64 Penulis Perempuan PGRI Ciamis Merilis Buku Antologi Perempuan Tangguh

64 Penulis Perempuan PGRI Ciamis Merilis Buku Antologi Perempuan Tangguh

Perempuan-perempuan Tangguh di Balik Karya Sastra

Sebanyak 64 penulis perempuan yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Ciamis meluncurkan buku antologi puisi dan cerpen berjudul Perempuan-perempuan Tangguh, Rabu (3/1/2026). Buku ini menjadi wadah ekspresi bagi para guru, kepala sekolah, pengawas hingga tenaga kependidikan di Ciamis, untuk menuangkan pengalaman hidup, peran ganda, serta ketangguhan perempuan dalam berbagai sudut pandang kehidupan.

Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PGRI Kabupaten Ciamis, Euis Cucu Sukmanah, menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil karya kolektif dari seluruh kecamatan di Ciamis. “Ini adalah antologi puisi dan cerpen yang ditulis oleh 64 perempuan PGRI Ciamis. Isinya menggambarkan peran perempuan, khususnya dalam dunia pendidikan, dari berbagai sisi kehidupan,” ujarnya saat diwawancarai usai peluncuran buku di Aula Gedung PGRI Kabupaten Ciamis.

Proses penulisan hingga terbitnya buku tersebut memakan waktu cukup panjang, yaitu sejak April hingga Desember 2025. Hal itu tak lepas dari mayoritas penulis yang merupakan penulis pemula. “Karena banyak penulis pemula, kami harus sabar mendampingi, memberi arahan, dan memotivasi. Tapi alhamdulillah akhirnya bisa terbit dan diluncurkan,” katanya.

Menariknya, Euis menyebut buku Perempuan-perempuan Tangguh ini menjadi pionir di lingkungan PGRI Jawa Barat. “InsyaAllah ini PGRI pertama di Jawa Barat yang menerbitkan buku antologi karya perempuan. Mudah-mudahan bisa berlanjut dan menjadi inspirasi daerah lain,” ucapnya.

Buku Perempuan-perempuan Tangguh dicetak terbatas sebanyak 104 eksemplar dengan harga Rp140 ribu per buku. Buku ini dapat dibeli oleh umum dan akan dicetak ulang jika permintaan meningkat. Euis juga menambahkan, penerbitan buku ini juga menjadi bagian dari penguatan budaya literasi di kalangan guru. “Harapannya, ini menjadi motivasi. Kalau sudah berani menulis di buku, berarti punya kepercayaan diri untuk terus berkarya ke depannya,” pungkas Euis.

Pengalaman dan Inspirasi di Balik Setiap Puisi

Salah satu penulis, Ely Mulyaningsih, yang juga Kasi Peserta Didik dan Pembinaan Karakter, mengungkapkan bahwa puisinya lahir dari realitas kehidupan sehari-hari seorang ibu. “Puisi saya bercerita tentang emak-emak rempong, ibu yang harus mengurus anak, pekerjaan rumah, dan pekerjaan kantor. Judulnya Buih dan Kaldu,” tuturnya.

Menurut Ely, inspirasi puisinya justru datang dari aktivitas sederhana yang kerap dianggap sepele. “Inspirasinya ya saat masak. Mau berangkat kerja masak dulu, pulang kerja masak. Di kantor masih mikirin masakan di rumah. Itu gambaran fleksibilitas dan peran perempuan di banyak tempat,” katanya.

Ely mengaku sempat ragu saat diminta mengirimkan karya karena sudah lama tidak menulis puisi. Namun kerepotan sehari-hari justru memantik kembali kreativitasnya. “Awalnya ragu, tapi saat mengasuh dan ingat kerepotan sehari-hari, tiba-tiba jadi puisi,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia menilai buku ini merepresentasikan kehidupan perempuan masa kini. “Puisi-puisi di buku ini menggambarkan sosok perempuan zaman sekarang. Karena puisi itu lahir dari rasa dan pengalaman hidup penulisnya sendiri,” tutupnya.

Semangat untuk Terus Berkarya

Buku antologi ini tidak hanya menjadi wadah ekspresi, tetapi juga menjadi bentuk dukungan untuk perempuan-perempuan yang ingin berkarya. Dengan adanya buku ini, diharapkan semangat menulis dan berkarya dapat terus berkembang, terutama di kalangan tenaga pendidik.

Dalam proses pembuatannya, setiap penulis memiliki cerita unik dan pengalaman pribadi yang menjadi dasar dari karyanya. Ini membuktikan bahwa kekuatan perempuan tidak hanya terlihat dari peran mereka sebagai guru atau ibu, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk menyampaikan pesan melalui sastra.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan