
Penurunan Permukaan Tanah di Bandung dan Dampaknya pada Banjir
Di wilayah Bandung Selatan, kondisi penurunan permukaan tanah telah menjadi isu penting yang memengaruhi keberlangsungan hidup masyarakat setempat. Ahli Geodesi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Harry Andreas, mengingatkan pemerintah untuk melakukan pemodelan banjir yang akurat sebelum mengambil kebijakan terkait relokasi warga.
Menurut Harry, penurunan permukaan tanah ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah banjir tahunan di kawasan tersebut. Pemda Jawa Barat menyatakan bahwa permukaan tanah di Bandung lebih rendah daripada permukaan air, sehingga membuat wilayah-wilayah tertentu seperti Dayeuhkolot, Gedebage, dan Rancaekek menjadi cekungan yang mudah tergenang saat hujan deras.
Fenomena Penurunan Tanah yang Terus Berlangsung
Harry menjelaskan bahwa fenomena penurunan tanah ini bersifat tahunan dan bisa mencapai 10 sentimeter per tahun. Artinya, dalam tiga tahun saja, penurunan bisa mencapai 30 sentimeter. Hal ini sangat berdampak pada struktur geografis wilayah dan tingkat risiko banjir.
Penyebab utamanya adalah eksploitasi air tanah secara berlebihan oleh berbagai pihak, termasuk industri, masyarakat, dan lembaga penyedia air. "Jadi kalau saya bilang itu ya sudah eksploitasi (air tanah) berjamaah lah sekarang mah," ujarnya.
Pentingnya Simulasi dan Pemodelan Sebelum Keputusan Akhir
Menanggapi rencana pemerintah untuk merelokasi warga terdampak banjir, Harry menegaskan bahwa setiap kebijakan harus didasarkan pada simulasi dan pemodelan yang akurat. Menurutnya, sebelum menentukan relokasi, pemerintah perlu melakukan kajian pemodelan performa desain yang mempertimbangkan beberapa aspek, antara lain:
- Curah hujan
- Arah aliran air
- Kapasitas tampung wilayah
- Tingkat subsiden yang terjadi
"Ya harusnya kan itu bisa dibuatkan simulasi nya dulu ya, nanti curah ujannya berapa kemudian lari kemana? harus dipastikan dulu. Setelah itu baru dikasih opsi-opsi pilihan. Jadi harus berbasis performa desain gitu, nanti setelah itu baru kita memutuskan," katanya.
Ia juga menyoroti bahwa tidak boleh langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan hipotesis. "Nah itu masih jumping into conclusion-lah kalau saya bilang," tambahnya.
Studi yang Sudah Ada dan Perlu Kajian Lebih Mendalam
Harry menyebut bahwa sudah ada beberapa studi terkait subsiden dan cekungan banjir. Namun, kajian komprehensif yang menggabungkan subsiden, hidrologi, serta skenario desain penanganan banjir masih perlu dilakukan lebih mendalam.
Ia berharap pemerintah mulai menangani persoalan banjir dengan pendekatan ilmiah berbasis data dan pemodelan yang terukur. Dengan pemahaman mekanisme banjir yang tepat, keputusan penanganan dapat lebih efektif dan tepat sasaran.
"Ya harapan saya kita mulai melihat mekanismenya, kemudian memodelkan mekanismenya, baru nanti keputusan-keputusan itu berbasis dari pemodelan yang dibuat dengan data-data yang akurat tentunya, sehingga lebih terukur," harapnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar