Pengakuan Aktivis Lingkungan tentang Tekanan dari Kementerian Kehutanan

Seorang aktivis lingkungan asal Prancis, Aurelien Francis Brule atau dikenal dengan nama Chanee Kalaweit, akhirnya buka suara mengenai pengalamannya selama berjuang di Indonesia. Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Instagram @chaneekalaweit pada Minggu (7/11/2025), dia mengungkapkan bahwa selama 9 tahun terakhir, pihak Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah memberikan tekanan terhadap dirinya dan Yayasan Kalaweit.
Chanee mengatakan bahwa meskipun telah menetap di Indonesia selama 27 tahun dan mendirikan yayasan tersebut sejak 1998, pihak Kemenhut tidak pernah memberikan perhatian yang cukup. Bahkan, ia menyebut bahwa pihaknya sering kali diabaikan dalam berbagai kebijakan terkait konservasi hutan.
"Selama 27 tahun berjuang di Indonesia dengan Yayasan Kalaweit, walaupun menjadi mitra Kementerian Kehutanan, walaupun mendapat banyak dukungan dari masyarakat Indonesia, kami selama ini dicuekin oleh Kementerian Kehutanan," ujarnya.
Menurut Chanee, Kemenhut turut membatasi kebebasan pihaknya untuk membahas isu konservasi hutan melalui media sosial. Hal ini, menurutnya, sudah berlangsung selama 9 tahun terakhir. Ia juga mengklaim bahwa perizinan yayasan miliknya tidak diperpanjang, sehingga memengaruhi operasional organisasi tersebut.
"Bahkan kami dibatasi atau kami dilarang post di media sosial (terkait) hal-hal yang tidak disukai kementerian soal konservasi. Gawat, ya," tambahnya.
Perubahan Komunikasi dengan Pemerintah
Meski sebelumnya komunikasi antara Yayasan Kalaweit dan Kemenhut sangat minim, Chanee mengungkapkan bahwa situasi mulai berubah setahun terakhir. Pertemuan penting terjadi saat Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang ke lokasi rehabilitasi satwa owa di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, pada Jumat (5/12/2025).
"Baru kemarin Pak Menteri Kehutanan datang ke sini dan itu menjadi momentum di mana beliau mau mendengarkan masukan, saran, dan sudut pandang dari Kalaweit tentang situasi alam di sini," katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Chanee juga mengajak Menteri Raja Juli untuk melihat kondisi bekas tambang batu bara yang tidak direklamasi dan lahan kelapa sawit yang ada di kawasan tersebut. Selain itu, ia juga menjelaskan strategi melindungi kawasan konservasi menggunakan pesawat ringan.
Peran Yayasan Kalaweit dalam Konservasi
Yayasan Kalaweit, yang didirikan oleh Chanee sejak 1998, memiliki peran penting dalam penyelamatan satwa liar di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Organisasi ini berjuang melawan perdagangan ilegal satwa seperti owa, siamang, beruang madu, buaya, dan bekantan.
Selain di Kalimantan Tengah, yayasan ini juga beroperasi di Kabupaten Solok, Sumatra Barat (Sumbar). Di Kalteng sendiri, terdapat dua kawasan konservasi yaitu The Dulan Reserve dan The Kalaweit Pararawen Nature Reserve, yang masing-masing memiliki luas 1.054 hektare. Sementara itu, di Kabupaten Solok, kawasan konservasinya bernama The Supayang Reserve dengan luas 400 hektare.
Kesimpulan
Chanee menegaskan bahwa kerusakan alam Indonesia telah berlangsung lama, sehingga butuh waktu yang cukup panjang untuk melakukan pemulihan. Ia menilai bahwa peran organisasi nirlaba seperti Yayasan Kalaweit sangat penting dalam memberikan masukan dan solusi kepada pemerintah, terutama kepada para pejabat yang memiliki kekuasaan dalam mengambil kebijakan.
"Harus teriak, tetapi tidak asal teriak dan tidak hanya teriak. Pada saat tertentu, kita harus mampu juga memberi saran, masukan, solusi, bagi siapa saja. Apalagi kepada seorang menteri yang mampu mengambil kebijakan," tegasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar