar mandat eksternal.
Saya sedang membangun ruang batin: tempat di mana narasi, kekuasaan, energi, dan kemanusiaan bisa berdialog tanpa saling melukai.
Karena pada akhirnya, inti perjalanan ini sederhana:
Narasi adalah cara manusia memberi makna pada energi.
Kekuasaan adalah energi yang dibentuk oleh struktur.
Energi itu sendiri netral.
Dan manusia—makhluk rapuh yang diberi kehendak—memilih apakah ia menjadi konduktor yang sadar atau sekadar kabel yang terbakar.
Tiga belas tahun ini mengajarkan saya bahwa kekuasaan paling abadi adalah kemampuan menguasai diri sendiri di tengah pusaran energi yang tak pernah berhenti.
Saya tidak tahu pintu mana yang akan terbuka berikutnya.
Yang saya tahu, ketika frekuensinya tiba, saya akan mengenalinya.
Dan ketika itu terjadi, saya akan melangkah lagi—tanpa memaksa, tanpa takut—mengikuti arus yang sejak awal memanggil nama saya.
Narasi.
Kekuasaan.
Energi.
Manusia.
Keempatnya bukan tujuan.
Keempatnya adalah jalan pulang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar