
Kesiapan Madrasah di Aceh untuk Pembelajaran Tatap Muka
Sebanyak 437 unit madrasah di berbagai kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi mulai bersiap melaksanakan pembelajaran tatap muka pada 5 Januari mendatang. Data yang dikumpulkan oleh Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh menunjukkan bahwa dari total 500 madrasah yang terdampak, sebanyak 437 sudah siap menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (PBM) secara langsung.
Semangat Pendidik dan Masyarakat
Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, menyampaikan bahwa mayoritas madrasah terdampak telah siap melaksanakan PBM. Ia menilai ini menunjukkan semangat luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak.
“Alhamdulillah, mayoritas madrasah terdampak sudah siap melaksanakan PBM. Ini menunjukkan semangat yang luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak kita,” ujar Khairul yang juga Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Aceh, Sabtu (3/12/2025).
Daftar Kabupaten dengan Madrasah Belum Siap
Meski demikian, masih ada 63 madrasah yang belum siap melaksanakan PBM. Daerah-daerah tersebut antara lain Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, dan Bener Meriah. Dari jumlah tersebut, 19 madrasah berada di Aceh Utara, 17 di Aceh Tamiang, dan 14 di Aceh Tengah. Sisanya, 7 madrasah di Pidie Jaya, 4 di Bireuen, dan 2 madrasah di Bener Meriah.
Kendala Utama yang Dihadapi
Menurut Khairul, kendala utama yang dihadapi meliputi belum rampungnya pembersihan ruang kelas dan halaman sekolah yang masih dipenuhi lumpur, ruang kelas yang tertimbun material banjir, hingga akses jalan menuju madrasah yang belum dapat dilalui. Di beberapa wilayah, madrasah juga masih digunakan sebagai lokasi pengungsian, serta terdapat kawasan yang berstatus siaga bencana, seperti di Bener Meriah.
Relokasi Tempat Pembelajaran
Khairul menjelaskan bahwa 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut karena banjir juga sudah siap melaksanakan PBM meski harus direlokasi ke tempat sementara, seperti masjid/meunasah, lapangan desa atau lapangan milik madrasah yang masih ada.
Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Relawan
Ia menyatakan bahwa Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta relawan untuk mempercepat proses pemulihan sarana dan prasarana madrasah. Upaya ini dilakukan agar seluruh peserta didik dapat segera kembali mengikuti pembelajaran secara aman dan nyaman.
“Kami terus melakukan pendampingan dan koordinasi agar madrasah yang belum siap dapat segera menyusul. Prinsipnya, PBM hanya akan dilaksanakan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman bagi peserta didik dan guru,” ujarnya.
Komitmen Kemenag Aceh
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan komitmen Kemenag dalam memastikan layanan pendidikan madrasah tetap berjalan, meski di tengah keterbatasan akibat bencana.
“Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, kami mendorong percepatan pemulihan sarana prasarana madrasah tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesiapsiagaan bencana,” katanya.
Ia juga mengapresiasi solidaritas berbagai pihak yang telah membantu proses pemulihan madrasah, mulai dari relawan, aparat pemerintah daerah, hingga masyarakat sekitar.
Harapan untuk Kembali Normal
Dengan berangsur pulihnya kondisi madrasah pascabencana, Kemenag Aceh berharap seluruh peserta didik dapat segera kembali mengikuti pembelajaran secara normal, sehingga hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi meski dalam kondisi darurat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar