
Pelabuhan Mentok Diharapkan Kembali Berjaya
Pengerukan alur Pelabuhan Mentok yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Barat diharapkan dapat memudahkan lalulintas kapal nelayan. Anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat, Eddy Arif, menyatakan dukungannya terhadap langkah tersebut. Namun, ia menekankan bahwa pengerukan saja tidak cukup. Harus ada pembenahan secara menyeluruh di kawasan pelabuhan.
“Hal itu bagus, saya pribadi mendukung upaya pengerukan alur Pelabuhan Lama Mentok tersebut. Diharapkan mampu membantu keluar masuknya kapal seperti dulu lagi, dan kembali berjaya,” kata Eddy politisi Gerindra tersebut.
Eddy menegaskan bahwa pembenahan tidak boleh hanya berfokus pada pengerukan alur semata. Melainkan dilakukan perbaikan secara total. Jika hanya pengerukan tanpa ada perbaikan infrastruktur pendukung, maka hasilnya tidak akan maksimal.
“Kita harapkan bukan hanya alur pelabuhan yang dibenahi, tapi secara total. Kalau hanya dikeruk tanpa ada rehabilitasi, itu sama saja bohong. Contohnya talud-talud di sekitar pelabuhan sudah banyak yang roboh dan perlu diperbaiki, apabila dikeruk nanti,” tegasnya.
Eddy menyambut niat baik Wakil Bupati Bangka Barat yang berencana membenahi Pelabuhan Mentok. Ia menilai, setelah pengerukan dilakukan dan kedalaman alur harus diketahui, maka pelabuhan tersebut wajib dibenahi secara menyeluruh agar dapat kembali beroperasi secara optimal.
“Sehingga setelah di keruk bisa beraktivitas lagi, sebagaimana mestinya. Kita tidak ingin kejadian seperti di Jelitik Sungailiat, yang hingga sekarang tidak ada titik terang soal pendalaman atau pendangkalan. Kita tidak ingin kejadian ini terjadi di daerah kita,” keluhnya.
Dia menekankan pentingnya perbaikan total talud di sepanjang seputaran Pelabuhan Mentok agar nelayan dan kapal-kapal dapat keluar masuk dengan aman. Bahkan saat kondisi air surut.
Untuk memastikan rencana ini berjalan dengan baik, DPRD Bangka Barat berencana kembali melakukan diskusi bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui rapat dengar pendapat (RDP) Komisi III DPRD Babar.
“Artinya kita tidak ingin niat baik ini tidak terlaksana dengan baik. Perlu perencanaan yang matang,” katanya.
Menurut Eddy, sebagian besar masyarakat menyambut baik rencana pengerukan tersebut dan berharap Pelabuhan Mentok dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya dan berjaya seperti dulu.
“Masyarakat sangat setuju dan bersyukur. Mudah-mudahan setelah pengerukan dan pembenahan, pelabuhan ini bisa berjalan lagi dan kembali aktif,” pungkasnya.
Sosialisasi Rencana Pengerukan
Diketahui sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melakukan sosialisasi terkait rencana pengerukan alur Pelabuhan Mentok, pada Rabu (24/12/2025) di Pelabuhan Mentok. Mereka mengundang sejumlah nelayan dan masyarakat sekitar untuk melakukan persetujuan dan penandatangan terkait rencana pengerukan.
Rencana pengerukan disampaikan Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, usai meninjau kondisi pelabuhan yang memprihatinkan. Yus melihat aktivitas Pelabuhan Mentok dan kendala yang terjadi di pelabuhan. Seperti pendangkalan akibat banyaknya lumpur di sekitar pelabuhan, fasilitas pelabuhan dan persoalan lainnya.
Ia mengharapkan, pelabuhan Mentok, dapat menjadi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) guna menghidupkan perekonomian dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemkab telah melakukan kerja sama (MoU) dengan PT Pelindo untuk mendukung pemanfaatan pelabuhan secara optimal.
“Kita fokusnya membuka alur pelabuhan dengan melakukan pengerukan. Relisasi tinggal menunggu dari PT Timah dengan mitranya, terkait syarat nelayan harus menandatangani sudah dilakukan,” kata Yus kepada nurulamin.pro, Rabu (24/12/2025).
Dikatakan Yus, sejumlah nelayan dan masyarakat sekitar pelabuhan telah disosialisasikan dan diminta tanda tangan persetujuan terkait rencana pemerintah daerah yang ingin melakukan pengerukan.
“Kita duduk bersama, kejaksaan, kepolisian, pemda, tujuannya tidak lain untuk membuka alur pelabuhan, agar kembali berjaya seperti tahun-tahun sebelumnya. Tujuanya pengerukan, dan respon nelayan siap. Sehingga mereka dengan mudah keluar masuk kapal, apabila pelabuhan tidak dangkal,” terangnya.
Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Perhubungan Disperkimhub Kabupaten Bangka Barat Juswardi, mengatakan, Pelabuhan tersebut telah puluhan tahun tidak dilakukan pengerukan. Padahal sebelumnya aktivitas keberangkatan kapal penumpang sempat ramai terjadi di pelabuhan tersebut.
“Kondisi perairan saat ini dipenuhi sedimen berupa lumpur dan pasir. Sehingga material menumpuk di dalam kolam pelabuhan dan mengganggu aktivitas keluar masuk kapal nelayan,” kata Juswardi.
Dijelaskannya, kewenangan pengelolaan pelabuhan berada di tingkat provinsi, sementara secara aset pelabuhan dimiliki oleh Pelindo. Oleh karena itu, kerjasama agar dukungan pengerukan dan pengembangan pelabuhan dapat terlaksana.
“Diharapkan, dengan adanya dukungan tersebut, perencanaan pengembangan pelabuhan ke depan dapat direalisasikan secara maksimal. Dan berharap pelabuhan tersebut dapat diturunkan kewenangannya ke kabupaten,” katanya.
Menurutnya, jika pengelolaan berada di tingkat kabupaten, proses pengelolaan akan lebih mudah dan cepat. Meski demikian, kerja sama dengan pemerintah provinsi tetap diperlukan agar pengembangan pelabuhan ke depan berjalan lebih baik.
“Dukungan terhadap rencana pengerukan juga datang dari para nelayan. Selain untuk kepentingan nelayan, pengerukan dinilai penting sebagai langkah mitigasi bencana. Apabila pengerukan dapat segera dilaksanakan, diharapkan aktivitas di kawasan pelabuhan semakin meningkat,” katanya.
Ia mengharapkan, ke depan, Pelabuhan Mentok, juga diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi Pusat Pendaratan Ikan (PPI) dan berpotensi menjadi tempat pelelangan ikan terbesar di Kabupaten Bangka Barat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar