Bencana Banjir Bandang di Sumatra: Tanda Peringatan dari Alam
Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra sejak akhir November 2025 menjadi peringatan keras bagi manusia bahwa alam sedang tidak dalam keadaan baik. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah mitos, tetapi realitas nyata yang harus dihadapi. Namun, kecenderungan manusia untuk mengabaikan isu lingkungan adalah masalah universal. Dalam sebuah artikel di Harvard Business Review, Art Markman dari University of Texas at Austin menyampaikan argumen bahwa sikap abai terhadap lingkungan disebabkan oleh fakta bahwa dampak kerusakan lingkungan baru terlihat setelah jangka waktu yang panjang dan tidak langsung memengaruhi hidup sebagian besar manusia.
Seperti biasanya, manusia hanya akan bertindak ketika bencana tersebut benar-benar menimpa diri sendiri. Untuk menghindari menjadi bagian dari mereka yang tidak peduli, kamu bisa mencoba menonton film-film ekososial berikut. Film-film ini memberikan sudut pandang dari orang-orang yang terdampak langsung, sehingga mampu membuat kita merenung dan bersyukur atas apa yang kita miliki.
1. Still Life (2006)

Still Life mungkin menjadi tamparan keras bagi kita di Indonesia. Film ini berlatarkan kota Fengjiye di Tiongkok yang terkena banjir akibat pembangunan bendungan skala besar. Dampak sosial ekonomi dari bencana ekologi ini ditampilkan melalui dua kisah sekaligus. Salah satunya adalah seorang penambang batubara yang mencari keberadaan istrinya, sementara yang lainnya adalah seorang istri yang ingin tahu nasib suaminya yang jarang berkabar sejak merantau ke Fengjiye.
Still Life disutradarai oleh Jia Zhangke, yang dikenal dengan kemampuannya dalam menyajikan cerita-cerita bermuatan komentar sosial. Film ini termasuk dalam genre drama dan realisme sosial, dengan pemain seperti Han Sanming, Zhao Tao, dan Li Zhubing.
2. Evil Does Not Exist (2023)

Ryusuke Hamaguchi mengajak penonton menyelami kehidupan para penduduk desa di dekat Tokyo yang hidup secara slow-living. Bukan sekadar tren, mayoritas warga desa ini adalah penduduk asli yang memilih untuk hidup secukupnya. Namun, komitmen mereka untuk hidup harmonis dengan alam terancam oleh kedatangan investor yang ingin membangun penginapan komersial di area tersebut.
Film ini memiliki genre drama dan eco-fable, dengan pemain seperti Hitoshi Omika, Ryo Nishikawa, dan Ryuji Kosaka. Sutradara film ini adalah Ryusuke Hamaguchi.
3. Honeyland (2019)

Honeyland bercerita tentang manusia yang hidup harmonis dengan alam. Film ini mengisahkan Hatidze, seorang perempuan paruh baya di Makedonia Utara yang bertahan hidup sebagai peternak madu lebah liar. Hatidze sadar bahwa dirinya sangat bergantung pada alam dan ini mendorongnya untuk melakukan ekstraksi secara bijak.
Namun, kehidupannya berubah saat ia kedatangan tetangga baru yang mengadopsi gaya hidup nomaden. Berbeda dengan Hatidze, mereka lebih cenderung mengeksploitasi alam dan akan pindah ketika lingkungan tidak lagi mendukung kebutuhan mereka.
Genre film ini adalah dokumenter, dengan pemain utama Hatidze Muratova dan disutradarai oleh Tamara Kotevska serta Ljubomir Stefanov.
4. Let the River Flow (2023)

Let the River Flow mengambil latar Norwegia pada tahun 1970-an. Film ini menceritakan komitmen penduduk pribumi dalam melindungi kelestarian lingkungan. Namun, kesadaran mereka untuk menjaga alam tidak diimbangi dengan komitmen dari otoritas yang berwenang. Film ini ditulis dari sudut pandang Ester, seorang guru muda yang terlibat dalam aksi protes terhadap pembangunan bendungan yang bisa mengganggu aliran sungai alami dan merusak ekosistem.
Film ini memiliki genre drama dan sejarah, dengan pemain seperti Ella Marie Hætta Isaksen dan Gard Emil Elvenes. Disutradarai oleh Ole Giaever.
5. Woman at War (2018)

Dipadu dengan elemen komedi, Woman at War memberikan kritik lingkungan yang cukup menampar. Film ini mengisahkan aktivisme seorang perempuan paruh baya, Halla, yang menolak keberadaan pabrik aluminium di dekat tempat tinggalnya. Ia melakukan sabotase sendirian dan hampir membuat pengelola pabrik menyerah. Akhirnya, pabrik menemukan cara untuk melawan Halla, yaitu dengan menghalangi niatnya untuk mengadopsi anak.
Genre film ini adalah drama dan komedi, dengan pemain utama Halldora Geirharosdottir dan Jorundur Ragnarsson. Sutradara film ini adalah Benedikt Erlingsson.
Kesimpulan
Aksi peduli lingkungan kita mungkin tidak seberapa dampaknya dibandingkan dengan eksploitasi alam dan destruksi yang dilakukan pabrik dan perusahaan besar. Namun, film-film ini bisa menjadi pengingat bahwa kita bisa menjadi korban berikutnya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Apakah kamu sudah siap melawan Bumi yang marah?
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar