
Refleksi Akhir Tahun: Indonesia yang Bertahan di Tengah Kegaduhan
Akhir tahun selalu menghadirkan ruang jeda, sebuah waktu yang memaksa kita berhenti sejenak dari riuh rutinitas untuk menengok kembali perjalanan yang telah dilalui. Dari Timur Indonesia, dari ruang-ruang sunyi yang jauh dari pusat kekuasaan, refleksi tentang bangsa terasa lebih jujur dan apa adanya.
Akhir tahun selalu datang bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa kabar Indonesia kita hari ini? Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika tahun yang dilalui penuh dengan dinamika politik yang mengeras, bencana yang berulang, kegaduhan sosial, tetapi juga keteguhan dan harapan yang tak sepenuhnya padam.
Tahun yang hampir usai ini kembali memperlihatkan wajah Indonesia yang penuh dinamika. Berbagai peristiwa kenegaraan yang menguras energi mulai dari kontestasi politik, tarik-menarik kepentingan elit, hingga perdebatan kebijakan yang kerap terasa jauh dari kebutuhan rakyat sehari-hari serta derasnya arus informasi dan disinformasi membuat ruang publik kerap riuh dan emosional.
Demokrasi kita masih bekerja, tetapi sering kali berjalan tertatih. Ia hidup dalam prosedur, namun belum sepenuhnya matang dalam etika. Polarisasi, hoaks, dan kegaduhan di ruang digital bahkan ke ruang-ruang privat menjadi tantangan serius yang menguji kedewasaan kita sebagai warga negara.
Sebagai masyarakat, kita melihat dinamika ini bukan sekadar fenomena politik, melainkan gejala sosial yang lebih dalam: rapuhnya kepercayaan, menipisnya empati, dan kecenderungan melihat perbedaan sebagai ancaman. Namun, di balik kegaduhan itu, Indonesia tetap bertahan.
Transisi politik berjalan dalam kerangka konstitusional, lembaga negara tetap berfungsi, dan masyarakat sipil terus bersuara. Ini bukan capaian kecil di tengah dunia yang kian tidak pasti. Tahun ini juga kembali diwarnai oleh berbagai kasus besar yang mengguncang kepercayaan publik.
Korupsi, penyalahgunaan kewenangan, dan problem penegakan hukum. Dari Timur, berita-berita itu terasa seperti luka lama yang terus terbuka. Rasa kecewa tidak bisa disangkal. Namun, di saat yang sama, kesadaran kritis masyarakat justru tumbuh. Publik semakin berani bertanya, mengkritik, dan menuntut transparansi. Ini menandakan bahwa Indonesia belum menyerah pada apatisme. Kita marah karena masih peduli; kita kecewa karena masih berharap.
Dari Timur, kami juga menyaksikan bagaimana alam kembali “berbicara”. Banjir, longsor, kebakaran hutan, dan bencana alam kembali menjadi catatan duka yang tak terpisahkan dari perjalanan tahun ini. Krisis ekologis menimpa berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Selatan. Dari sini, kita belajar bahwa Indonesia bukan hanya diuji oleh kebijakan, tetapi juga oleh relasinya dengan alam.
Di Sulawesi Selatan, bencana bukan hanya statistik, tetapi pengalaman nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat kecil. Namun, seperti biasa, negara ini selalu memperlihatkan wajah lain yang menghangatkan: solidaritas warga, gotong royong lintas identitas, dan empati yang tumbuh spontan. Ketika negara terlambat hadir, masyarakat sering kali lebih dulu bergerak. Di situlah Indonesia menemukan kekuatannya yang paling tulus.
Dalam bidang ekonomi, tekanan global dan ketimpangan sosial, keterbatasan akses serta naik-turunnya daya beli adalah realitas sehari-hari yang masih menjadi tantangan serius. Namun, dari Sulawesi Selatan dan wilayah timur lainnya, kita melihat ketangguhan rakyat kecil: nelayan yang tetap melaut, petani yang bertahan di tengah cuaca tak menentu, pelaku UMKM yang beradaptasi dengan teknologi. Mereka mungkin jarang muncul dalam headline besar, tetapi merekalah fondasi nyata ketahanan Indonesia.
Bangsa ini bertahan bukan karena elitedan system yang sempurna, melainkan karena rakyat yang tidak menyerah dan saling menopang. Yang patut disyukuri, di tengah berbagai krisis, semangat kebangsaan dan keberagaman masih dijaga. Moderasi beragama, dialog lintas budaya, dan penghargaan terhadap kearifan lokal terus menemukan relevansinya.
Dari Sulawesi Selatan, tanah yang kaya akan nilai siri’, pacce, dan solidaritas komunal kita belajar bahwa martabat manusia dan kepedulian sosial adalah fondasi kebangsaan yang sejati. Nilai-nilai lokal inilah yang sering kali menjadi benteng terakhir ketika negara belum sepenuhnya hadir.
Sebagai bagian dari masyarakat Toraja, saya teringat satu kearifan lokal yang relevan dengan situasi bangsa hari ini: “misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate”—bersatu kita hidup, bercerai kita binasa. Nilai ini bukan sekadar slogan adat, melainkan falsafah hidup yang menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi kesulitan.
Dalam budaya Toraja, setiap duka ditanggung bersama, setiap beban dipikul secara kolektif. Barangkali, di tengah kecenderungan saling mencurigai dan membenci karena perbedaan pilihan, bangsa ini perlu kembali belajar dari kearifan semacam itu.
Dari sudut pandang akademik, semua dinamika ini menunjukkan satu hal penting: Indonesia sedang berada dalam fase belajar dewasa sebagai bangsa. Kedewasaan itu tidak hadir dalam bentuk stabilitas semu atau ketiadaan konflik, melainkan dalam kemampuan untuk terus bertahan, mengoreksi diri, dan menjaga harapan.
Seperti dalam falsafah bahwa hidup adalah rangkaian proses, bukan hasil instan. Setiap fase memiliki makna, termasuk fase penuh luka dan kegaduhan. Akhir tahun, bagi saya sebagai warga dari Timur, bukan hanya tentang menilai apa yang gagal, tetapi juga mengenali apa yang membuat Indonesia tetap bertahan.
Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja, tetapi ia juga tidak runtuh. Ia hidup dalam daya lenting masyarakatnya, dalam kesediaan untuk belajar dari kesalahan, dan dalam harapan yang terus dijaga meski berkali-kali diuji.
Harapan itu layak kita rawat bersama. Harapan agar negara semakin adil dan berpihak pada mereka yang di pinggir. Harapan agar hukum ditegakkan dengan nurani, bukan sekadar prosedur. Harapan agar pembangunan tidak lagi memusat, tetapi merata hingga ke Timur. Dan harapan agar warga negara tidak kehilangan kepekaan di tengah kerasnya zaman.
Dari Timur Indonesia, di penghujung tahun ini, kita belajar satu hal penting: bangsa ini bertahan bukan karena ia tanpa masalah, melainkan karena ia tidak pernah kehabisan harapan. Selama harapan itu masih hidup—dalam pikiran, dalam doa, dan dalam tindakan—Indonesia akan selalu punya alasan untuk melangkah ke depan dengan kepala tegak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar