Aku Tidak Selalu Kuat, Tapi Tetap Bertahan


Sering kali, ketika pikiranku terasa penuh dan berat, aku memilih untuk pergi sendiri. Menyalakan motor, melaju tanpa tujuan jelas, membiarkan jalan yang mengarahkan ke mana aku harus berhenti. Angin malam sering menjadi teman yang cukup membantu, setidaknya untuk membuat pikiranku sedikit lebih tenang.

Ada hal-hal yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan bicara. Kadang, diam dan menjauh sebentar justru menjadi cara paling aman untuk bertahan. Sejak kecil, aku terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Bukan karena aku paling mampu, tetapi karena tidak selalu ada tempat untuk bersandar. Aku belajar menyelesaikan urusanku tanpa banyak bertanya, menelan perasaan tanpa terlalu sering mengeluh, dan melanjutkan hari meski semangatku terkadang runtuh oleh kata-kata.

Aku tidak tumbuh dengan banyak pelukan atau kalimat penyemangat. Beberapa kali, apa yang dianggap mimpi justru terdengar terlalu tinggi untuk dijangkau. Aku belajar diam, menyimpan, lalu berjalan lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Pelan-pelan, itu menjadi kebiasaan.

Aku sempat mengira, semua itu tidak adil. Mengapa harus belajar berdiri sendiri lebih dulu, sementara yang lain tampak mudah mendapat dukungan?


Hidup kemudian membawaku pergi ke perantauan. Ruang baru, lingkungan yang asing, dan hari-hari yang menuntutku untuk beradaptasi. Banyak hal harus ku hadapi sendiri, dengan kemampuan seadanya. Aku belajar bertahan, belajar menyesuaikan diri, dan belajar mengenali diriku lebih jauh.

Jika sejak awal aku tidak terbiasa mengurus diriku sendiri, mungkin aku tidak akan bertahan hingga hari ini. Jika semuanya selalu dipermudah, barangkali aku tidak pernah benar-benar belajar mengenali kekuatanku sendiri. Di perantauan, aku bertemu dengan orang-orang yang mengajarkanku arti hadir. Hadir untuk mendengarkan, untuk saling membantu, dan untuk tidak buru-buru menghakimi ketika seseorang sedang lelah. Dari sana, aku belajar bahwa bertumbuh juga bisa dilakukan bersama.

Pengalaman itu pelan-pelan mengubah caraku memandang banyak hal, termasuk masa lalu. Aku mulai melihatnya dengan jarak yang lebih tenang, tanpa keinginan untuk menyalahkan siapa pun.


Orang tua ku membesarkanku dengan cara yang mereka pahami. Cara yang lahir dari pengalaman hidup, dari apa yang mereka jalani dan ketahui. Ada kalanya cara itu terasa keras, bahkan menyisakan perih. Namun kini aku mengerti: mereka menjalani peran itu dengan bekal yang mereka miliki.

Aku sadar, tanpa kerja keras mereka, aku tidak akan berada di titik ini. Tidak akan punya kesempatan untuk berkuliah dan mengejar pendidikan sejauh yang aku bisa hari ini. Apa pun caranya, merekalah yang lebih dulu membuka jalan.

Aku tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Aku juga tidak sepenuhnya membenarkan semua yang pernah menyakitkan. Aku hanya belajar memahami—bahwa setiap orang tua memiliki cara yang berbeda dalam mencintai.

Kini, aku masih belajar menerima. Menerima bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi sering kali memberi apa yang kita perlukan. Aku membawa semua yang sudah dilewati sebagai bagian dari proses bertumbuh—tanpa dendam, tanpa kebencian.

Aku mungkin tidak selalu dikuatkan, tapi aku bertahan. Dan hari ini, itu sudah lebih dari cukup.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan