Aku Bukan Pencari Kebahagiaan, Aku Butuh Ketenangan Hidup

Kehidupan yang Tidak Selalu Berjalan Mulus

Dulu, aku seperti orang gila. Serius. Setiap hari rasanya seperti sedang berlari di treadmill tanpa tombol stop. Otakku hanya diset untuk satu tujuan: bahagia. Pokoknya harus senang, harus happy, harus ada di puncak.

Definisi bahagia waktu itu sangat sederhana tapi juga toksik. Bahagia itu ketika mendapatkan uang banyak, dipuji-puji orang, atau bisa memamerkan pencapaian di depan orang banyak. Aku pikir itulah hidup. Jika grafik hidupku tidak terus naik, maka aku dianggap gagal.

Namun, lama-kelamaan aku sadar ada sesuatu yang tidak benar dengan cara berpikir seperti ini. Mengejar kebahagiaan ternyata seperti jebakan. Benar-benar curang. Kebahagiaan itu seperti permen karet. Manisnya hanya sebentar, setelah itu hambar, dan kita dibiarkan mengunyah karet kosong.

Coba ingat-ingat. Ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, seberapa lama rasa senang itu bertahan? Sehari? Seminggu? Setelah itu? Ya kembali biasa lagi. Datar lagi. Kosong lagi.

Nah, saat rasa senang itu hilang, aku menjadi panik. Seperti seorang pecandu yang sedang sakau, aku langsung mencari dosis baru. Harus ada target baru, mainan baru, atau drama baru agar merasa hidup lagi. Capek, Bro. Sumpah, capek. Hidup rasanya dikendalikan oleh mood. Saat sedang di atas, rasanya menjadi raja. Saat sedang di bawah, rasanya seperti sampah. Emosiku diombang-ambing tanpa arah.

Titik baliknya bukan karena aku menerima wahyu dari gunung, gua, atau apapun. Cuma karena aku sudah muak. Setelah kurenung-renungi saat sedang jenuh, aku mulai memahami bahwa mekanisme hidup di bumi ini tidak dirancang untuk kita tertawa terus-menerus. Masalah adalah bagian dari paket bundling bersama napas. Selama masih bernapas, masalah pasti ada.

Jadi, aku mengubah arah. Bodo aman dengan mengejar bahagia. Sekarang targetku berbeda: ketenangan.

Apa bedanya? Sangat jauh. Jika bahagia seperti kembang api yang meledak dan kemudian menghilang meninggalkan asap, ketenangan seperti pondasi beton. Dia diam, keras, stabil. Baik hujan badai maupun panas terik, dia tetap berada di tempatnya.

Tapi jangan salah paham dulu ya.

Bukan berarti aku anti terhadap kebahagiaan. Bukan berarti aku menolak hal-hal yang membuat senang, atau aku berubah menjadi robot yang wajahnya datar terus seperti tembok. Konsepnya tidak seperti itu.

Aku masih tertawa tiba-tiba saat melihat meme lucu. Aku masih sangat senang ketika proyekku berhasil. Aku masih menikmati enaknya minum kopi atau merokok santai setelah makan. Rasanya tetap enak, tetap asik.

Perbedaannya ada pada posisinya.

Dulu, kebahagiaan menjadi syarat hidup. Jika tidak bahagia, berarti hidupku salah. Sekarang? Kebahagiaan hanya bonus.

Jika dia datang, alhamdulillah, aku nikmati dan rayakan. Tapi jika dia pergi atau sedang tidak ada, ya sudah. Aku tidak akan repot-repot frustrasi mencarinya. Aku tidak menggantungkan kewarasanku pada kondisi yang sifatnya sementara.

Mengejar ketenangan membuat hidup lebih santai. Aku tidak lagi reaktif. Dulu, ketika ada masalah sedikit, langsung panik, update status, atau marah-marah. Sekarang? Masalah datang, ya hadapi saja. "Oh, ada masalah? Oke, kita selesaikan." Itu saja. Tidak perlu drama.

Ketenangan memiliki sifat yang stabil dan permanen jika kita sudah mahir mengatur. Berbeda dengan kebahagiaan yang sifatnya "sewa per jam", aksesoris atau pelengkap hidup.

Hidup dalam mode mencari ketenangan ini memang terlihat tidak seru bagi orang yang suka drama. Tapi bagiku, ini mewah. Aku bisa tidur nyenyak malam-malam tanpa memikirkan besok harus ngejar validasi siapa lagi. Aku tetap tenang saat orang lain sibuk memamerkan atau menjatuhkan.

Intinya, aku sudah tidak ingin lagi menjadi budak emosi. Lebih baik hidup datar tapi waras daripada hidup naik-turun tapi membuat gila. Kebahagiaan adalah tamu yang menyenangkan, tapi ketenangan adalah tuan rumahnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan