
Fenomena Hujan Meteor Geminid yang Dinantikan
Langit akan disinari salah satu fenomena astronomi tahunan yang paling dinantikan, yaitu Hujan Meteor Geminid. Fenomena ini mencapai puncaknya pada tanggal 1314 Desember 2025. Uniknya, hujan meteor ini memiliki durasi yang relatif singkat dan dikenal karena mampu memproduksi meteor-terang (fireball).
Apa Itu Hujan Meteor Geminid?
Astronom Amatir, Marufin Sudibyo, menjelaskan bahwa hujan meteor Geminid sudah mulai aktif sejak 4 Desember dan akan berlangsung hingga 17 Desember 2025. Durasi Geminid tergolong singkat dibandingkan hujan meteor lain yang umumnya bisa berlangsung sebulan atau lebih.
Marufin mengatakan, singkatnya durasi ini menunjukkan bahwa Geminid masih sangat muda dalam perspektif astronomi. "Sehingga kolom debu-pasir yang menjadi sumbernya belum begitu melebar akibat gangguan gravitasi planet-planet," ujar Marufin.
Hujan meteor Geminid pertama kali tercatat pada tahun 1862, kurang lebih 1,5 abad silam. Usia ini sangat muda bila dibandingkan hujan meteor Perseida yang sudah teramati selama 20 abad, atau Leonida yang sudah teramati sejak 10 abad lalu.
Karena usianya yang masih muda, Marufin menambahkan, sebagian meteoroid Geminida masih berukuran relatif besar, bahkan hingga seukuran kerikil. Kondisi ini membuat hujan meteor Geminida kerap memproduksi meteor-terang (fireball).
Remah Asteroid Raksasa
Meteoroid Geminida berasal dari remah-remah pecahnya komet atau tubrukan dua asteroid besar yang terjadi sekitar 2.000 tahun silam. Sisa dari peristiwa itu kini membentuk tiga asteroid 'anak' yang sudah terdeteksi. Ketiganya adalah 3200 Phaethon, 2005 UD, dan 1999 YC.
"Dari ketiga objek tersebut, hanya 3200 Phaethon yang diketahui memancarkan debu dan pasir saat mendekati Matahari hingga di sekitar titik perihelionnya," kata Marufin.
Namun, para astronom berspesialisasi meteor beranggapan bahwa masih ada asteroid-asteroid 'anak' yang lebih kecil yang belum terdeteksi. "Hal ini karena skala pecahnya komet atau tubrukan dua asteroid itu luar biasa, sehingga mengemisikan debu-pasir 10 kali lipat lebih banyak dibanding yang dilepaskan 3.200 Phaethon sendirian."
Karakteristik Unik: Lebih Lambat dan Putih Kekuningan
Hujan meteor Geminid dikenal memiliki kecepatan yang relatif lambat saat memasuki atmosfer Bumi. Kecepatannya mencapai 35 km/detik. Kecepatan ini hanya sedikit lebih cepat dibanding rentang kecepatan kepingan asteroid yang jatuh ke Bumi, yakni 12-25 km/detik.
Meskipun lambat, jumlah meteor Geminida relatif banyak. Pada puncaknya, intensitasnya mencapai 150 meteor/jam (Zenithal Hourly Rate atau ZHR). Marufin menjelaskan, jumlah meteor yang banyak dalam durasi singkat menyebabkan hujan meteor ini dikenal "lebih padat" (intensitasnya). "Konsekuensinya bagi kita di Bumi, kita akan melihat meteor-meteor Geminida saling susul menyusul di langit," kata Marufin.
Selain intensitas, meteor Geminida juga memiliki warna khas. Meteor-meteor Geminida cenderung berwarna putih kekuningan. "Warna ini disebabkan oleh dua faktor. Kecepatan yang relatif lambat dan komposisi meteoroid-nya yang lebih dominan batuan (siderolit) dengan kandungan Nikel yang lebih rendah," jelas dia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar