Ancaman siber 2025: Ransomware AI mengancam dunia

Kemunculan Ransomware Berbasis AI yang Meningkat Pesat

Pada tahun 2025, kejahatan siber semakin berkembang dengan munculnya ancaman baru yang lebih canggih. Salah satu yang menonjol adalah ransomware berbasis AI, yang mulai marak digunakan oleh para pelaku kejahatan siber. Laporan ESET Threat Report H2 2025 mencatat adanya kemunculan PromptLock sebagai ransomware berbasis AI pertama yang mampu membuat skrip berbahaya secara dinamis. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman siber kini tidak lagi hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan efektivitas serangan.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah korban ransomware pada tahun 2025 melampaui tahun sebelumnya. Proyeksi peningkatan mencapai 40 persen secara year-on-year. Selain itu, target serangan tidak lagi hanya perusahaan besar, tetapi juga usaha kecil dan menengah (UKM), institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga individu. Kebanyakan dari mereka belum memiliki sistem keamanan yang memadai atau kebiasaan digital yang baik.

Ancaman Siber yang Berkembang Pesat

Selain ransomware, ESET juga menemukan bahwa modus penipuan investasi dan scam online terus berevolusi. Salah satu contohnya adalah Nomani scam, yang mengalami peningkatan deteksi hingga 62 persen secara tahunan. Pelaku menggunakan deepfake berkualitas tinggi, situs phishing buatan AI, serta iklan digital yang sangat singkat untuk menghindari pendeteksian.

Di sektor perangkat mobile, ESET mencatat lonjakan signifikan serangan berbasis Near Field Communication (NFC) dengan peningkatan deteksi hingga 87 persen pada paruh kedua 2025. Malware lama seperti Ngate kini dapat mencuri kontak pengguna, sementara malware baru RatOn menggabungkan remote access trojan (RAT) dengan serangan relay NFC. RatOn disebarkan melalui halaman Google Play palsu dan iklan yang menyamar sebagai aplikasi populer, termasuk layanan perbankan digital.

Perubahan dalam Peta Kejahatan Siber

Infostealer Lumma Stealer yang sempat merebak pada awal 2025 mengalami penurunan drastis setelah mengalami gangguan pada Mei. Tingkat deteksinya turun hingga 86 persen pada paruh kedua tahun ini. Namun, penurunan tersebut diikuti oleh kemunculan malware baru seperti CloudEyE (GuLoader) yang melonjak hampir 30 kali lipat dan digunakan sebagai pintu masuk ransomware serta pencurian data lainnya.

Beberapa hal yang menjadi perhatian utama adalah:

  • Kemunculan ransomware berbasis AI: PromptLock merupakan contoh pertama dari jenis ransomware ini, yang mampu membuat skrip berbahaya secara dinamis.
  • Penurunan infostealer lama: Lumma Stealer mengalami penurunan signifikan, tetapi ini diikuti oleh munculnya malware baru yang lebih berbahaya.
  • Peningkatan serangan NFC: Di sektor perangkat mobile, serangan berbasis NFC meningkat pesat, dengan peningkatan deteksi hingga 87 persen.
  • Evolusi scam online: Modus penipuan investasi seperti Nomani scam terus berkembang, dengan penggunaan teknologi seperti deepfake dan phishing AI.

Langkah Pencegahan dan Kesadaran Diri

Dengan meningkatnya ancaman siber, penting bagi individu dan organisasi untuk meningkatkan kesadaran akan keamanan digital. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memperkuat sistem keamanan komputer dan perangkat mobile.
  • Menghindari mengklik tautan atau mengunduh file dari sumber yang tidak dikenal.
  • Melatih kebiasaan digital yang aman, seperti tidak memberi informasi pribadi kepada orang asing.
  • Menggunakan software antivirus yang terpercaya dan selalu diperbarui.


Dengan situasi yang semakin kompleks, pencegahan dan kesadaran diri menjadi kunci untuk menghadapi ancaman siber yang semakin canggih.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan