Air mata dan harapan di Desa Bair Tapteng, longsor dan banjir hancurkan satu kampung, 7 tewas

Air mata dan harapan di Desa Bair Tapteng, longsor dan banjir hancurkan satu kampung, 7 tewas

Desa Bair, Sebuah Kehilangan yang Tak Terlupakan

Desa Bair, yang dahulu dikenal dengan keindahan alamnya dan air terjun Aloban Bair, kini berubah menjadi saksi bisu dari bencana yang menimpa warganya. Sungai yang dulu jernih dan mengalir tenang kini telah mengering, digantikan oleh tanah merah yang bercampur kayu-kayu gelondongan akibat longsoran yang terjadi beberapa waktu lalu.

Desa ini terletak di Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah. Dulu, desa ini merupakan tempat yang sejuk dan penuh pepohonan hijau. Namun kini, hanya tinggal sisa-sisa dari sebuah perkampungan yang lenyap akibat longsor dan banjir bandang pada Selasa, 25 November lalu.

Bencana tersebut menewaskan tujuh orang warga desa. Saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap empat korban yang belum ditemukan. Di lokasi, para keluarga korban berharap-harap cemas sambil melihat anjing pelacak mencari aroma mayat di dalam tanah. Mereka juga menyaksikan personel yang sedang menggali tanah yang menimbun pemukiman.

Salah satu korban adalah Irma Yanti, yang duduk bersama anaknya sambil melihat ke arah rumah Abang kandung dan kakak iparnya yang tertimbun tanah. Ia mengatakan bahwa ia hanya ingin melihat sisa-sisa rumah tersebut. Meskipun Abang dan kakak iparnya sudah ditemukan kemarin, ia masih merasa kaget dan tidak percaya dengan kejadian yang terjadi.

Sementara itu, Elisabet Hutabarat (20) duduk di atas batu bekas bencana sambil memegang ranting kayu. Matanya terlihat kosong, mengawasi tumpukan kayu dan tanah yang digali oleh tim SAR. Ia menangis ketika mendengar petugas menemukan kursi roda milik ayahnya. Meski begitu, hingga saat ini jasad ayahnya belum juga ditemukan.

Oloan Hutagalung, salah satu warga yang menjadi korban dan saksi bencana, menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi. Pada malam hari, longsor pertama terjadi, lalu dua jam kemudian longsor yang lebih besar menghancurkan seluruh perkampungan. Sekitar 27 rumah warga hilang terbawa banjir dan longsor.

Kendala utama dalam proses pencarian adalah tidak adanya alat berat untuk membersihkan akses jalan menuju desa. Jalan yang ambles dan tertutup kayu gelondongan membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit. Selain itu, cuaca yang buruk dan medan yang terjal juga menjadi tantangan bagi tim SAR.

Babinsa Kecamatan Tapian Nauli, Sersan Dua (Serda) Armin Simanjuntak, mengatakan bahwa kendala utama adalah kurangnya alat berat dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Meskipun alat berat telah tiba, proses pembersihan akses jalan masih terus dilakukan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan