Ali Berterima Kasih Bisa Ciptakan Lapangan Kerja Melalui Bajaj Online

Ali Berterima Kasih Bisa Ciptakan Lapangan Kerja Melalui Bajaj Online

Bajaj di Semarang: Peluang Kerja dan Sumber Pendapatan Baru

Bajaj, yang dulu lebih dikenal di kota-kota besar lain, kini mulai menemukan tempatnya di jalanan Kota Semarang. Tidak hanya sebagai moda transportasi, bajaj juga menjadi aset produktif yang menciptakan peluang kerja dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Ali, salah seorang pengusaha yang terlibat langsung dalam usaha bajaj online, menjelaskan bahwa kehadiran bajaj ini memiliki dampak sosial yang signifikan. “Karena ini ekonomi sosial ya,” ujarnya kepada Tribun Jateng. Sejak beberapa bulan lalu, Ali memiliki beberapa bajaj yang beroperasi melalui aplikasi Maxride. Dengan investasi sekitar Rp 50 juta, ia mendapatkan pendapatan rutin sekitar Rp 2,5 juta tiap bulan.

Bagi Ali, investasi bukan sekadar hitungan profit. Ia melihatnya sebagai cara untuk membantu orang lain. Dari usaha bajaj ini, teman-temannya yang sudah tua bisa kembali bekerja. Menurutnya, bajaj adalah kendaraan yang cocok untuk keluarga karena aman dari panas dan hujan, baik untuk penumpang maupun driver karena semuanya terlindungi.

“Mereka tidak perlu bersaing dengan tenaga muda atau terhalang persyaratan administrative,” tambah Ali. Yang mereka butuhkan hanyalah kemauan mengemudi dan menjaga kendaraan. Setiap unit bajaj yang dimiliki Ali beroperasi dari pagi hingga malam, mengantar penumpang melalui jaringan aplikasi Maxride.

Pendapatan yang diperoleh Ali bukan hanya menambah arus kas, tetapi jauh melampaui bunga deposito yang saat ini semakin menipis. Namun bagi Ali, angka-angka itu hanya bonus. Yang lebih penting adalah melihat orang-orang yang dulu menganggur kini tersenyum lagi karena kembali punya pekerjaan.

Kisah Purwadi: Kembali Berpenghasilan

Purwadi adalah contoh lain dari kisah sukses yang dihasilkan oleh kehadiran bajaj di Semarang. Sejak 1,5 bulan lalu, ia menggantungkan hidupnya pada kendaraan roda tiga tersebut. Pekerjaan ini baru ia geluti, namun sudah begitu lekat dengan kesehariannya.

Sebelumnya, Purwadi bekerja proyek. Informasi tentang pekerjaan ini ia dapatkan dari anaknya yang lebih dulu menjadi pengendara ojek online. Kemudian dia mendaftar ke Maxride dan diterima pada September lalu. Sejak itu, setiap hari, Purwadi berkeliling wilayah Kota Lama Semarang, kawasan yang kini ramai wisatawan.

“Kebanyakan anak muda yang naik bajaj,” katanya sembari tersenyum. Dari pekerjaannya ini, Purwadi bisa mendapatkan Rp 300 ribu per hari, berangkat pukul 08.00 pagi hingga sore. Jika akhir pekan tiba, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp 500 ribu, jumlah yang sangat berarti bagi perekonomian keluarganya.

Namun, belakangan ini ia mendengar kabar pelarangan bajaj beroperasi di media sosial. Narasi itu membuatnya waswas. “Mudah-mudahan pemerintah bisa buat aturan atau izin yang jelas,” harapnya.

Bajaj sebagai Bentuk Ekonomi Inklusif

Semakin banyak bajaj beroperasi, semakin banyak driver yang bisa terserap. Dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Semarang masih di kisaran 5,82 persen, sesuai data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) pada 2024, peluang seperti ini berarti lebih dari sekadar bisnis, ini adalah cara memperbaiki ekonomi di tingkat paling dasar.

Setiap kali sebuah bajaj melintas di jalanan Semarang, ada cerita di baliknya. Cerita tentang seseorang yang kembali bekerja. Cerita tentang investor yang memilih jalan berbeda untuk menumbuhkan modalnya. Dan cerita tentang kota yang bergerak menuju ekonomi yang lebih inklusif.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan