Anak balita sedang mengalami tantrum karena tidak diberi kesempatan untuk menonton di ponsel. Anak tersebut tidak mau menuruti perintah orang tua meskipun sudah ditegur hingga mulutnya berbusa. Bahkan, anak tersebut menyampaikan perkataan kasar kepada orang tua dan guru, tanpa rasa sopan santun sama sekali.
"Anak bagaikan kertas putih yang siap diisi oleh orang tua." Apakah Anda masih setuju dengan kutipan ini? Saya sendiri tidak. Kertas kosong akan tetap kosong jika tidak ditulisi atau digambar. Artinya, diperlukan pihak yang sengaja menulis sesuatu pada kertas tersebut. Faktanya, anak dibekali dengan kemampuan untuk mencerna, meniru, dan memanipulasi informasi yang diterima dari lingkungan sekitarnya, terutama dari orang tua.
Sebagai contoh, ketika anak saya berusia dua tahun, ia mulai bisa berbicara lancar. Kami sering mengajak atau menitipkan anak ke rumah Mbah di kampung. Suatu hari, kami kaget karena anak mengucapkan kata-kata tidak sopan yang biasanya diucapkan oleh Bapakku (Mbah Kakung). Bagaimana bisa?
Ternyata, Mbah mengucapkan kata itu dengan niat bercanda, lalu didengar oleh anak. Tidak perlu kursus, anak langsung menirunya. Kami menegur anak bahwa apa yang dia ucapkan adalah kata-kata yang tidak sopan. Namun, teguran kami tidak efektif. Maka, cubitan menjadi solusi yang harus kami tempuh.
Anak menangis keras, dan pantatnya terdapat ruam merah akibat cubitan. Namun, sejak saat itu, anak tidak lagi mengucapkan kata-kata kasar tersebut. Ia tahu, lebih baik tidak mengucapkan kata itu daripada dicubit, Papa. Sakit!
Masalah tidak berhenti sampai di situ. Kami juga memberikan masukan kepada Mbah agar bisa menjadi teladan dengan kata-kata yang baik. Kami harap Mbah bisa memberikan contoh yang benar, sehingga anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Orang Tua adalah Bos
Bak sebuah perusahaan yang akan maju di tangan bos yang kompeten, orang tua menjadi bos di rumah. Tapi, menjadi bos yang seperti apa? Otoriter? Permisif? Atau mentor?
Orang tua otoriter memegang kendali penuh atas anak. Semua yang diinginkan atau diperintahkan harus dipatuhi. Jika tidak, hanya ada satu akibat: hukuman. Anak bisa tumbuh menjadi penakut, pemalu, dan pesimis.
Orang tua permisif berarti tidak menegakkan otoritas. Lembek. Membiarkan anak mengalir apa adanya. Tidak ingin menegur, tak ingin menyakiti, tak ingin mengintervensi. Jalan saja apa adanya. Jangan salah jika anak menjadi semaunya. Tidak tahu diri, tidak bisa diatur.
Mentor adalah model parenting terbaik. Tidak hanya mengajar dan memberi perintah, orang tua memberi contoh. Orang tua mengerjakan bersama anak. Tentunya contoh yang baik. Anak akan percaya dan mau dengan sadar penuh melakukan nasihat dan perintah orang tua. Sebab, orang tua lebih dulu melakukan apa yang diperintahkan.
Mau tidak mau, anak harus menurut pada orang tuabos di rumah. Bos yang disegani sekaligus yang memberikan teladan.
Tempalah Besi Selagi Panas
Pandai besi menempa besi selagi masih panas untuk dibuat perkakas. Mengapa? Karena selagi panas, besi mudah dibentuk sesuai keinginan sang pandai dan agar berfungsi seperti seharusnya. Setelah dingin, besi tidak bisa dibentuk.
Anak pun begitu. Usia 0-5 tahun (disebut juga golden age) adalah usia paling baik untuk membentuk karakter mereka. Jika mereka ditempa dengan benar, anak bisa menjadi pribadi yang matang. Begitu pun sebaliknya.
Ada empat fase dalam mendidik anak. Semakin tinggi fase usianya, otoritas orang tua makin berkurang namun pengaruhnya semakin besar. Masa transisi terjadi pada anak di usia 12 tahun. Perhatikan gambar berikut.
Rotan = Tanda Kasih
Kembali pada contoh kasus di atas. Ada anak SD yang perkataannya kasar, tidak tahu sopan santun, dan tidak bisa menghargai orang lain. Kuncinya ada di orang tua. Justru akan dipertanyakan, apa yang diajarkan kepada anak? Kata-kata yang juga kasar, aksi kekerasan, tidak pernah menegur meski melakukan kesalahan, atau yang sebaliknya?
Orang tua tipe permisif biasanya akan melakukan hal itu. Alih-alih mendidik dan mendisiplin anak, orang tua justru menjerumuskan anak pada jurang tanpa aturan. "Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan." (Amsal 23:13) Kalau anak melanggar aturan, tidak menurut pada perintah orang tua, kita bisa menghajarnya dengan rotan, demikian nasihat firman Tuhan.
Kenapa rotan? Rotan sifatnya lentur, meski menimbulkan bekas luka tidak akan merusak dibandingkan menggunakan benda padat seperti balok kayu. Dipukulnya juga di bagian pantat, di mana banyak lemak, bukan di area vital. Rotan adalah tanda kasih. Jadi, jika anak melakukan kesalahan fatal, dirotan, merasa sakit. Supaya anak tahu arti didikan: sakit jika tidak patuh. Pukulan rotan juga tidak akan membunuh anak.
Anak bukan Batang Singkong yang Dilempar Tumbuh
Batang singkong adalah tanaman yang paling mudah ditanam. Dilempar ke kebun pun bisa tumbuh akar dan tunasnya. Daunnya bisa digoreng menjadi rolade atau menjadi sayur. Tak perlu kerja keras untuk menumbuhkan daun singkong.
Namun, anak tidak begitu. Anak bukan batang singkong yang dilempar asal tumbuh. Maka, pembiaran pada anak bisa berarti orang tua mengabaikan tanggung jawab untuk mendidik anak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar