
nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA.
Pemerintah terus berupaya mempercepat penyediaan tempat tinggal layak bagi pengungsi bencana di wilayah Sumatera. Hingga akhir Desember 2025, sebanyak 47.149 unit rumah mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan 29.542 unit Hunian Sementara (Huntara) atau sekitar 62,7% dari total kerusakan. Sementara itu, sisanya sebanyak 17.057 unit akan dikelola melalui skema Dana Tunggu Hunian (DTH).
Langkah percepatan ini dilakukan dengan sinergi antara Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) dan BUMN Karya untuk memastikan kehadiran negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di masa pemulihan. "Pelaksanaan huntara yang kami jalankan sesuai dengan arahan BNPB. Prioritas saat ini berada di Aceh Tamiang karena kesiapan lahan sudah terpenuhi," ujar Menteri Dody dalam rapat koordinasi pemulihan bencana di Aceh, Selasa (30/12/2025).
Wilayah Terdampak Terparah
Di Provinsi Aceh, yang menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 38.169 rumah rusak berat, pemerintah telah mengalokasikan pembangunan 28.236 unit Huntara. Saat ini, pembangunan di Kabupaten Aceh Tamiang sedang berlangsung dengan sistem modular yang memungkinkan pengerjaan cepat dan hasil yang kokoh.
Hingga Selasa siang, satu blok contoh Huntara yang terdiri dari 12 unit modular di Kompleks DPRK Aceh Tamiang telah selesai dibangun. KemenPU menargetkan sebanyak 7 blok yang mampu menampung 336 orang dapat rampung sepenuhnya pada Januari 2026 mendatang.
Selain di Aceh, KemenPU juga mendorong pembangunan Huntara di Sumatera Utara sebanyak 876 unit dan di Sumatera Barat sebanyak 430 unit. Dody menekankan bahwa kendala utama di kedua wilayah tersebut adalah percepatan kesiapan lahan dan dukungan logistik di lapangan yang terus diupayakan bersama pemerintah daerah.
Fasilitas yang Dilengkapi
Huntara yang dibangun tidak sekadar sebagai barak pengungsian, tetapi dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti dapur umum, area cuci, mushola, serta sarana sanitasi yang memadai. Secara teknis, bangunan dirancang menggunakan rangka baja ringan, papan semen, dan atap zincalume.
"Kami menggunakan sistem modular agar proses pembangunan cepat, aman, dan kokoh sehingga dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat," imbuh Dody.
Koordinasi Intensif
Dody memastikan koordinasi intensif dengan BNPB dan bupati setempat akan terus dilakukan agar seluruh warga yang rumahnya hilang atau rusak berat tidak terlalu lama berada di pengungsian darurat. "Ini bagian penting dalam fase tanggap darurat menuju pemulihan," pungkasnya.
Strategi Pembangunan
Beberapa strategi yang digunakan dalam pembangunan Huntara mencakup:
- Penggunaan sistem modular untuk mempercepat konstruksi
- Penyediaan fasilitas dasar seperti dapur umum, area cuci, dan sanitasi
- Kolaborasi dengan BUMN Karya dan pemerintah daerah untuk memastikan kelancaran logistik
- Penyesuaian desain bangunan agar tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem
Dengan pendekatan ini, KemenPU berharap mampu memberikan solusi jangka pendek yang efektif dan aman bagi para pengungsi. Pemulihan secara bertahap akan terus dilakukan hingga semua warga kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar