Anggota DPR Tekankan Reformasi Polri Harus Menyentuh Akar Masalah

Langkah Awal Penting dalam Pembenahan Penegakan Hukum

Anggota DPR RI, Azis Subekti menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto membentuk Tim Reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai langkah awal penting dalam pembenahan penegakan hukum nasional. Menurutnya, kebijakan tersebut mencerminkan keberanian negara untuk menata institusi penegak hukum secara serius di tengah ekspektasi publik yang kian tinggi terhadap keadilan.

Azis menegaskan, Polri merupakan wajah negara yang paling sering ditemui warga. Interaksi masyarakat dengan aparat kepolisian, mulai dari razia lalu lintas hingga penanganan perkara pidana, sangat menentukan persepsi publik terhadap kehadiran negara. Karena itu, ia menekankan reformasi Polri tidak bisa dipahami sebagai isu internal semata.

Reformasi Polri Bukan Sekadar Urusan Internal Lembaga

Azis menyebut, reformasi Polri bukan sekadar urusan internal lembaga, melainkan agenda publik yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari. "Karena itu, reformasi Polri tidak bisa dipahami sebagai isu internal institusi semata, melainkan sebagai agenda publik yang dampaknya langsung dirasakan oleh kehidupan sehari-hari rakyat," ungkap dia.

Diskresi Tanpa Batas Picu Ketidakpastian Hukum

Azis mengingatkan, kepolisian memang membutuhkan diskresi agar dapat bertindak cepat di lapangan. Namun, diskresi yang tidak dibatasi secara jelas justru berpotensi melahirkan ketidakpastian hukum. "Publik kerap mempertanyakan mengapa kasus tertentu ditangani sangat cepat, sementara kasus lain berjalan lambat atau bahkan mengendap tanpa kejelasan," ujarnya. Menurut Azis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa standar dan prosedur penanganan perkara belum sepenuhnya transparan dan konsisten.

Karena itu, ia menilai kehadiran Tim Reformasi Polri menjadi krusial untuk membenahi sistem penanganan perkara secara lebih terbuka. Mulai dari kejelasan alur proses hukum, batas waktu penanganan, hingga akses informasi bagi pelapor dan korban. Ia juga menekankan pentingnya penguatan mekanisme pengaduan masyarakat agar tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan benar-benar dipercaya publik karena mampu menindaklanjuti laporan secara objektif dan adil.

Ujian Awal Komitmen Pemerintahan Prabowo

Lebih jauh, Azis menilai pembentukan Tim Reformasi Polri merupakan ujian awal bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun negara yang kuat sekaligus berkeadilan. “Negara yang kuat bukanlah negara yang kebal dari kritik, melainkan negara yang memiliki keberanian untuk menata ulang institusinya ketika kepercayaan publik tergerus,” tulisnya.

Ia menambahkan, reformasi kepolisian yang berhasil akan memberikan efek berantai, mulai dari meningkatnya kepastian hukum, membaiknya iklim usaha, hingga menguatnya kualitas demokrasi. Sebaliknya, jika reformasi hanya berhenti pada perubahan administratif tanpa pembenahan substansi, harapan publik dikhawatirkan kembali berujung pada kekecewaan.

Lebih lanjut, Azis menegaskan bahwa kepolisian yang profesional, transparan, dan akuntabel merupakan prasyarat utama negara hukum modern. “Reformasi Polri bukan sekadar agenda internal institusi, melainkan bagian dari kontrak sosial antara negara dan warganya,” tegasnya.

Berbagai Isu Terkait Reformasi Polri

Komisi Reformasi Polri juga telah melakukan audiensi terkait reformasi polri, termasuk membahas prosedur pemilihan Kapolri. Selain itu, Komisi Reformasi Polri juga membahas pembebasan tiga orang yang terlibat dalam kerusuhan Agustus. DPR juga mendorong Korlantas menjadi badan lalu lintas, sesuai dengan rekomendasi reformasi Polri.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan