Kehidupan di Bawah Ancaman Banjir
Di sebuah gang sempit di kawasan Gg. Merpati, Kelurahan Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari, Yanti (52) tampak sibuk mengatur tumpukan pakaian yang ia letakkan di atas kasur yang sudah tinggi di dalam rumahnya. Kasur yang seharusnya berada di lantai itu sengaja ia tinggikan, ditopong oleh kursi dan kayu-kayu lain. Inilah bentuk pertahanan yang ia bangun sendiri sejak hampir tiga dekade lalu untuk menyelamatkan barang-barang dari banjir tahunan.
Ia juga memperlihatkan bagian kamar tidur lain yang memiliki ranjang dibuat jauh lebih tinggi bahkan hampir menyentuh langit-langit. Menurutnya, ranjang tinggi itu sudah lama menjadi benteng terakhir ketika air mulai naik lebih parah dari biasanya. Yanti sudah tinggal di rumah ini sejak 1996, dan sejak itu pula banjir menjadi tamu tahunan yang tidak pernah benar-benar pergi. Rumah sederhana itu memang berada di kawasan yang dikenal sebagai titik rawan banjir di Pangkalpinang.
"Setiap tahun pasti ada banjir, pasti ada yang parah. Paling tidak setinggi betis orang dewasa," ujar Yanti saat dijumpai beberapa waktu lalu. Saat aiotrade mengunjungi rumahnya, hampir seluruh barang berharga sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Kasur-kasur, baju, hingga dokumen penting keluarga sudah ditata rapi di bagian atas. Sebagian kasur terlihat rusak di bagian bawah bekas sering terendam banjir.
"Sudah biasa, jadi harus antisipasi. Kalau hujan deras terus pasang air laut, cepat sekali air masuk ke rumah. Kalau cuma hujan deras saja, paling banjirnya di depan rumah," tuturnya.

Antisipasi itu bukan tanpa alasan. Yanti masih mengingat banjir besar tahun 2016, peristiwa yang merendam seluruh bagian rumahnya hingga membuatnya kesulitan menyelamatkan barang-barang. Sejak itu, ia dan keluarga sepakat membuat ranjang tinggi sebagai penyelamat. Meski sudah puluhan kali menjadi korban banjir, Yanti tak pernah berniat pindah rumah.
"Tanah di Pangkalpinang mahal. Lagian rumah ini dekat pasar, dekat ke mana-mana. Enak tinggal di sini," katanya sambil tersenyum kecil. Baginya, banjir bukan alasan untuk meninggalkan tempat yang sudah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kan banjirnya tidak setiap hari. Masih amanlah. Tapi setahun sekali pasti ada yang parah itu, banjir tahunannya," ungkap Yanti. Menurut Yanti, banjir biasanya muncul pada musim penghujan, seperti Oktober, November, dan Desember. Ia sudah sangat hafal pola alam yang mengelilingi rumahnya.
"Kalau sudah masuk hujan akhir tahun, ya kami siap saja. Tinggal naikkan barang-barang ke atas," ucapnya. Meski sederhana, rutinitas itu baginya adalah bentuk perjuangan. Dan seperti warga lainnya di kawasan rawan banjir Kelurahan Gedung Nasional, Yanti hanya bisa berharap setiap musim hujan tidak membawa air setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Namun di balik kepasrahan itu, ada kekuatan yang pelan-pelan tumbuh, keyakinan untuk bertahan. Di rumah kecil itulah Yanti membesarkan keluarga, menggantungkan hidup dari warung sederhana, dan menjalani hari-harinya dengan tabah meskipun banjir menjadi bagian dari hidup sejak 29 tahun lalu.
Meski sudah terbiasa menghadapi banjir, Yanti tidak menutup hati untuk berharap pada perubahan. Ia berharap pemerintah bisa membantu mengurangi risiko banjir di kawasan tempat tinggalnya. "Kalau bisa, tolong dibantu supaya daerah kami ini tidak banjir lagi. Kasihan warga di sini setiap tahun pasti kena. Kalau bisa diperbaiki salurannya, atau dibuatkan penanganan supaya air cepat turun," pintanya dengan nada lirih.
Yanti mengaku tidak menuntut banyak. Ia hanya ingin rumahnya, yang menjadi tempat ia membesarkan kedua anaknya sejak hampir tiga dekade lalu, bisa sedikit lebih aman setiap kali hujan datang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar