
Perkembangan Tunggal Putra di Dunia Bulu Tangkis
Persaingan tunggal putra dalam level kompetisi internasional kini memasuki babak baru. Dalam setahun terakhir, beberapa kejutan muncul yang menunjukkan bahwa regenerasi pemain dari berbagai negara mulai terlihat dalam turnamen BWF World Tour hingga multi-event.
Setiap negara kini berlomba-lomba untuk mempersiapkan diri menghadapi ajang paling bergengsi bagi para atlet, yaitu Olimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat. Di sini, pebulu tangkis tunggal putra dari kawasan Benua Eropa konsisten memberikan ancaman.
Dulu, Denmark dikenal sebagai negara terkuat di Eropa dalam bulu tangkis. Negara ini telah menghasilkan tiga medali emas dalam nomor tunggal putra Olimpiade, diraih oleh dua pemain, yakni Poul Erik Hoyer Larsen (1996 Atlanta) dan Viktor Axelsen (2020 Tokyo, 2024 Paris). Denmark bahkan berhasil memutus dominasi China dan Indonesia di Olimpiade dalam dua edisi terakhir.
Namun, kini Prancis datang dengan kekuatan mereka di nomor tunggal putra lewat Alex Lanier, Toma Junior Popov, dan Christo Popov. Lanier berhasil merebut gelar juara BWF World Tour Super 750 pada Japan Open 2024, sedangkan Christo Popov secara mengejutkan tampil sempurna dengan nol kekalahan untuk menjuarai BWF World Tour Finals 2025.
Legenda tunggal putra Malaysia, Rashid Sidek, menyebut bahwa Christo Popov menunjukkan bahwa Prancis memiliki kualitas tunggal putra yang sangat baik. Ia mengatakan bahwa Christo membuktikan bahwa para pemain bulu tangkis Prancis memiliki kualitas tinggi dengan memenangkan World Tour Finals (WTF) baru-baru ini. "Saya tidak akan terkejut jika dia, Lanier, atau bahkan Toma berhasil meraih medali emas Olimpiade 2028," ujarnya.
Bagaimana tidak? Christo Popov yang baru berusia 23 tahun justru berhasil menaklukkan grup maut di babak penyisihan grup. Dia berhasil menyapu bersih kemenangan ketika bersua Jonatan Christie (Indonesia), Kunlavut Vitidsarn (Thailand), dan Anders Antonsen (Denmark). Tiga pemain yang telah memenangkan gelar bergengsi BWF World Tour Super 1000, Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Asia, dan Kejuaraan Eropa itu.
Di final, Christo Popov menaklukkan pemain nomor satu dunia, Shi Yu Qi (China). Christo Popov dan Toma Junior Popov juga sudah berlatih dengan sang ayah, Toma Senior Popov. "Selalu membantu ketika ayah menjadi pelatih karena kepercayaan antara pemain dan pelatih sangat kuat. Kerja sama tim Popov telah berlangsung lebih dari 10 tahun," kata Rashid Sidek.
"Toma Senior mulai melatih sejak dini, yang memberinya pengetahuan tambahan. Dia juga terbuka terhadap saran dari pelatih Asia untuk mengembangkan program latihannya," ujarnya.
Rashid menambahkan bahwa kemandirian dan kekuatan mental para atlet Eropa memberikan mereka keunggulan dibandingkan banyak negara teratas. Akan tetapi, terkecuali Indonesia yang menurut Sidek terus menghasilkan talenta tunggal putra seperti Alwi Farhan dan Moh Zaki Ubaidillah.
Alwi sudah meraih dua gelar di turnamen level senior tahun ini dengan menjuarai Macau Open dan SEA Games 2025. Adapun Ubed mengantongi dua gelar BWF Tour Super 100 dan meraih medali emas di nomor beregu SEA Games. Alwi dan Ubed menjadi harapan baru tunggal putra setelah era Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting akan mulai habis masanya.
Jonatan bahkan sudah keluar dari pelatnas PBSI dan menyerahkan tongkat estafet tunggal putra kepada juniornya. Indonesia memang tak kehabisan talenta tunggal putra mulai dari Liem Swie King, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi, Hendrawan, Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso. Terakhir, tunggal putra Indonesia memiliki dua pemain terbaik yang saling berlomba-lomba meraih prestasi terbaik yakni Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar