22 Tahun Bekerja di TNI, Tatang Kini Tinggal di Rumah Sempit Bersama 11 Orang, Sulit Renovasi

Kehidupan 11 Anggota Keluarga di Rumah Sempit

Tatang (71) dan Rusmiati (68) tinggal bersama keluarga besar mereka di rumah dua lantai yang berukuran 3x4 meter. Mereka tinggal bersama anak, menantu, dan cucu-cucu mereka. Rumah tersebut terletak di RT 15 RW 01 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Karena jumlah penghuni yang cukup banyak, mereka harus saling berdampingan saat melakukan aktivitas sehari-hari, baik siang maupun malam hari.

Rumah sederhana ini merupakan peninggalan orang tua Tatang. Ia lahir dan tumbuh di sana sejak 1950-an hingga kini menjalani masa tua. Rumah tersebut pernah terbakar pada kebakaran besar di Menteng pada tahun 1962. Setelah itu, orang tua Tatang membangunnya kembali pada 1968. "Setelah orang tua saya meninggal, saya tinggal di sini bersama istri, anak, hingga sekarang bersama cucu-cucu," jelas Tatang.

Sejak dulu hingga kini, rumah tersebut belum pernah mengalami renovasi besar. "Hanya sedikit ditambal jika ada yang bocor, atau perbaiki tangga jika lepas," tambahnya. Menurutnya, tidak ada uang untuk perbaikan besar. Bahkan, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja terasa sulit.

Saat ini, Tatang dan Rusmiati sudah tidak lagi bekerja. Setahun terakhir, mereka berhenti berjualan makanan karena lokasi dagangan digusur. Sebelumnya, mereka berjualan makanan dan minuman di wilayah Tugu Proklamasi, Menteng. "Saya jualannya di pinggiran, jadi kena gusuran. Jika ingin tebus tempat jualan yang ada sekarang, harganya mahal," kata Tatang. "Jadi, kalau ada sedikit modal, saya jualan gorengan dan nasi uduk di depan rumah. Tapi setahun ini tidak ada modal, jadi belum jualan lagi."

Sebelum menjadi pedagang, Tatang sempat bekerja sebagai petugas jaga malam di rumah salah satu jenderal TNI di Menteng selama 22 tahun. Setelah sang jenderal dan istrinya meninggal, ia tidak lagi bekerja di sana. Hasil kerjanya digunakan untuk membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga SMA dan menikahkan mereka. Anak-anak perempuan Tatang tidak ada yang bekerja. Dua anak menantu laki-laki bekerja serabutan sebagai pesuruh, sopir, atau tukang parkir.

Keluarga ini kini hidup dengan rezeki seadanya. Tatang menjelaskan bahwa rumah tersebut dihuni oleh 11 orang. "Saya, istri saya, anak saya yang pertama dan suaminya beserta dua anaknya, lalu anak saya yang terakhir beserta suaminya dan tiga anaknya." Malam hari, mereka tidur berimpitan. Di lantai satu, anak dan menantunya serta tiga cucu tidur bersama. Di lantai dua, Tatang, istri, dan anak lainnya tidur bersama dua cucu.

Pantauan menunjukkan bahwa lantai satu penuh dengan perabotan seperti televisi, kulkas, meja makan, dispenser, lemari, dan penanak nasi. Ada juga kasur lantai yang digunakan tiga cucu untuk tidur siang. Di sudut ruangan, terdapat kamar mandi kecil dan toilet yang digunakan seluruh penghuni.

Tatang dan Rusmiati kemudian mengajak melihat lantai dua rumah mereka. Mereka naik melalui tangga kayu sederhana yang terdiri dari tujuh anak tangga. "Hati-hati ya Kak, tangganya sederhana," kata Rusmiati. Tangga tersebut sedikit goyang jika diinjak terburu-buru. Sesampainya di lantai dua, mereka menunjukkan atap seng yang sudah berlubang. Air hujan sering masuk ke dalam rumah. Ember atau wadah lain kerap dipasang untuk menampung air yang menetes.

Selain terkena air hujan, Rusmiati dan suami mengaku sering digigit tikus saat tidur. Cucu-cucu mereka pun mengalami hal yang sama. Tikus-tikus berasal dari lubang di dinding rumah. "Kalau digigit tikus sering juga. Cucu-cucu juga digigit. Untung bisa dihalau. Kalau malam memang banyak tikus," ungkap Rusmiati.

Kunjungan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman

Rumah Tatang dan Rusmiati menjadi sorotan setelah dikunjungi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait pada Jumat (14/11/2025). Menteri Ara berkunjung bersama timnya ke rumah mereka. Tatang mengaku tidak menyangka rumahnya mendapat perhatian dari pejabat pusat. Meski tinggal di kawasan Menteng yang dekat pusat pemerintahan nasional, ia belum pernah mendapat bantuan perbaikan rumah.

"Saya dapat bansos PKH dan bansos beras," tutur Tatang. "Akhirnya doa kami dikabulkan Allah. Ada yang mau bantu renovasi rumah kami," katanya. Menurut Tatang, Menteri Ara berkali-kali menyampaikan bahwa rumah tersebut harus segera diperbaiki. "Pak Ara bilang berkali-kali, ini harus segera dibangun, harus segera dibangun. Mudah-mudahan segera dilancarkan pembangunannya."

Tatang juga menitip pesan kepada Menteri Ara agar ia bisa mendapat modal untuk kembali berjualan makanan. Meski sudah tua, ia mengaku masih kuat bekerja. "Saya masih semangat, masih kuat. Hanya memang tidak ada modal saja," tuturnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan