Aksi Gowes Indonesia-Eropa: Seruan Akhiri Kekerasan Digital Perempuan dan Anak

Aksi Bersepeda untuk Melindungi Perempuan dan Anak di Ruang Digital

Pada hari Sabtu (06/12), Jakarta menjadi saksi dari aksi solidaritas global yang menunjukkan komitmen bersama dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan yang terjadi di ruang digital. Sebanyak 300 peserta dengan sepeda mereka bergerak dari Lapangan Parkir IRTI Monas hingga One Satrio, menggelar Cycling Tour sebagai bagian dari kampanye “16 Days of Activism: Gotong Royong Melawan Kekerasan Berbasis Gender Di Ruang Digital”. Tidak hanya sekadar bersepeda sejauh 10 km, aksi ini juga menjadi bentuk panggilan nyata untuk bertindak.

Acara ini dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, yang dikenal dengan panggilan akrab Lisa. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa belasungkawa bagi korban bencana di Sumatra dan Jawa Barat dengan mengheningkan cipta.

Lisa menjelaskan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan, tidak hanya saat bencana, tetapi juga ketika mereka berada di ruang digital. Menurutnya, dalam situasi krisis, risiko eksploitasi, perundungan, dan pelecehan justru meningkat, termasuk di ruang daring.

“Setiap bencana selalu menunjukkan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan, bukan hanya terhadap kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan digital. Dalam situasi krisis, risiko eksploitasi, perundungan, dan pelecehan meningkat, termasuk di ruang daring,” ujar Lisa.

Melalui Gerakan Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, pendekatan terpadu dilakukan melalui pencegahan, penanganan, pendampingan, dan pemulihan korban. Gerakan ini melibatkan berbagai pihak seperti kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, masyarakat, serta mitra internasional seperti Uni Eropa.

Lisa juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan serius karena berdampak langsung pada kualitas SDM. Ia mengingatkan bahwa teknologi digital membawa manfaat sekaligus risiko, sehingga kekerasan di ruang digital perlu diwaspadai.

Dalam acara ini, Lisa juga menekankan pentingnya komitmen terhadap isu krisis iklim. Ini merupakan langkah sederhana untuk menjaga bumi sekaligus mengangkat pentingnya perlindungan perempuan dan anak di semua ruang, termasuk digital.

Kolaborasi Global dalam Mengatasi Kekerasan Digital

Kehadiran delegasi Uni Eropa dalam acara ini menunjukkan komitmen global terhadap isu kekerasan digital berbasis gender. Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, memainkan peran strategis dalam memperkuat kemitraan internasional ini. Chaibi menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan di ruang digital.

“Setiap pesepeda mewakili komitmen untuk bertindak untuk menumbuhkan rasa hormat, memastikan ekosistem digital yang aman, dan mendengarkan aspirasi perempuan secara online maupun offline. Kami bangga dengan terjalinnya kerja sama erat antara Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa dalam mempromosikan kesetaraan gender dan mengatasi tantangan bersama,” ujar Duta Besar Chaibi.

Chaibi juga sangat memuji kreativitas dan inovasi yang bisa menjadi contoh global, terutama dalam menghadapi tantangan kekerasan di ruang digital.

Advokasi yang Lebih Luas dan Partisipasi Masyarakat

Gerakan ini juga memperkuat pendekatan advokasi yang lebih luas. Sehari sebelum Cycling Tour, para ahli berkumpul di Fakultas Hukum Universitas Indonesia untuk berbagi wawasan mengenai kekerasan digital berbasis gender, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dan calon praktisi hukum dalam penanganan isu ini.

Kehadiran delegasi dari berbagai negara anggota Uni Eropa, UN Women Indonesia, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas Bike to Work Indonesia menunjukkan resonansi pesan ini di berbagai tingkat masyarakat. 300 peserta dengan bendera bertema “Gotong Royong Melawan Kekerasan Berbasis Gender Di Ruang Digital” menjadi visual yang kuat dari komitmen kolektif melawan kekerasan digital.

Cycling Tour ini menjadi penguatan kolaborasi internasional untuk perlindungan berkelanjutan. Kemenko PMK berharap gerakan ini memperluas edukasi digital dan menciptakan ruang daring yang aman dan inklusif. Setiap kayuhan membawa harapan yang sama, yaitu perempuan dan anak Indonesia terlindungi, baik di masa tenang maupun saat krisis.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan