
Perkuat Penanganan Stunting, Pemkab Banyumas Lakukan Berbagai Langkah
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas terus memperkuat langkah penanggulangan stunting yang saat ini masih menjadi tantangan serius di masyarakat. Hal ini mengemuka dalam sarasehan penanganan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), stunting, dan penguatan Posyandu yang dipimpin langsung oleh Bupati Banyumas Sadewo pada Kamis 11 Desember 2025 di Ruang Joko Kahiman.
Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dr. Dany, menjelaskan bahwa prevalensi stunting Banyumas berada di angka sekitar 14% per November 2025. Meski capaian kasus baru stunting sudah berada di bawah target 2,5%, angka tersebut masih menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah karena menunjukkan bahwa ribuan anak di Banyumas tetap memerlukan intervensi intensif.
Salah satu wilayah dengan kasus stunting tertinggi adalah Kecamatan Purwojati. Kondisi ini dipengaruhi banyak faktor, salah satunya kebiasaan merokok di dalam rumah. Menurut dr. Dany, keluarga perokok menjadi faktor risiko terbesar penyumbang stunting karena selain menurunkan kualitas belanja pangan, asap rokok juga memberi dampak kesehatan jangka panjang bagi anak.
Di sisi lain, upaya pemenuhan gizi melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) masih terkendala. Hingga November 2025, cakupan PMT tercatat berada di bawah rata-rata nasional, dipengaruhi keterbatasan anggaran, sasaran yang belum merata, serta perbedaan input antarkecamatan. Kondisi ini menyebabkan sebagian anak dengan risiko gizi kurang belum terjangkau layanan secara optimal.
Tantangan dalam Penguatan Posyandu
Posyandu menjadi ujung tombak intervensi stunting, namun kini menghadapi beberapa tantangan:
- 60% kader Posyandu belum terlatih
- Banyak Posyandu terpaksa buka malam karena kader bekerja
- Alat antropometri belum memadai
- Banyak desa belum memberikan insentif kader, meski telah diatur dalam regulasi
Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap kualitas pemantauan tumbuh kembang anak di tingkat desa.
Peran Lintas Sektor dalam Penanganan Stunting
Bupati Sadewo menegaskan perlunya gerakan bersama untuk menekan angka stunting di Banyumas. Ia menyoroti pentingnya Skrining Layak Hamil sebagai pendekatan preventif sebelum kehamilan terjadi, sehingga risiko kekurangan gizi dan komplikasi dapat dikurangi sedini mungkin.
Penanganan stunting tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus melibatkan lintas sektor, komunitas, dan keluarga. Kita harus bekerja lebih cepat dan lebih kompak agar angka stunting Banyumas benar-benar turun signifikan, ujar Bupati.
Intervensi stunting kini diperluas, bukan hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga balita dan ibu hamil. Program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat juga didorong agar menjangkau lebih banyak keluarga rentan.
Dengan prevalensi stunting yang masih cukup tinggi meski menunjukkan tren perbaikan, Pemkab Banyumas menargetkan percepatan penurunan melalui penguatan Posyandu, edukasi keluarga, dan peningkatan layanan bagi wanita usia subur.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar