
Penambangan Batu Granodiorit di Baseh, Banyumas Menjadi Perhatian
Aktivitas penambangan batu granodiorit di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas kini menjadi perhatian publik dan viral. Wilayah ini berada di sekitar kaki Gunung Slamet, yang memiliki potensi geologi yang kompleks. Ketua Tim Pendirian Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Ir Adi Candra ST MT, menyatakan bahwa isu tambang kini menjadi topik hangat di wilayah tersebut.
Menurutnya, masyarakat awam mengenal kegiatan tersebut sebagai tambang batu. Namun, secara geologi, wilayah itu menyimpan berbagai produk gunungapi seperti piroklastik (tuff, lapilli/pasir, hingga bongkah/agglomerat) serta batuan beku lava/intrusi seperti basalt, andesit, diorit, dan mikrodiorit.
Permintaan Batu untuk Pembangunan Meningkat
Permintaan akan batu untuk pembangunan semakin tinggi seiring pesatnya pertumbuhan infrastruktur pemerintah dan swasta. Lokasi tambang yang dekat dengan area proyek menjadi alasan ekonomis karena menekan biaya transportasi. Namun, Adi Candra menyoroti persoalan serius soal metode penambangan yang sering hanya mengambil batu dari bagian bawah tebing, karena dianggap paling mudah.
Pola seperti itu membuat bentuk morfologi tambang berubah menjadi tebing terjal, yang memicu kekhawatiran warga terhadap risiko longsor maupun banjir. Ia menegaskan bahwa desain tambang harus mengacu pada kondisi geologi dan penyebaran batuan, bukan hanya pada kemudahan mengambil material.
Metode Penambangan yang Lebih Aman
Pengambilan batu seharusnya dimulai dari bagian bawah, tetapi diprioritaskan ke bagian atas sehingga lereng dapat dibentuk menjadi tangga (benches). Metode ini penting untuk mengurangi kemiringan tebing, meminimalkan potensi longsor, meningkatkan efisiensi dan efektivitas penambangan.
Apabila penambangan hanya dilakukan di area bawah, terbentuklah dinding besar yang dapat menampung air. Kondisi ini sangat berbahaya saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi singkat. Adi Candra mengingatkan bahwa akumulasi air dalam cekungan bentukan tambang menjadi salah satu pemicu bencana, seperti banjir bandang yang belum lama ini melanda sejumlah provinsi di Sumatra.
Penambangan di Baseh Dihentikan Sementara
Adi Candra menegaskan, masyarakat Banyumas tentu tidak ingin peristiwa serupa terjadi di wilayah lereng Gunung Slamet. Karena itu, perubahan metode penambangan menjadi keharusan agar morfologi tambang tetap aman dan tidak menimbulkan kantong air berbahaya. Penambangan dengan membuat lereng bertangga akan menghilangkan dinding terjal dan mengurangi potensi akumulasi air hujan di bukaan tambang.
Kasus Baseh menjadi gambaran tata kelola tambang di lereng Gunung Slamet harus diawasi ketat, tidak hanya dari sisi perizinan, tetapi juga implementasi teknis di lapangan. Operasional tambang di Baseh yang dikelola PT Dinar Batu Agung resmi dihentikan sementara setelah tim gabungan menemukan sejumlah pelanggaran teknis di lapangan.
Penertiban Dilakukan Usai Inspeksi
Penertiban telah dilakukan usai inspeksi digelar Rabu (29/10/2025) yang lalu dan melibatkan Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Slamet Selatan, Mahendra Dwi Atmoko, bersama Satpol PP dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas. Meski perusahaan memiliki izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi yang berlaku hingga Oktober 2026, hasil pengecekan menunjukkan kondisi teknis yang dianggap membahayakan.
"Kami temukan lereng tambang yang curam dan tidak teratur, serta aliran air keruh tanpa kolam pengendapan. Ini tidak sesuai dengan standar teknis," kata Mahendra. Menurutnya, penghentian sementara adalah tindak lanjut dari dua surat peringatan yang telah diterbitkan sepanjang 2025. Kunjungan terbaru ini sekaligus menjadi peringatan ketiga.
Tanggung Jawab Perusahaan
Penutupan dilakukan agar pengelola menata ulang area tambang untuk mengurangi risiko longsor. Bila tak ada perbaikan signifikan, izin operasi terancam dicabut permanen. Komisaris PT Dinar Batu Agung, Hamdani, mengatakan pihaknya kooperatif terhadap kebijakan pemerintah. "Tanpa disuruh pun, kami sebenarnya sudah menghentikan operasi dan sedang memperbaiki jalan tambang. Kami juga terbiasa melakukan reklamasi di area yang sudah tidak produktif," ujarnya.
Tambang seluas 9,4 hektar itu memproduksi batu granodiorit untuk kebutuhan pembangunan jalan, trotoar, hingga berbagai proyek konstruksi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar