6 Fakta Sidang Korupsi Chromebook: Proyek Ditolak Muhadjir hingga Jaksa Sebut Nadiem Diperkaya Rp 80

Sidang Perdana Kasus Korupsi Pengadaan Laptop Chromebook

Sidang perdana kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook yang menjerat eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada Selasa (16/12/2025). Namun, agenda pembacaan surat dakwaan terhadap Nadiem ditunda karena ia tidak dapat hadir akibat sedang menjalani operasi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Agung, Roy Riady, menyampaikan bahwa Nadiem belum bisa mengikuti persidangan karena kondisi kesehatannya. Dalam sidang tersebut, jaksa hanya membacakan surat dakwaan untuk tiga terdakwa lainnya, yaitu Konsultan Teknologi Kemendikbudristek, Ibrahim Arief; Direktur SD dan PAUD Dikdasmen, Sri Wahyuningsih; dan Direktur SMP Mulyatsyah.

6 Hal yang Diungkap Jaksa dalam Sidang Korupsi Chromebook

1. Pengadaan Laptop Hanya untuk Memperkaya Nadiem

Dalam pembacaan surat dakwaan, jaksa menyatakan bahwa pengadaan laptop berbasis Chromebook semata-mata untuk kepentingan pribadi Nadiem. Ia disebut memperkaya diri sendiri hingga mencapai Rp 809,5 miliar.

Selain itu, Nadiem diketahui telah mengetahui bahwa laptop Chromebook tidak cocok digunakan oleh siswa dan guru di daerah 3T karena memerlukan sinyal internet yang stabil, yang belum merata di seluruh Indonesia.

2. Produk Chromebook Ditolak oleh Muhadjir

Dalam surat dakwaan, jaksa menyampaikan bahwa produk Chromebook pernah ditolak oleh mantan Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy, pada akhir 2018. Pada masa itu, Google ingin mempresentasikan produk mereka, namun uji coba menunjukkan bahwa Chromebook tidak lulus karena masalah akses internet.

3. 25 Pihak Diperkaya oleh Korupsi Chromebook

Kasus ini menyebabkan kerugian negara hingga Rp 2,1 triliun. Jaksa menyebut ada 25 pihak yang diperkaya, termasuk 12 pejabat di Kemendikbudristek. Beberapa di antaranya adalah:

  • Nadiem Makarim: Rp 809.590.125.000
  • Mulyatsyah: SGD 120.000 dan USD 150.000
  • Harnowo Susanto: Rp 300.000.000
  • Dhany Hamiddan Khoir: Rp 200.000.000 dan USD 30.000
  • Purwadi Susanto: USD 7.000
  • Suhartono Arham: USD 7.000
  • Wahyu Haryadi: Rp 35.000.000
  • Nia Nurhasanah: Rp 500.000.000
  • Hamid Muhammad: Rp 75.000.000
  • Jumeri: Rp 100.000.000
  • Susanto: Rp 50.000.000
  • Muhammad Hasbi: Rp 250.000.000
  • Mariana Susi: Rp 5,1 miliar
  • PT Supertone: Rp 44,963.438.116,26
  • ASUS: Rp 819.258.280,74
  • AXIOO: Rp 177.414.888.525,48
  • Lenovo: Rp 19.181.940.089,11
  • Zyrexx: Rp 41.178.450.414,25
  • HP: Rp 2.268.183.071,41
  • Libera: Rp 101.514.645.205,73
  • Evercross: Rp 341.060.432,39
  • Dell: Rp 112.684.732.796,22
  • Advan: Rp 48.820.300.057,38
  • Acer: Rp 425.243.400.481,05
  • Bhinneka Mentari Dimensi: Rp 281.676.739.975,27

4. Tujuan Nadiem Mengundurkan Diri dari Gojek

Jaksa mengungkap bahwa Nadiem mengundurkan diri dari PT Gojek dan PT AKAB agar terlihat tidak memiliki konflik kepentingan saat menjabat sebagai Mendikbudristek. Setelah mundur, ia menunjuk teman dekatnya untuk jabatan strategis.

Investasi Google ke PT AKAB juga disebut masuk sebelum Nadiem dilantik menjadi menteri. Pada 2017 dan 2019, Google melakukan investasi besar ke perusahaan Nadiem.

5. Nadiem Beri Instruksi untuk Gunakan Chromebook

Setelah dilantik menjadi Mendikbudristek, Nadiem menunjuk dua orang terdekatnya, Jurist Tan dan Fiona Handayani, untuk memberikan masukan terkait kebijakan pendidikan. Mereka juga terlibat dalam perencanaan pengadaan laptop.

Nadiem juga menunjuk Ibrahim Arief untuk membuat kajian teknis tentang spesifikasi laptop. Setelah pertemuan dengan Google, Nadiem memerintahkan untuk melanjutkan pengadaan Chromebook dengan instruksi "Go ahead with Chromebook".

6. Nadiem Pecat Pejabat yang Tak Ikuti Arahan

Nadiem memecat dua pejabat Eselon 2 di Kemendikbud karena tidak setuju dengan arahannya terkait pengadaan laptop. Salah satu pejabat yang diganti adalah Poppy Dewi Puspitawati, yang tidak setuju jika pengadaan merujuk kepada satu produk tertentu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan