Kehilangan yang Menyedihkan
Erawati, seorang pekerja migran Indonesia di Hong Kong, menjadi korban kebakaran besar yang terjadi di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po. Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarganya, khususnya suaminya, Suyitno, yang masih berusaha tegar menceritakan detik-detik terakhir komunikasinya dengan sang istri.
Video Call Terakhir
Meski berusaha terlihat kuat, suara Suyitno bergetar setiap kali ia mengingat kembali panggilan video yang menjadi percakapan terakhir mereka. Di hari kejadian, telepon itu datang dengan suara panik dan napas yang terengah. Namun, ada keberanian yang tak biasa dalam suaranya, yaitu keberanian seorang perempuan yang berjuang di tengah situasi genting.
Dalam panggilan video tersebut, Erawati memberitahu bahwa apartemen tempat ia bekerja telah dipenuhi asap pekat. Api yang berasal dari lantai bawah menjalar dengan cepat, mengepung lantai tempat ia berada. Ia sudah mencoba mencari jalur keluar, tetapi setiap akses telah tertutup kobaran api.
"Bilang kalau terjebak dalam apartemen itu, soalnya kan dari bawah kebakarannya. Mau keluar sudah tidak bisa lagi, apinya terlalu besar," kata Suyitno dalam tayangan Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Senin (1/12/2025).

Gendong Bayi Majikan
Suyitno mengingat jelas bagaimana istrinya, dalam kondisi panik dan penuh ketakutan, tetap memikirkan keselamatan bayi majikannya. Di layar ponsel, terlihat Erawati menggendong bayi tersebut erat-erat sambil menutupi hidung mereka berdua dengan sepotong kain basah. Ia berusaha menjaga ketenangan si kecil, meski dirinya sendiri semakin sulit bernapas.
Dalam momen yang memilukan itu, Erawati meminta maaf kepada suaminya. Kata-kata itu diucapkan di tengah asap tebal yang semakin memenuhi ruangan, seolah menjadi pesan terakhir yang ingin ia sampaikan.
"Gendong bayi sama nutupi hidungnya (saat video call). Minta maaf kalau ada salah. Bilang kalau memang udah nggak kuat, soalnya asapnya terlalu besar," ujar Suyitno.
Tak lama setelah itu, sambungan video call terputus. Layar ponsel yang sebelumnya menampilkan wajah Erawati kini hanya menampilkan panggilan terputus, meninggalkan kebingungan dan kepanikan bagi keluarga di Indonesia. Sejak detik itulah, tidak ada lagi kabar yang berhasil diterima dari Erawati, meskipun keluarga sudah berulang kali mencoba menghubungi.
Tragedi Besar di Hong Kong
Kebakaran besar yang melanda Wang Fuk Court ini terjadi sejak Rabu hingga Kamis (26–27/11/2025). Hingga Minggu (30/11/2025), sebanyak 146 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih hilang. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi terdapat sembilan WNI yang menjadi korban jiwa. Seluruhnya merupakan pekerja rumah tangga yang tinggal di gedung tersebut.
Rumah sederhananya di Kabupaten Malang, Jawa Timur mendadak berubah muram sejak kabar duka dari Hong Kong tiba pada Rabu (26/11/2025). Sejak saat itu, ketenangan keluarga seakan sirna, digantikan kecemasan dan penantian yang panjang. Rumah yang biasanya hangat kini dipenuhi isak tangis dan doa. Bagi keluarga Erawati, tragedi kebakaran di Hong Kong bukan sekadar berita di layar televisi. Tragedi itu merenggut seorang ibu, istri, dan tulang punggung keluarga yang selama ini bekerja jauh dari rumah demi masa depan yang lebih baik.
Kini, harapan keluarga hanyalah satu yakni kepastian kabar Erawati pasca kejadian.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar