Peringatan Cuaca Ekstrem di Akhir Tahun 2025
Anggota Komisi VII DPR, Chusnunia, menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi pada akhir tahun 2025. Hal ini dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi empat fenomena atmosfer yang berkonvergensi secara simultan. Peristiwa ini dikhawatirkan dapat memengaruhi kegiatan masyarakat, terutama selama musim liburan Natal dan Tahun Baru 2026.
Chusnunia menyampaikan bahwa momen liburan seperti ini biasanya menjadi kesempatan untuk meningkatkan perekonomian, khususnya bagi pelaku pariwisata. Namun, situasi ini harus dihadapi dengan persiapan yang matang. Ia menekankan perlunya pemerintah dan pengelola wisata untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dengan memastikan jalur evakuasi serta titik kumpul yang aman tersedia.
"Kita harus memastikan di tengah cuaca yang seperti ini tempat-tempat wisata maupun taman rekreasi benar-benar siap tidak hanya menyambut wisatawan tapi juga menyiapkan keamanan," ujar Chusnunia.
Selain itu, masyarakat dan wisatawan juga diminta untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. Ia menyarankan agar mereka selalu memperbarui informasi dari BMKG dan menjaga lingkungan sekitar. Prinsip utamanya adalah keselamatan, bukan rencana perjalanan wisata.
"Prinsip utamanya kita harus mengutamakan keselamatan terlebih dahulu, bukan lagi rencana perjalanan wisatanya. Kemungkinan kita masih juga punya waktu untuk mengunjungi di lain waktu atau lain bulan," tambahnya.
Modifikasi Cuaca untuk Mengurangi Dampak Hujan Ekstrem
Sebelumnya, BMKG disebut telah merencanakan modifikasi cuaca di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Lampung. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi hujan ekstrem yang dipicu oleh siklon Bakung, bibit siklon 93S, dan bibit siklon 95S.
Modifikasi cuaca ini disampaikan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). Ia menjelaskan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk mencegah awan-awan hujan mendekati daratan Indonesia.
"Operasi modifikasi cuaca kita lakukan untuk mencegah awan-awan hujan mendekati daratan Indonesia. Jadi kalau dia mendekat, nanti awan hujan itu kita semai dengan bahan semai dari NaCl agar dia jatuh di tempat-tempat seperti di perairan, atau di laut, atau di tempat yang tidak berbahaya," ujar Faisal.
Jika awan hujan sudah sampai di atas Jakarta, maka bahan kapur tohor atau CaO digunakan untuk memecah awan dan mencegah terjadinya hujan. Menurut Faisal, modifikasi cuaca mampu menurunkan curah hujan hingga 20–50 persen.
"Jadi ini membantu untuk mengendalikan atau memitigasi bencana-bencana meteorologi yang mungkin diakibatkan oleh cuaca ekstrem," jelas Faisal.
BMKG bersama instansi terkait akan terus melakukan pemantauan dan antisipasi demi keselamatan masyarakat. Faisal juga meminta masyarakat tetap tenang saat menghadapi potensi cuaca ekstrem.
"Kami sudah bekerja sama dengan BNPB, BPBD, serta Basarnas. Untuk masyarakat, tetap tenang selama kita dapat memantau kondisi dan selalu bersiap untuk curah hujan tinggi dan gelombang tinggi," ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar