
Perjalanan Ibadah Jumat Sinuhun Hangabehi di Masjid Bersejarah
Pakubuwono XIV Hangabehi, Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, telah melaksanakan salat Jumat sebanyak tujuh kali secara berturut-turut di Masjid Agung Solo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya untuk menjaga dan merawat warisan budaya yang terkait dengan keraton. Setelah menyelesaikan rangkaian salat Jumat di masjid tersebut, ia berencana untuk melanjutkan perjalanan ibadah ke masjid-masjid lain yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Keraton Surakarta.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan sebagai bentuk peneguhan kembali hubungan antara keraton dengan masjid-masjid yang pernah didirikan di bawah pengaruhnya. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat benang merah warisan budaya yang telah lama terjalin.
“Kemarin, kalau tidak salah, disarankan takmir di sini. Akan dicoba menyambungkan kembali masjid-masjid yang didirikan oleh keraton. Tidak hanya Masjid Agung. Ke sini tujuh kali sudah cukup, yang lain disambung ke yang lain, kapan-kapan ke sini lagi,” ujarnya saat ditemui di Masjid Agung, Jumat (26/12/2025).
Menurut KPH Eddy, hingga kini tercatat sebanyak 57 masjid bersejarah di wilayah Solo Raya yang memiliki nilai historis kuat dan menjadi bagian penting dalam perjalanan budaya keraton. Ia menilai, menjalin kembali hubungan dengan masjid-masjid tersebut merupakan langkah penting dalam merawat jejak sejarah yang selama ini menghubungkan keraton dengan masyarakat.
Tidak Ada Ketentuan Baku dalam Ibadah Jumat
Meski salat Jumat di Masjid Agung Keraton Solo sebanyak tujuh kali berturut-turut disebut-sebut sebagai salah satu laku yang harus dilakoni oleh seorang raja, KPH Eddy menjelaskan bahwa tidak ada ketentuan baku mengenai hal tersebut.
“Tidak ada ketentuan harus berapa kali. Tapi tujuh ini dilewati dulu. Setelah itu nanti akan dilakukan kunjungan ke yang lain,” jelasnya.
Sinuhun Hangabehi tampil dengan beskap putih yang diiringi ratusan sentana dan abdi dalem saat menunaikan salat Jumat di Masjid Agung. KPH Eddy mengungkapkan bahwa beskap putih menyimbolkan kesucian dan kebersihan lahir dan batin.
“Putih itu katanya bersih, suci. Kalau ke masjid ini kita harus dibiasakan membersihkan lahir dan batin kita, semata-mata seperti Sinuhun ngendiko, saya ke masjid urusannya hanya berdoa menjalankan tugas saya sebagai orang muslim, jangan diwarnai yang lain-lain,” jelasnya.
Rencana Kunjungan ke Masjid-Masjid Lain
Dalam rencananya, Sinuhun Hangabehi akan melanjutkan perjalanan ibadah ke masjid-masjid lain yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Keraton Surakarta. Pemilihan masjid tersebut akan didasarkan pada nilai historis dan hubungan yang telah lama terjalin antara keraton dengan masyarakat setempat.
KPH Eddy menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya dan sejarah yang telah menjadi bagian dari identitas Keraton Surakarta. Dengan mengunjungi masjid-masjid bersejarah, diharapkan dapat memperkuat ikatan antara keraton dan masyarakat, serta memberikan wawasan tentang peran masjid dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Dengan langkah-langkah ini, Sinuhun Hangabehi menunjukkan komitmen untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai keagamaan yang telah lama menjadi bagian dari budaya keraton. Melalui kunjungan ke masjid-masjid bersejarah, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar