
Dua Puluh Satu Tahun Setelah Tsunami Aceh: Pelajaran dari Smong
Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak tsunami 26 Desember 2004 meluluhlantakkan Aceh dan mengguncang nurani dunia. Tragedi itu bukan hanya mencatat besarnya gelombang dan banyaknya korban, tetapi juga meninggalkan pelajaran penting tentang hubungan manusia dengan alam. Di tengah situasi ini, refleksi atas tsunami Aceh dan kearifan lokal smong dari Simeulue menjadi semakin relevan untuk dihadirkan kembali.
Simeulue dan Fakta yang Membungkam Logika
Pulau Simeulue terletak sangat dekat dengan pusat gempa besar berkekuatan 9.1 SR yang memicu tsunami 2004. Secara geografis, wilayah ini termasuk yang paling rentan. Namun fakta mencatat, jumlah korban jiwa di Simeulue sangat minim dibandingkan wilayah pesisir Aceh lainnya yang kehilangan puluhan ribu nyawa. Perbedaan ini bukan karena teknologi canggih atau infrastruktur megah. Ia lahir dari kesadaran kolektif masyarakat yang telah terbangun jauh sebelum bencana datang.
Smong: Pengetahuan yang Tumbuh dari Luka Sejarah
Smong bukan konsep akademik, melainkan pengetahuan hidup yang lahir dari tragedi tsunami 1907. Saat itu, gempa besar disusul surutnya air laut justru dianggap sebagai kesempatan. Ketidaktahuan tersebut berujung pada korban jiwa. Dari luka itulah masyarakat Simeulue belajar membaca tanda-tanda alam. Smong kemudian diwariskan lintas generasi melalui cerita rakyat (nafi-nafi), syair (nanga-nanga), dan kesenian nandong. Pesannya sederhana namun tegas: jika gempa besar terjadi dan air laut surut, segera menjauh dari pantai dan cari tempat tinggi.
Mitigasi Tanpa Sirene, Tapi Berbasis Kesadaran
Saat tsunami 2004 datang, masyarakat Simeulue tidak menunggu instruksi aparat atau sistem peringatan dini. Mereka bergerak karena ingatan kolektif telah tertanam kuat. Berbagai kajian lembaga penelitian nasional dan internasional kemudian mengakui smong sebagai salah satu contoh paling berhasil dari mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Pengakuan itu dipertegas ketika smong ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 oleh Mendikbudristek.
Indonesia Rawan Bencana, Sumatra dalam Lingkaran Risiko
Indonesia berdiri di atas kawasan Cincin Api Pasifik, salah satu wilayah tektonik paling aktif di dunia. Pulau Sumatra sendiri berada dalam posisi yang sangat rentan karena diapit oleh zona megathrust Samudra Hindia dan dilintasi Sesar Sumatra yang memanjang dari Aceh hingga Lampung. Kondisi geologis ini menjadikan Sumatra tidak hanya rawan gempa dan tsunami, tetapi juga rentan terhadap bencana turunan seperti banjir dan longsor.
Banjir Sumatra dan Pelajaran yang Berulang
Setiap kali banjir datang, pola yang sama kembali terulang. Masyarakat terkejut, bantuan berdatangan, lalu perlahan dilupakan. Sungai kembali dipersempit, hutan terus ditebangi, dan pemukiman tetap tumbuh di daerah rawan. Mitigasi kerap dipahami sebatas normalisasi sungai dan pembangunan tanggul, bukan perubahan perilaku. Di titik inilah smong seharusnya dibaca ulang, bukan sebagai cerita tsunami semata, tetapi sebagai filosofi mitigasi.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Smong?
Smong setidaknya mengajarkan tiga hal mendasar yang relevan dengan banjir Sumatra hari ini. Pertama, ingatan kolektif. Masyarakat Simeulue tidak lupa pada tragedi ratusan tahun lalu. Sebaliknya, masyarakat kita sering cepat melupakan banjir tahun lalu, seolah tidak pernah terjadi. Kedua, pendidikan berbasis budaya. Smong tidak diajarkan lewat modul formal, tetapi melalui cerita yang hidup. Dalam konteks banjir, edukasi lingkungan dan kebencanaan seharusnya ditanamkan sejak dini dengan bahasa lokal dan contoh nyata, bukan hanya poster dan spanduk musiman. Ketiga, kesadaran bertindak tanpa menunggu. Smong melatih refleks sosial. Dalam hal banjir, kesadaran ini bisa berupa menjaga daerah resapan, tidak membuang sampah ke sungai, dan memahami risiko wilayah tempat tinggal.
Ironi: Smong Dipuji, tapi Jarang Ditiru
Dua puluh satu tahun setelah tsunami, smong sering dipuji dalam forum-forum kebencanaan, tetapi jarang dijadikan rujukan kebijakan yang serius. Pendekatan mitigasi kita masih sangat teknokratis dan reaktif. Teknologi dipentingkan, sementara dimensi budaya dan kesadaran sosial dikesampingkan.
Belajar dari Dunia: Smong Bukan Satu-satunya
Kearifan lokal sebagai instrumen mitigasi bencana sejatinya bukan hanya milik Simeulue. Di Jepang, masyarakat pesisir mewariskan pesan serupa melalui tsunami stones, batu peringatan yang dipahat ratusan tahun lalu dengan pesan tegas: jangan bangun rumah di bawah titik ini. Saat tsunami besar 2011 menerjang Jepang, wilayah yang mematuhi pesan batu tersebut terbukti lebih aman dibandingkan daerah yang mengabaikannya. Contoh lain datang dari komunitas Moken di Thailand dan Myanmar. Suku laut ini nyaris tidak memiliki teknologi modern, tetapi memiliki pengetahuan turun-temurun tentang perilaku laut. Saat tsunami 2004 terjadi, mereka mengenali tanda-tanda alam seperti air laut yang surut drastis dan perubahan gelombang, lalu segera menjauh dari pantai. Hampir seluruh komunitas Moken selamat.
Merawat Ingatan, Bukan Sekadar Memperingati
Smong bukan romantisme masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa kearifan lokal bisa menjadi fondasi mitigasi bencana yang berkelanjutan. Dalam konteks banjir Sumatra, yang dibutuhkan bukan hanya proyek fisik, tetapi juga proyek ingatan dan kesadaran. Pendidikan kebencanaan harus berangkat dari pengalaman lokal, sejarah bencana setempat, dan relasi manusia dengan alam. Tanpa itu, banjir akan terus datang sebagai peristiwa rutin yang selalu mengejutkan.
Belajar Sebelum Alam Kembali Mengajar
Dua puluh satu tahun lalu, Simeulue telah memberi pelajaran mahal tentang cara bertahan hidup di negeri rawan bencana. Hari ini, banjir di Sumatra mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah berhenti mengajar, kitalah yang sering enggan belajar. Smong mengajarkan satu hal sederhana namun mendasar yaitu mitigasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga ingatan yang dijaga dan kesadaran yang diwariskan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar