
Kondisi Persebaya Surabaya Jelang Lawan Borneo FC
Persebaya Surabaya akan menghadapi Borneo FC dalam kondisi yang jauh dari ideal. Dari kursi pelatih hingga kesiapan di lapangan, Green Force seolah berjalan dengan satu kaki. Masalah utama Persebaya Surabaya masih berpusat pada kursi pelatih kepala yang kosong. Sejak mengakhiri kerja sama dengan Eduardo Pérez, manajemen belum juga menunjuk pengganti definitif.
Untuk sementara, tim ditangani Uston Nawawi sebagai pelatih caretaker. Mantan pemain Persebaya Surabaya itu sudah sekitar 30 hari mendampingi tim sejak Eduardo Pérez resmi pergi. Uston mengakui belum ada komunikasi dengan manajemen terkait pelatih baru. “Untuk pelatih baru, saya belum berkomunikasi dengan manajemen terkait hal tersebut. Saya belum mengetahui soal itu,” ucapnya.
Dengan status sementara, Uston memilih fokus pada pekerjaan harian bersama tim. “Saya fokus saja pada persiapan tim menghadapi pertandingan selanjutnya,” lanjutnya. Di bawah arahan Uston Nawawi, Persebaya Surabaya memang belum menang. Namun, Green Force juga belum menelan kekalahan selama periode tersebut.
Hingga pekan ke-13 Super League, Persebaya Surabaya menempati posisi kesembilan klasemen sementara. Total 18 poin dari 13 laga mencerminkan performa yang belum konsisten.
Absennya Uston Nawawi
Fakta pertama datang dari situasi rumit karena Persebaya Surabaya menghadapi Borneo FC tanpa kehadiran Uston Nawawi di pinggir lapangan. Pelatih asal Sidoarjo itu harus absen akibat akumulasi kartu kuning. Uston menerima kartu kuning saat laga melawan Persija Jakarta menit ke-39 dan Bhayangkara FC menit ke-89. Regulasi kompetisi membuatnya harus menepi satu pertandingan.
Aturan tersebut tertuang jelas dalam regulasi I.League. Ofisial yang mengoleksi dua kartu kuning dilarang mendampingi tim satu laga berikutnya. Posisi Uston akan digantikan Shin Sang-gyu saat melawan Borneo FC. Pelatih fisik Persebaya Surabaya itu ditunjuk menjadi caretaker di pinggir lapangan.
Pergantian ini membuat Persebaya pincang dari sisi bench. Pengambilan keputusan taktis di tengah laga berpotensi terganggu oleh minimnya pengalaman Shin sebagai pemimpin utama.
Lawan Pemuncak Klasemen
Fakta kedua, lawan yang dihadapi Persebaya bukan tim sembarangan. Borneo FC datang ke Surabaya dengan status pimpinan klasemen sementara. Satu minggu lagi, Persebaya akan menjamu Pesut Etam di Stadion Gelora Bung Tomo. Tekanan otomatis meningkat karena ekspektasi publik tetap tinggi.
Bermain di kandang memang memberi keuntungan moral. Namun, kondisi internal Persebaya membuat modal tersebut tak sepenuhnya kuat.
Belum Ada Pelatih Kepala
Fakta ketiga tetap mengarah pada ketidakjelasan nahkoda tim. Hingga kini, manajemen belum memberikan sinyal kapan pelatih kepala baru diumumkan. Ketidakpastian ini membuat arah jangka panjang tim abu-abu. Pemain hanya bisa menyesuaikan diri dengan instruksi sementara.
Persiapan Singkat
Fakta keempat menyangkut waktu persiapan yang sangat terbatas. Bahkan jika pelatih baru diumumkan dalam waktu dekat, perubahan taktik besar dinilai mustahil. Waktu yang mepet membuat Persebaya Surabaya harus bertahan dengan pola lama. Risiko permainan mudah dibaca lawan pun sulit dihindari.
Situasi pincang ini tak luput dari sorotan Bonek. Suporter menilai Persebaya Surabaya belum memaksimalkan potensi pemain yang ada. Salah satu Bonek menyoroti pemanfaatan pemain lokal. “Lokalmu optimalkan jol! Kon lho nduwe Alfan Syuaib, ngosek pol arek iku, eman meh dipajang nang bench tok,” ujarnya.
Komentar lain menyentil kualitas pemain asing Persebaya Surabaya. “Pembinaan wis apik nemen. Pemain asing yang di atas standar cuma 2 orang,” ucap seorang Bonek. Ada pula kritik keras terhadap lambannya manajemen bergerak. “Bener-bener aneh iki klub, padahal enek kesempatan libur beberapa minggu, malah ora ndang-ndang meresmikan pelatih,” kata Bonek lainnya.
Sebagian suporter bahkan mempertanyakan prioritas klub. “Iki sidone balbalan ta pabrik bisnis? Kok admin e yapping terus adol tiket, sponsor, buka store,” tulis seorang Bonek.
Mulai dari bench hingga lapangan, Persebaya Surabaya menghadapi Borneo FC dalam kondisi serba terbatas. Laga ini akhirnya bukan hanya soal tiga poin, tetapi ujian ketahanan dan arah masa depan Green Force.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar