Upaya Mencegah Radikalisme di Dunia Digital
Vita Ervina, anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menyoroti pentingnya upaya menekan paparan radikalisme di dunia digital. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terdapat 112 anak yang terpapar paham radikalisme melalui media sosial dan game online sepanjang tahun 2025.
Menurut Vita, data tersebut menjadi alarm keras bahwa ruang digital telah menjadi medan baru penyebaran ideologi kekerasan yang menyasar kelompok paling rentan, yakni anak-anak. Ia menilai, lingkungan digital kini telah berubah menjadi wilayah yang sangat rentan terhadap penyebaran paham ekstremis.
1. Harus Ada Pencegahan

Vita menekankan bahwa pemerintah harus bisa melakukan pencegahan terhadap paparan radikalisme di dunia digital, bukan hanya fokus pada penindakan. Menurut dia, anak-anak yang terjerat paham ekstremis sebenarnya adalah korban dari rendahnya kemampuan literasi digital, kurangnya kontrol orangtua atau pihak terkait, serta belum optimalnya program-program kontra-radikalisasi yang tidak selaras dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan digital generasi muda saat ini.
“Penanganan persoalan ini harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga platform digital yang digunakan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Vita.
2. Efisiensi Anggaran Tidak Boleh Menghambat Pencegahan Paham Radikalisme

Vita berharap, efisiensi anggaran terhadap penanggulangan terorisme tidak menghambat peluang bagi inovasi dan kegiatan edukasi dalam rangka upaya preventif radikalisme sejak usia dini. Ia menilai, upaya-upaya kreatif seperti kampanye digital ramah anak, kolaborasi dengan platform gim dan media sosial, hingga penguatan literasi digital di lingkungan keluarga dan sekolah harus tetap dimaksimalkan.
Ia menegaskan bahwa pencegahan radikalisme tidak boleh terabaikan meskipun ada pembatasan anggaran. “Kami memastikan bahwa semua langkah preventif tetap dilakukan agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat,” tambahnya.
3. Negara Tidak Boleh Membiarkan Anak-Anak Terpapar Paham Ekstrem

Vita menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan anak-anak terpapar paham ekstrem. Oleh karena itu, negara harus memiliki sistem pencegahan yang baik. Ia menekankan bahwa anak-anak tidak boleh dibiarkan menjadi pelaku terorisme.
“Negara harus hadir membangun sistem pencegahan yang kuat,” ujarnya. Vita menilai, peran pemerintah sangat penting dalam mengawasi dan memastikan bahwa anak-anak tidak terpapar informasi yang merusak nilai-nilai kehidupan.
Pentingnya Kolaborasi dalam Melawan Radikalisme Digital
Selain upaya pencegahan, Vita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dan platform digital. Dengan adanya sinergi yang kuat, diharapkan dapat meminimalisir risiko paparan radikalisme di kalangan anak-anak.
Ia juga mengajak pihak-pihak terkait untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan sehat bagi generasi muda. Dengan pendekatan yang terencana dan terstruktur, diharapkan bisa mengurangi ancaman radikalisme di dunia digital.
Dalam konteks yang lebih luas, Vita menilai bahwa perlu adanya kebijakan yang lebih proaktif dalam menangani isu radikalisme. Hal ini tidak hanya berdampak pada keamanan nasional, tetapi juga pada masa depan bangsa yang akan dibentuk oleh generasi muda yang sehat dan berkualitas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar