
Perdana Menteri Malaysia Menolak Pengakuan Israel terhadap Wilayah Somaliland
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, pada Selasa, 30 Desember 2025 menolak pengakuan Israel atas wilayah Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers, di mana Anwar mengaitkan tindakan Israel dengan dugaan pemindahan paksa warga Palestina.
"Tindakan seperti itu melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan, dan hanya akan melanggengkan ketidakadilan daripada berkontribusi pada perdamaian," ujarnya. Ia menekankan bahwa setiap upaya memindahkan paksa warga Palestina sama sekali tidak dapat diterima.
Pernyataan Anwar muncul setelah kelompok Palestina Hamas menolak rencana Israel untuk secara paksa memindahkan warga Palestina dari Gaza, termasuk ke Somaliland. Hal ini menyusul pengakuan Tel Aviv terhadap wilayah yang memisahkan diri tersebut.
Anwar Ibrahim juga mencatat diskusi-diskusi baru-baru ini yang diadakan di Florida untuk fase selanjutnya dari proses perdamaian. Ia memperingatkan bahwa kembalinya kekerasan berskala besar akan menimbulkan biaya yang tak tertahankan bagi warga sipil dan semakin melemahkan prospek perdamaian yang rapuh.
"Israel harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan dan kewajibannya berdasarkan hukum internasional," ujarnya.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland Mengundang Kecaman
Pada hari Jumat, Israel menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat. Langkah ini mendapat kecaman dari banyak negara, yang menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional serta ancaman terhadap stabilitas regional.
Somalia menegaskan kembali komitmen mutlak dan tak tergoyahkan terhadap kedaulatan, persatuan nasional, dan integritas wilayahnya setelah Israel mengakui Somaliland. Wilayah ini belum mendapatkan pengakuan resmi sejak mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, dan beroperasi sebagai entitas administratif, politik, dan keamanan yang secara de facto independen.
Pemerintah Somaliland berjuang menegakkan kendali atas wilayah tersebut, tetapi kepemimpinannya tidak mampu mendapatkan pengakuan internasional atas kemerdekaannya. Pengakuan Israel terhadap wilayah tersebut juga dikecam oleh Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud.
Kecaman dari Presiden Somalia
Mohamud menyatakan bahwa negaranya tidak ingin Israel hadir di Somaliland. Ia memperingatkan bahwa pengakuan Tel Aviv terhadap wilayah yang memisahkan diri itu berisiko membawa konflik mereka ke wilayah tersebut.
“Kami tidak pernah menyerang Israel. Kami tidak pernah menciptakan masalah bagi Israel. Kami tidak ingin Israel datang kepada kami dan membawa masalah mereka kepada kami,” katanya.
Sebelumnya, Mohamud mengatakan bahwa wilayah Somaliland yang memisahkan diri telah setuju untuk memukimkan kembali warga Palestina. Somaliland juga bersedia menjadi tuan rumah pangkalan militer Israel sebagai imbalan atas pengakuan dari Israel, dengan mengutip laporan intelijen.
Status Somaliland dan Perspektif Internasional
Somaliland, yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991, telah beroperasi sebagai wilayah yang secara de facto berpemerintahan sendiri tanpa pengakuan internasional. Mogadishu menolak klaim kemerdekaan Somaliland, menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari Somalia, dan memandang setiap keterlibatan langsung dengannya sebagai pelanggaran kedaulatan negara.
Selain itu, beberapa pihak internasional menilai bahwa pengakuan Israel terhadap Somaliland dapat menciptakan ketidakstabilan di kawasan Afrika Timur. Beberapa negara Eropa dan Afrika mengecam langkah Israel, sementara sejumlah lainnya menilai bahwa pengakuan tersebut bisa menjadi langkah awal menuju solusi damai antara Israel dan Palestina.
Namun, banyak ahli mengkhawatirkan bahwa tindakan Israel justru akan memperburuk situasi, karena keterlibatan negara-negara besar di wilayah yang masih dalam kontroversi dapat memicu konflik yang lebih luas.
Dengan demikian, isu pengakuan terhadap Somaliland menjadi sorotan global, dan tindakan yang diambil oleh negara-negara besar akan sangat memengaruhi dinamika hubungan internasional di masa depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar