Aditya Edo Ardianto, Pahlawan Penyelamat Santriwati Tenggelam di Sungai Lusi Blora

Aditya Edo Ardianto, Pahlawan Penyelamat Santriwati Tenggelam di Sungai Lusi Blora

Aksi Heroik Aditya Edo Ardianto Menyelamatkan Dua Santriwati di Sungai Lusi

Pada pagi hari Kamis (11/12/2025), kejadian tak terduga terjadi di Sungai Lusi, Kedungjenar, Kecamatan Blora. Saat itu, Aditya Edo Ardianto, seorang pemuda berusia 25 tahun, terbangun dari tidurnya setelah mendengar teriakan minta tolong dari arah sungai. Rumah keluarganya yang terletak tepat di pinggir sungai menjadi saksi peristiwa ini.

Edo langsung bergegas menuju lokasi dan menemukan dua perempuan yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah aliran air yang deras. Kedua perempuan tersebut berpegangan pada batang bambu untuk menghindari terbawa arus. Ia segera berusaha membantu salah satu dari mereka.

Mencoba Menolong dengan Kayu

Edo mengambil sebatang kayu dan menyodorkannya kepada perempuan yang berada di dekatnya. Namun, kayu yang digunakan patah akibat tekanan arus sungai. Akibatnya, korban hanyut terbawa arus. Tanpa ragu, Edo kembali terjun ke dalam air dan mengejar korban tersebut. Ia berhasil memegang korban dan mendorongnya ke tepian barat Sungai Lusi.

Setelah tiba di tepi, perempuan itu dibantu oleh warga lainnya dan dievakuasi ke pemukiman warga. Edo kemudian berusaha membantu penyelamatan perempuan yang kedua. Di tempat tersebut, beberapa warga sudah berada di lokasi dan mencoba menolong.

Bantuan dengan Tali

Edo ikut membantu dengan mengambil tali dan melewati sungai untuk menarik korban ke tepian. Ia berhasil memindahkan korban ke atas tepi sungai. Aksi heroik Edo ini berhasil menyelamatkan dua santriwati dari delapan santriwati yang tenggelam di Sungai Lusi.

Saat itu, ada delapan santriwati dari Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tahfidzul Qur'an Al Maa'uun Blora yang tenggelam. Hingga siang Jumat (12/12/2025), tiga di antaranya selamat, dua ditemukan meninggal dunia, dan tiga lainnya masih dalam pencarian.

Cedera Saat Proses Pencarian

Setelah berhasil menyelamatkan dua santriwati, Edo tetap melanjutkan upaya pencarian korban yang belum ditemukan. Sayangnya, saat proses pencarian berlangsung, kaki Edo terkena pecahan kaca di dasar sungai. Ia mengungkapkan bahwa cedera ini membuatnya harus mengenakan perban.

Aksi Edo tidak hanya membuktikan keberaniannya, tetapi juga ketegasan dalam menghadapi situasi darurat. Dengan tindakan spontan dan cepat, ia berhasil menyelamatkan nyawa dua orang yang hampir saja hilang dalam aliran air yang deras.

Peran Warga Sebagai Penolong

Selain Edo, banyak warga sekitar juga turut serta dalam proses evakuasi dan pencarian. Mereka memberikan bantuan baik secara fisik maupun moral kepada korban dan keluarga mereka. Kerja sama antara warga dan petugas darurat menjadi kunci dalam menjalankan operasi penyelamatan.

Kisah ini menjadi contoh bagaimana kesadaran dan tindakan cepat dari individu dapat memengaruhi hasil dari suatu kejadian tragis. Semangat kebersamaan dan rasa empati terlihat jelas dalam tindakan para warga dan Edo sendiri.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan