
Hari HIV/AIDS Internasional di Banjarbaru
Hari HIV/AIDS Internasional diperingati setiap 1 Desember. Di Banjarbaru, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, jumlah kasus HIV terus meningkat. Menurut data yang dirilis oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarbaru, Juhai Triyanti Agustina, pada periode 1 Januari hingga 30 November 2025, ditemukan sebanyak 88 kasus HIV baru. Rata-rata, setiap bulan terdapat delapan kasus baru yang teridentifikasi.
Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 87 kasus pada 2024. Dari total 88 kasus tersebut, 51 orang atau sekitar 57 persen merupakan warga kota Banjarbaru. Sementara itu, 37 orang lainnya berasal dari luar kota.
Salah satu faktor peningkatan temuan kasus adalah semakin mudahnya akses pemeriksaan kesehatan. Masyarakat kini lebih sadar akan pentingnya tes HIV dan bisa segera mendapatkan perawatan jika diperlukan. Juhai menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah untuk menangani masalah ini, termasuk deteksi dini pada ibu hamil, calon pengantin, serta populasi rentan lainnya.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga memastikan tata laksana kasus HIV/AIDS dilakukan di 10 puskesmas dan sembilan rumah sakit. Edukasi tentang HIV/AIDS juga dilakukan secara aktif melalui media sosial maupun kegiatan langsung di sekolah, lintas sektor, dan acara-acara lainnya. Contohnya, pada Sabtu (29/11), Dinkes memberikan penyuluhan kepada perwakilan mahasiswa, serta berbagi materi di kantor PLN.
Tidak hanya memberikan pengobatan, Juhai menyampaikan bahwa pihaknya juga memberikan dukungan psikososial kepada pengidap dan keluarganya. Hal ini bertujuan untuk membantu mereka menghadapi tantangan emosional dan sosial akibat diagnosis HIV.
Peran Psikolog dalam Menghadapi Perilaku Remaja
Firdha Yuserina, M.Psi, seorang psikolog dari Universitas Lambung Mangkurat, menyoroti peran perilaku remaja dalam peningkatan kasus HIV. Ia menjelaskan bahwa otak remaja belum sepenuhnya berkembang hingga usia 25 tahun. Akibatnya, dorongan emosional sering kali lebih kuat daripada pertimbangan logika. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap risiko seks bebas tanpa perlindungan.
Firdha menyayangkan kurangnya edukasi seksual di lingkungan sekolah dan rumah. Banyak orangtua masih menganggap topik seks sebagai hal tabu, padahal ketertutupan justru membuat anak-anak tidak memahami cara mencegah HIV. “Banyak dari mereka belum benar-benar paham bagaimana HIV menular dan mengapa kondom penting,” ujarnya.
Pengaruh Digital dan Stigma
Perkembangan teknologi digital juga turut memperparah masalah. Proses perkenalan yang cepat melalui aplikasi seperti Tinder atau Telegram membuat remaja merasa aman dalam hubungan intim. Namun, hal ini justru membuat mereka sulit mengendalikan impuls seksual karena tidak ada waktu untuk berpikir tentang risiko kesehatan.
Selain itu, stigma terhadap HIV masih sangat kuat. Banyak remaja lebih memilih tidak tahu status HIV-nya agar tetap merasa baik-baik saja. Firdha menjelaskan bahwa kurangnya informasi tentang tes HIV yang cepat dan rahasia membuat mereka ragu untuk mencari layanan kesehatan.
Pentingnya Pendekatan Edukatif
Firdha menekankan bahwa pendekatan yang paling efektif bukanlah melarang, tetapi memberikan pengetahuan. Ia menegaskan bahwa melarang tanpa edukasi justru membuat anak-anak mencari jawaban di tempat yang tidak terkendali. Dengan pendekatan yang tepat, remaja dapat memahami pentingnya kesadaran dan perlindungan diri.
Dalam pendampingannya, Firdha selalu memastikan bahwa pengidap HIV merasa aman dan tidak sendirian. Dukungan emosional, lingkungan sosial yang ramah, serta akses ke konseling menjadi fondasi penting agar mereka tetap optimis dan produktif.
Langkah Ke depan
Untuk mengurangi jumlah kasus HIV, diperlukan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Edukasi yang menyeluruh, akses layanan kesehatan yang mudah, serta upaya mengurangi stigma harus terus dilakukan. Dengan komitmen bersama, harapan besar dapat diwujudkan untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan sadar akan risiko HIV/AIDS.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar