Abah Guru Sekumpul Ziarahi Makam Syekh Abu Hamid di Ujung Pandaran

Perjalanan Spiritual Abah Guru Sekumpul ke Makam Syekh Abu Hamid

Selama hidupnya, Abah Guru Sekumpul pernah melakukan perjalanan spiritual yang sangat berarti. Salah satu perjalanan tersebut adalah ketika ia berkunjung ke Bumi Tambun Bungai. Pada tanggal 9 November 1993, Abah Guru Sekumpul berhasil menziarahi makam Syekh Abu Hamid di tepi Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Syekh Abu Hamid bin Muhammad As’ad Al-Banjari dikenal sebagai salah satu buyut dari Jaddina Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang lebih dikenal dengan Datu Kelampayan. Ia adalah seorang ulama besar dari Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), sekaligus pengarang kitab legendaris Sabilal Muhtadin.

Makam Syekh Abu Hamid Al-Banjari yang wafat pada 25 Januari 1885 menjadi tujuan ziarah dari berbagai penjuru. Puncak perhatian terhadap makam ini terjadi ketika ulama karismatik dari Kalimantan Selatan, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul, datang menziarahi makam tersebut pada 9 November 1993.

Pada saat itu, Abah Guru Sekumpul dan rombongannya tiba menggunakan speed boat dari Sampit. Mereka disambut antusias oleh para ulama dan masyarakat setempat. Gusti Azi Burahman Al Arsyadi, Ketua Dewan Pengurus Daerah Jam’iyah Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, mengingat peristiwa tersebut dengan jelas.

Menurutnya, kala itu Guru Sekumpul tampak sangat terburu-buru untuk bisa sampai ke makam tersebut. Sesampainya di sana, ia beserta rombongan dan masyarakat yang turut hadir langsung memanjatkan tawasul dan maulid di makam Syekh Abu Hamid.

“Begitu sampai beliau langsung ke makam. Beliau seperti sudah ditunggu oleh ahlil kubur itu,” ujarnya.

Setelah melaksanakan ziarah ke makam, Guru Sekumpul langsung mengajak semua yang ikut dari Sampit agar segera kembali ke Kota Sampit. Mereka yang kala itu ikut dalam rombongan, langsung menaiki speed boat dan bergegas kembali. Ternyata tidak lama setelah mereka pulang, wilayah laut Ujung Pandaran dilanda gelombang besar.

“Beliau langsung menyuruh dan memberikan isyarat untuk segera kembali ke kota. Ternyata setelah sampai kota tidak lama di laut itu ada gelombang besar. Memang itu luar biasa karomah beliau,” katanya.

Keistimewaan Syekh Abu Hamid dalam Silsilah Keilmuan

Menurut Prof. Dr. H. Khairil Anwar, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah, Syekh Abu Hamid bukan sekadar sosok biasa. Ia merupakan bagian dari silsilah keilmuan dan spiritual besar yang dikenal sebagai Syajaratul Arsadiyah, keturunan dari Syekh Arsyad Al-Banjari, ulama besar penyebar Islam di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

“Istimewanya, makam beliau ini pernah diziarahi oleh almarhum Guru Sekumpul atas petunjuk dari Guru Haji Muhammad Irsyad. Ini menunjukkan bahwa keberadaan makam beliau mendapat pengakuan dari para ulama besar di Kalimantan,” jelasnya.

Meskipun dokumentasi sejarah tertulis mengenai sosok Abu Hamid masih sangat terbatas dan sebagian besar informasi hanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, pengaruh beliau tetap dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Penyebaran Islam di Borneo

Masyarakat setempat meyakini keberadaan Syekh Abu Hamid sebagai bagian dari rangkaian penyebaran Islam di Borneo, terutama melalui keturunan dan jejaring keulamaan Arsadiyah.

“Sejarah ini memang banyak berasal dari mulut ke mulut, belum banyak ditemukan sumber tertulis otentik. Tapi di kalangan ulama dan masyarakat yang memahami silsilah Syajaratul Arsadiyah, keberadaan Syekh Abu Hamid tidak diragukan,” tambah Prof. Khairil.

Beberapa peneliti sejarah lokal mengatakan bahwa nama Abu Hamid belum banyak disebut dalam literatur populer atau ensiklopedia daring seperti Wikipedia. Oleh karena itu, penting untuk menggali sejarah ini dari para pewaris ilmu dan keturunan yang memahami silsilah dan perjalanan para wali di Kalimantan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan