Rencana Modernisasi F-22 Raptor oleh Angkatan Udara AS
Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) sedang merancang upaya besar-besaran untuk memodernisasi jet tempur siluman F-22 Raptor. Tujuan dari rencana ini adalah agar pesawat tersebut tetap relevan hingga dekade 2030-an. Dalam rangka menjaga keunggulan udara, peningkatan mencakup berbagai sistem seperti Infrared Defensive System (IRDS), radar, fitur siluman, dan kemampuan peperangan elektronik. Perubahan ini dianggap sebagai respons terhadap perkembangan militer negara-negara seperti China dan Rusia.
Peningkatan pada F-22 Raptor ini tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada strategi jangka panjang. Dengan adanya modernisasi, pesawat yang pertama kali dirancang lebih dari tiga dekade lalu akan tetap mampu menghadapi ancaman di medan perang modern. Bahkan, dalam beberapa laporan, varian hasil modernisasi ini mulai disebut sebagai “F-22 Super.”
Peningkatan Sistem dan Sensor
Inti dari program peningkatan ini adalah integrasi IRDS, sebuah sistem sensor inframerah yang dirancang untuk mendeteksi ancaman dan melacak pesawat musuh secara efektif. Selain itu, radar, kemampuan siluman, dan sistem peperangan elektronik juga ditingkatkan. Hal ini dilakukan guna menghadapi perkembangan teknologi pertahanan udara yang semakin canggih dari negara-negara seperti China dan Rusia.
Namun, rencana modernisasi ini juga memicu perdebatan tentang kelayakan investasi besar pada pesawat yang dikembangkan pada era Perang Dingin. Meski F-22 Raptor menjadi jet tempur generasi kelima pertama dengan teknologi siluman, kemampuan supercruise, dan sistem sensor terintegrasi, kemajuan teknologi militer dalam dua dekade terakhir membuat sejumlah negara mampu mengembangkan sistem pertahanan udara canggih.

Tantangan Biaya dan Strategi Jangka Panjang
Meskipun peningkatan tersebut dinilai penting, para analis menyoroti tantangan besar, terutama dari sisi biaya dan keberlanjutan. Struktur dasar F-22 membatasi sejauh mana peningkatan dapat dilakukan, sehingga investasi tambahan berpotensi menghasilkan keuntungan yang semakin menurun. Selain itu, pendanaan besar untuk modernisasi F-22 berpotensi mengurangi anggaran bagi program pesawat tempur generasi berikutnya.
Salah satu proyek utama yang sedang dikembangkan adalah Next Generation Air Dominance (NGAD), yang bertujuan untuk menggantikan F-22. Produk utama dari NGAD adalah F-47, pesawat tempur generasi keenam. Proyek ini diharapkan dapat memastikan dominasi udara Amerika Serikat di masa depan.
Nasib F-47
Pesawat tempur generasi keenam F-47 saat ini tengah dikembangkan oleh Boeing dan diperkirakan akan melakukan penerbangan perdananya pada 2028. Hal ini disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat, Jenderal David Allvin, pada September 2025. Menurutnya, tim Boeing bergerak cepat dalam proses pengembangan pesawat tersebut sejak kontrak resmi diumumkan pada Maret 2025.
“Ini adalah platform yang, bersama dengan sistem pendukung lainnya, akan memastikan dominasi udara di masa depan,” ujar Allvin. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa bulan sejak pengumuman proyek tersebut, Boeing telah memulai pembangunan prototipe awal.

Meskipun detail teknis masih dirahasiakan, F-47 diproyeksikan menjadi pesawat tempur generasi keenam dengan kemampuan siluman tingkat lanjut, sistem persenjataan canggih, serta integrasi dengan wahana nirawak atau collaborative combat aircraft. Pada Mei 2025, Allvin mengunggah grafik yang menunjukkan bahwa F-47 dirancang memiliki radius tempur lebih dari 1.000 mil laut dan mampu melaju dengan kecepatan melebihi Mach 2, atau sekitar 1.500 mil per jam.
Menurut Allvin, keberadaan F-47 akan menjadi elemen kunci dalam menjaga keunggulan udara Amerika Serikat di masa depan. “Tidak cukup hanya mampu menyerang,” katanya. “Anda harus mampu membuat musuh memahami bahwa Anda mampu mengalahkan mereka.”
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar