
Perpanjangan Masa Tanggap Darurat Bencana di Aceh
Pemerintah Aceh memperpanjang masa tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 25 Desember 2025. Hal ini dilakukan setelah jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor mencapai 407 orang. Penetapan tersebut disampaikan dalam rapat perpanjangan status darurat bencana yang digelar di Pendopo Gubernur Aceh, Rabu (10/12/2025) malam.
Rapat dipimpin oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, yang didampingi Sekda Aceh, M Nasir dan sejumlah unsur forkopimda lainnya. Perpanjangan status ini diperlukan karena penanganan bencana masih membutuhkan kerja intensif, terpadu, dan terkoordinasi, terutama dalam evakuasi, distribusi logistik, serta pembenahan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.
Perpanjangan status tanggap darurat berlaku selama 14 hari, mulai 12 hingga 25 Desember 2025, dan dapat diperpanjang atau dipersingkat sesuai kebutuhan di lapangan. Dalam rapat tersebut, Gubernur Aceh menyatakan bahwa kondisi bencana masih membutuhkan penanganan secara intensif, terpadu, terintegrasi, dan terkoordinasi.
Kondisi Terkini Penanganan Bencana
Sekda Aceh, M. Nasir, melaporkan kondisi terkini penanganan bencana hingga hari ke-13. Total warga terdampak mencapai 490.290 orang, sementara data kumulatif menunjukkan 1.951.426 jiwa terdampak. Korban luka berat mencapai 479 orang, luka ringan sebanyak 3.845 orang, dan 407 orang meninggal dunia.
Selain itu, terdapat 2.086 titik pengungsian yang masih aktif. Meski terjadi penurunan signifikan pada jumlah pengungsi, kebutuhan penanganan tetap besar. Data sementara juga menunjukkan kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik yang cukup parah. Beberapa contohnya adalah:
- Perkantoran: 258 unit
- Sekolah: 266 unit
- Pondok pesantren: 15 unit
- Jalan: 461 titik
- Jembatan: 332 unit
- Tempat ibadah: 207 unit
- Rumah rusak (ringan–berat): 157.318 unit
- Ternak hilang/mati: 186.868 ekor
- Sawah terdampak: 89.289 ha
- Kebun rusak: 14.725 ha
Di beberapa lokasi, terutama Simpang KKA dan wilayah Bener Meriah, kerusakan jembatan tergolong parah akibat longsoran tanah.
Pentingnya Sinkronisasi Data Korban
Sekda Aceh menegaskan pentingnya sinkronisasi data korban, terutama terkait laporan warga hilang yang telah ditemukan namun belum diperbarui di tingkat kabupaten/kota. “Kami butuh data yang benar-benar mutakhir,” ujarnya.
Proses evakuasi diperkirakan memerlukan 2–3 hari lagi. BPBD juga berencana merekrut relawan lokal untuk mempercepat evakuasi di gampong masing-masing. Distribusi logistik disebut tidak akan berhenti hingga warga kembali ke rumah.
Pemulihan Akses sebagai Prioritas Utama
Pemulihan akses menjadi prioritas utama. Sekda mengaku akan meninjau langsung jembatan di Awe Geutah dan Bener Meriah. “Laporan PUPR menyebut tinggal delapan kilometer lagi sebelum masuk wilayah Bener Meriah. Kita kejar konektivitas ini agar pasokan logistik wilayah tengah tidak terganggu,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar