
Cuaca Ekstrem Kembali Mengancam Hunian Sementara di Larantuka
Cuaca ekstrem kembali menguji ketahanan para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di kawasan Huntara 3, Desa Konga, Kecamatan Titihena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Senin, 3 Januari 2025 siang, satu unit hunian sementara (Huntara) dilaporkan mengalami kerusakan serius pada bagian atap pasca diterjang angin puting beliung secara mendadak.
Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan, unit yang terdampak adalah Hunian Nomor 851 yang dihuni oleh Kanisius Faros Lengga. Kondisi cuaca sebelum kejadian justru terpantau cerah dan panas terik. Namun, tiba-tiba sekitar pukul 12.30 WITA, pusaran angin kencang menerjang kawasan tersebut.
“Kejadiannya sangat cepat. Saat itu satu kopel yang dihuni lima kepala keluarga (KK) warga Hokeng Jaya tiba-tiba dihantam angin. Dari lima unit di kopel tersebut, hanya rumah milik Kanisius Faros Lengga yang atapnya terbongkar,” ungkap Oncu Ida, warga setempat.
Dahsyatnya hantaman angin membuat material bangunan terlepas dari rangkanya. Lantaran tiupan yang begitu kuat, dua lembar seng atap unit 851 terbang menjauh, bahkan salah satunya jatuh hingga ke dalam kali di sekitar kawasan tersebut.
Kejadian ini sempat memicu kepanikan di antara penghuni huntara. Beruntung, Kanisius Faros Lengga yang menghuni rumah tersebut bersama satu anggota keluarga lainnya berhasil selamat tanpa mengalami luka. Kendati tidak ada korban jiwa, warga sempat kocar-kacir menyelamatkan diri saat angin menerjang.
“Pemilik rumah baru hendak keluar dan belum sampai ke jalan saat angin menghantam. Puji Tuhan, semua selamat, tapi warga tetap trauma,” tambah Oncu Ida.
Namun, situasi ini terasa ironis. Pasalnya, hingga berita ini diturunkan, belum terlihat langkah nyata dari pihak terkait untuk menangani kerusakan tersebut. Alhasil, unit 851 kini dalam kondisi terbuka dan sangat rawan apabila hujan turun atau angin kencang kembali melanda.
Warga mendesak pemerintah segera turun tangan dan meminta pihak pengembang lebih serius memastikan kualitas bangunan huntara. Lantaran hunian tersebut menjadi tempat bernaung para penyintas bencana, kualitas bangunan yang layak dan aman dinilai sangat krusial demi menjamin keselamatan dan ketenangan mereka.
Masalah Utama yang Diangkat
- Kerusakan fisik pada hunian sementara: Unit 851 mengalami kerusakan parah akibat angin puting beliung.
- Ketidakpastian dari pihak terkait: Belum ada respons signifikan dari pemerintah atau pengembang untuk memperbaiki kerusakan.
- Kebutuhan akan kualitas bangunan yang baik: Warga menuntut agar hunian sementara dibangun dengan standar yang memadai untuk menjaga keselamatan para penyintas.
Kritik terhadap Pengelolaan Bencana
Warga setempat merasa bahwa sistem pengelolaan bencana masih kurang optimal. Mereka berharap pihak berwenang dapat lebih proaktif dalam memberikan perlindungan dan perbaikan terhadap hunian sementara yang telah disediakan.
Harapan Masyarakat
Masyarakat berharap pemerintah dapat segera melakukan evaluasi terhadap kualitas bangunan hunian sementara. Selain itu, mereka juga menuntut adanya peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah dan pengembang untuk memastikan bahwa semua hunian sementara mampu bertahan terhadap ancaman cuaca ekstrem.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar