Ahli tambang: Pembatasan Produksi Nikel Saprolit Lebih Kritis

Kebijakan Produksi Nikel dan Perbedaan Jenis Bijih

Ahli pertambangan di Indonesia menyoroti wacana pemerintah terkait pemangkasan produksi nikel pada 2026. Mereka berpendapat bahwa kebijakan tersebut tidak seharusnya diterapkan secara seragam terhadap semua jenis bijih nikel. Saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengkaji wacana pembatasan produksi nikel untuk tahun depan. Tujuan dari langkah ini adalah menjaga keseimbangan pasar, namun hingga saat ini belum ada angka pasti yang dirilis oleh pihak terkait.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, menilai bahwa pendekatan seragam terhadap semua jenis bijih nikel tidak tepat. Ia menjelaskan bahwa cadangan nikel laterit Indonesia terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu nikel limonit dan nikel saprolit. Kedua tipe ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, baik dari segi kadar, mineralogi, maupun teknologi pengolahannya.

Perbedaan Karakteristik Bijih Nikel

Nikel limonit umumnya berada di lapisan paling atas dari profil laterit dan memiliki kadar nikel yang relatif rendah, berkisar di bawah ±1,3% Ni. Selain itu, kandungan besi dan kadar airnya tinggi, sementara magnesium relatif rendah. Dengan karakteristik tersebut, bijih limonit tidak ekonomis untuk diolah melalui jalur peleburan (pirometalurgi). Sebaliknya, limonit merupakan bahan baku utama untuk pabrik hidrometalurgi, khususnya teknologi high pressure acid leach (HPAL) yang menghasilkan produk antara atau produk akhir seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) atau mixed sulphide precipitate (MSP). Produk ini sangat strategis karena menjadi bahan baku industri baterai kendaraan listrik.

Sementara itu, nikel saprolit berada pada lapisan di bawah limonit dan memiliki kadar nikel yang lebih tinggi, umumnya di atas ±1,5% Ni, dengan kandungan magnesium yang tinggi dan besi yang rendah. Jenis bijih ini sangat cocok untuk pengolahan pirometalurgi atau smelter, yang menghasilkan produk seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel, yang selama ini menjadi tulang punggung industri stainless steel.

Rekomendasi Pembatasan Produksi

Sudirman menegaskan bahwa pembatasan produksi lebih relevan dipertimbangkan pada nikel saprolit berkadar tinggi karena ketahanan cadangannya yang relatif lebih rentan. Jumlah cadangan nikel saprolit diperkirakan hanya bertahan sekitar 10 tahun. Sebaliknya, nikel limonit justru sebaiknya tidak dibatasi. Limonit adalah bijih berkadar rendah yang secara historis di banyak perusahaan tambang bahkan masih dianggap sebagai overburden atau material.

Selain itu, ketahanan cadangan nikel tipe ini secara nasional juga lebih baik karena mampu memasok kebutuhan pabrik lebih dari 20 tahun.

Kebutuhan Bijih Nikel Tahun 2026

Hingga 2024, di sejumlah wilayah di Indonesia telah beroperasi sebanyak 61 pabrik dengan teknologi pirometalurgi serta sebanyak 12 pabrik pengolahan dengan teknologi hidrometalurgi. Selain yang telah beroperasi, ada tambahan sekitar 51 pabrik RKEF yang saat ini sedang konstruksi dan 24 pabrik hidrometalurgi yang sedang dibangun.

Untuk memenuhi kebutuhan kedua jenis pabrik pengolahan tersebut, pada 2026, diperkirakan akan dibutuhkan bijih nikel tipe saprolit berkisar 220 juta hingga 240 juta ton, sedangkan untuk nikel limonit sebanyak sekitar 120 juta ton.

Konsekuensi Pembatasan Produksi Limonit

Jika produksi limonit dibatasi, maka akan terjadi dua konsekuensi yang justru merugikan, berupa meningkatnya biaya penambangan karena overburden tidak dapat dimonetisasi, kehilangan potensi royalti, serta terhambatnya pasokan bahan baku untuk industri HPAL yang menjadi fondasi hilirisasi nikel menuju ekosistem baterai dan kendaraan listrik.

Dari perspektif keberlanjutan cadangan, pemanfaatan limonit justru meningkatkan efisiensi sumber daya karena memungkinkan seluruh profil laterit dimanfaatkan secara optimal, bukan hanya lapisan berkadar tinggi. Menurut Sudirman, hal ini sejalan dengan prinsip good mining practice dan kebijakan hilirisasi yang bertujuan menciptakan nilai tambah maksimum di dalam negeri.

Pendekatan Kebijakan yang Ideal

"Dengan demikian, pendekatan kebijakan nikel Indonesia idealnya bersifat berbasis tipe bijih dan teknologi pengolahan. Nikel saprolit dan limonit memiliki fungsi strategis yang berbeda dalam rantai nilai industri," imbuhnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan