
Kehadiran Warga Asing dalam Perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta
Amelia Hassan (22), seorang warga Somalia yang telah tinggal selama delapan tahun di Indonesia, merayakan tahun baru 2026 bersama dua kerabatnya di Bundaran HI. Mereka menikmati suasana Car Free Night meski hujan, dengan berbagai aktivitas seperti kulineran, belanja, foto-foto, dan pertunjukan tanpa kembang api.
Pemprov DKI Jakarta memutuskan untuk tidak mengadakan pesta kembang api sebagai bentuk empati terhadap bencana banjir yang terjadi di Sumatera dan Aceh. Hal ini menjadi salah satu perubahan signifikan dari tradisi sebelumnya, namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat dalam merayakan pergantian tahun.
Amelia, yang selama delapan tahun tinggal di Indonesia, tidak pernah absen merayakan malam pergantian tahun. Tahun ini, ia membawa dua kerabatnya, Nastexo dan Sabrin, yang juga berasal dari Somalia, untuk ikut serta dalam perayaan tersebut. Di tengah gerimis di Bundaran HI, Rabu (31/12/2025), ketiganya berjalan bersama lautan manusia dalam momen Car Free Night.
"Sebelumnya saya juga ke sini. Sekarang saya bawa saudara saya. Ya, kulineran, belanja, foto-foto," kata Amelia saat ditemui Tribunnews di lokasi.
Mengenakan jilbab, ketiga perempuan itu tengah melihat-lihat berbagai macam pertunjukan di Bundaran HI. "Ada musik, ada city light, macam-macam ya, bagus," tambahnya.
Meski berbeda dari tahun lalu, Amelia mengatakan tetap senang bisa menikmati pergantian tahun di Indonesia. Hujan dan basahnya jalan tidak menyurutkan kesenangannya. Ia membawa beberapa makanan ringan di tangannya sembari sesekali melahap makanan itu.
Sabrin dan Nastexo tampak bercakap-cakap dengan bahasa negara asal mereka, seraya menunjuk-nunjuk ke arah Patung Selamat Datang.
Perubahan dalam Tradisi Pergantian Tahun
Dalam perayaan Tahun Baru kali ini, Pemprov DKI Jakarta tidak memperbolehkan masyarakat Jakarta untuk melakukan pesta kembang api seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan ini diambil oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai salah satu sikap warga Jakarta berempati terhadap para korban bencana banjir bandang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
"Tahun ini kami memilih tidak ada kembang api. Kita ingin menyambut tahun baru dengan doa bersama, karena musibah yang terjadi menyangkut kita semua," jelasnya.
Meskipun demikian, Pramono mengakui bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak dapat sepenuhnya melarang aktivitas masyarakat secara personal yang menyalakan kembang api atau petasan. Namun, kebijakan ini tetap menjadi langkah penting untuk menunjukkan rasa empati terhadap korban bencana.
Aktivitas yang Tetap Menarik
Meskipun tidak ada kembang api, suasana di Bundaran HI tetap ramai dan penuh semangat. Banyak pengunjung yang datang untuk menikmati berbagai pertunjukan dan aktivitas yang tersedia. Mulai dari musik, tarian, hingga pameran seni, semuanya memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, banyak penjual makanan dan minuman yang menjajakan dagangan mereka di sekitar Bundaran HI. Pengunjung dapat membeli berbagai jenis makanan lokal maupun internasional, termasuk camilan ringan yang dibawa oleh Amelia.
Kesimpulan
Perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan dalam tradisi, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Dengan adanya kebijakan larangan kembang api, masyarakat lebih fokus pada aktivitas yang lebih aman dan bermanfaat. Selain itu, kehadiran warga asing seperti Amelia Hassan menunjukkan bahwa budaya Indonesia semakin inklusif dan mampu menerima berbagai kalangan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar