
Wilayah Terisolasi Akibat Kerusakan Infrastruktur
Beberapa wilayah di Kabupaten Aceh Barat yang terkena dampak banjir bandang, banjir luapan, dan tanah longsor masih mengalami isolasi. Hal ini menyebabkan akses bantuan ke warga menjadi tertutup total. Penyebab utamanya adalah kerusakan infrastruktur vital yang menghubungkan wilayah tersebut.
“Kerusakan paling parah terjadi pada infrastruktur vital seperti jembatan, badan jalan, dan akses menuju permukiman warga yang hingga kini masih terisolasi,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Sekdakab Aceh Barat, Kurdi.
Kurdi juga menyebutkan bahwa kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan fasilitas mencapai lebih dari Rp 200 miliar. Bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di Aceh Barat telah menyebabkan empat unit rumah hanyut serta tiga unit lainnya mengalami kerusakan berat. Tujuh unit rumah beserta kantor desa di Keutambang Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat pun rusak parah.
Kerusakan Jalan dan Jembatan
Jalan menuju desa ini juga putus total, sehingga proses evakuasi belum dapat dilakukan secara maksimal. Lokasi ini masih terisolasi, dan tim sedang mencari jalur alternatif. Infrastruktur vital lainnya seperti badan jalan di Pulo Teungoh, Kecamatan Pante Ceureumen mengalami kerusakan serius. Badan jalan bahkan terputus sepanjang 50 meter.
Selain itu, beberapa jembatan gantung di berbagai daerah mengalami kerusakan berat. Di Desa Jambak, Kecamatan Arongan Lambalek, jembatan gantung rusak berat. Begitu pula dengan jembatan gantung di Kecamatan Pante Ceureumen dan lintas Ketambang-Canggai yang putus total. Di Sungai Mas, jembatan Tungkop juga terputus.
Jalan Gaseu–Siput sepanjang 38 meter rusak parah, sehingga suplai logistik dan pergerakan tim gabungan menjadi sangat terhambat.
Wilayah yang Masih Terisolasi
Kerusakan infrastruktur menyebabkan sejumlah wilayah masih belum dapat diakses penuh. Di antaranya adalah Kecamatan Pante Ceureumen, Woyla Timur, Woyla Barat, Woyla, dan Arongan Lambalek. Selain itu, wilayah Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat hingga kini juga masih sepenuhnya terisolasi.
“Sementara di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat yang sebelumnya terisolasi sudah mulai dapat dijangkau, meski distribusi bantuan masih sangat sulit akibat medan licin dan berlumpur,” jelas Kurdi.
Upaya Pemerintah dan Relawan
Kurdi menjelaskan bahwa seluruh unsur pemerintah daerah, BPBD, TNI/Polri, relawan, dan perangkat desa terus bekerja tanpa henti untuk membuka akses, mengevakuasi warga, dan mempercepat distribusi bantuan. Fokus utama saat ini adalah menyelamatkan warga, membuka akses yang terputus, dan mempercepat penyaluran bantuan.
Dampak Banjir Lebih Parah dari Tsunami
Anggota DPR RI TA Khalid menyatakan bahwa banjir yang melanda sejumlah daerah di Aceh memiliki dampak yang lebih parah dibandingkan tsunami. “Saya mengalami tsunami. Kita rasakan di Banda Aceh, Aceh Barat, dan Calang. Sekarang luasnya lebih lebar, dan dampaknya terhadap infrastrukturnya lebih parah dibandingkan tsunami dulu,” ujarnya.
TA Khalid mengatakan, tsunami sebelumnya telah banyak menelan korban jiwa. Namun, tiga hari kemudian akses sudah bisa dilewati di jalur darat. Sementara itu, untuk banjir kali ini, akses jalan darat hingga memasuki hari ke-11 masih lumpuh dan sejumlah daerah masih terisolasi.
Hingga Senin, korban bencana banjir dan longsor terus bertambah. Berdasarkan data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) pada Senin (1/12/2025) petang, korban meninggal dunia di Aceh mencapai 156 orang dan korban terluka 1.838 jiwa.
TA Khalid datang bersama pesawat Hercules yang membawa bahan bantuan untuk kabupaten/kota di Aceh. Dia menyebutkan bahwa DPR RI telah meminta pemerintah untuk menjadikan bencana ini dengan status bencana nasional. “Kita sudah suarakan bencana ini menjadi bencana nasional. Kita bandingkan saja dengan tsunami Aceh,” katanya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar