Anggota Polairud Kaltim Terjebak Banjir Aceh, Berjalan Kaki 3 Hari Melalui Lumpur

Anggota Polairud Kaltim Terjebak Banjir Aceh, Berjalan Kaki 3 Hari Melalui Lumpur

Kisah Keluarga Polisi yang Menghadapi Bencana di Aceh

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, khususnya Aceh, telah meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang. Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah kisah keluarga Bripka Taufik Ismail, PS. Panit 2 Binmas Air di Dit Polairud Polda Kalimantan Timur. Ia tidak hanya menjadi bagian dari tim bantuan kemanusiaan, tetapi juga mengalami langsung dampak bencana tersebut dari jauh.

Awal Kekhawatiran

Awalnya, kekhawatiran Taufik muncul saat ia menerima telepon dari keluarganya di Aceh. Mereka memberi tahu bahwa air mulai naik di sekitar rumah mereka. Namun, pada awalnya, hal ini dianggap sebagai hal biasa ketika hujan deras terjadi. Tidak ada yang mengira bahwa situasi akan memburuk secara tiba-tiba.

Beberapa jam kemudian, sinyal komunikasi hilang. Semua nomor telepon keluarga di Aceh Timur, Aceh Utara, hingga Lhokseumawe tidak bisa terhubung. Hal ini membuat Taufik dan rekan-rekannya di Balikpapan merasa cemas selama empat hari tanpa kabar apapun.

Perjalanan Darurat

Setelah empat hari, akhirnya Taufik menerima telepon dari adik iparnya, seorang polisi di Pidie Jaya. Adik ipar itu nekat mencari anak dan istrinya dengan berjalan kaki. Perjalanan yang ditempuhnya memakan waktu tiga hari. Jika ada kendaraan lewat, ia ikut. Jika tidak, ia terus berjalan kaki. Tujuannya hanya satu: sampai ke rumah.

Kondisi Pengungsian

Dalam kondisi darurat, keluarga besar yang berjumlah lebih dari 50 orang bertahan di titik-titik tinggi, termasuk di loteng rumah yang terendam lumpur setinggi pinggang. Lantai bawah rumah penuh lumpur dan tidak bisa ditempati. Ada kerabat yang tinggal di loteng, ada yang mengungsi di dekat Lhokseumawe dan Banda Aceh, karena saat itu hanya dua daerah itu yang lebih cepat mendapat akses komunikasi.

Keluarga Taufik akhirnya bertemu mertua dan tujuh cucunya di pengungsian dekat sebuah masjid di kawasan Panton Labu. Meskipun begitu, komunikasi masih sulit. Taufik sempat melakukan video call, tetapi suasana sangat menyedihkan.

Kebutuhan Makanan dan Obat

Taufik menyebut bahwa bantuan uang sempat dikirim, namun percuma. ATM tidak berfungsi, semua terendam. Bahkan, celengan pun tidak terpakai. Yang mereka butuhkan saat ini hanya makanan dan obat-obatan.

Kehilangan dalam Bencana

Ia juga bercerita tentang pamannya, Suleman, 60 tahun, yang memiliki riwayat sakit jantung. Paman itu sempat menyelamatkan barang dan memindahkan mobil ke SPBU sebelum akhirnya duduk di samping istrinya. Dikira kecapekan, ternyata sudah meninggal. Jenazah sang paman baru bisa dimakamkan setelah hampir 2,5 hari kemudian, itu pun bukan di pemakaman umum. Makam banyak yang tenggelam, sehingga keluarga sepakat memakamkan beliau di depan rumah yang lebih tinggi, tanah yang tidak tersapu banjir.

Harapan untuk Orang yang Masih Hilang

Meski sebagian besar keluarga sudah berhasil dihubungi, masih ada satu orang kerabat yang belum tersambung hingga kini: Sofian, mantan pimpinan di perkebunan wilayah Aceh Timur, yang terakhir berada di Langsa. Taufik terus memanggil lewat sambungan, tapi belum bisa terhubung. Ia hanya bisa berdoa, mudah-mudahan selamat.

Dukungan Moril dan Bantuan

Di tengah kesibukan sebagai anggota Polri dan relawan kemanusiaan, Taufik mengaku hanya bisa memberi dukungan moril bagi keluarganya yang masih tersendat akses di Aceh. Kirim uang pun mau ambil ke mana. Untuk sekarang, yang penting mereka dikirimi bantuan makanan dan obat dulu.

Kesimpulan

Kisah ini menjadi pengingat pilu bahwa bencana tak hanya memutus jembatan dan jalan, tapi juga lini komunikasi keluarga. Namun, di dalamnya ada solidaritas dan keberanian, dari Balikpapan hingga Aceh, demi orang-orang yang mereka cintai.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan