Mengenal Japanuary Challenge, Tantangan Nonton Film Jepang di Awal Tahun
Januari sering kali menjadi momen awal tahun yang penuh dengan resolusi dan rencana baru. Namun, bagi sebagian orang, hal ini bisa terasa membosankan. Jika kamu merasa jenuh dengan kebiasaan biasa, mungkin Japanuary Challenge bisa menjadi alternatif menarik untuk dilakukan di awal tahun.
Japanuary Challenge adalah tantangan sederhana yang mengajak para penggemar film untuk menonton film-film Jepang selama bulan Januari. Meski terdengar mudah, tantangan ini sebenarnya bisa menjadi ujian konsistensi dan komitmen sebagai seorang sinefili. Berikut beberapa hal penting tentang Japanuary Challenge.
Sejarah Japanuary Challenge

Japanuary Challenge pertama kali dipopulerkan oleh platform media sosial khusus film Letterboxd pada 2021. Artinya, 2026 menjadi edisi kelima dari tantangan ini. Setiap 1 Januari, salah satu anggota tim Letterboxd akan merilis daftar film Jepang yang direkomendasikan untuk ditonton. Daftar ini disusun secara acak, mulai dari genre hingga tahun rilis.
Kamu bebas memilih rekomendasi film yang diberikan atau mencari film sendiri. Tidak ada batasan minimal jumlah film yang harus ditonton maupun syarat khusus. Selama film tersebut diproduksi dan berlatarkan Jepang, maka sah-sah saja. Hal ini membuat daftar rekomendasi film untuk Japanuary Challenge sangat beragam dan tidak terduga. Kamu bisa menonton film arthouse, sinema klasik legendaris, karya indie yang minim publikasi, film aksi, neo-noir, hingga mengenal skena film Pink Jepang—yang dikenal juga dengan istilah Pink—yaitu film erotis yang mengeksploitasi seksualitas.
Cara Menyusun Daftar Film untuk Japanuary

Masalahnya, begitu banyaknya opsi film yang tersedia, kamu mungkin kesulitan menentukan film mana yang ingin ditonton. Namun, biasanya film-film klasik karya sutradara legendaris Jepang seperti Akira Kurosawa (Ikiru, High and Low) dan Yasujirō Ozu (Ohayo, Tokyo Story) selalu masuk daftar. Tambahkan kombinasi film-film kontemporer karya Hirokazu Koreeda (Still Walking, Shoplifters) dan Ryusuke Hamaguchi (Asako I & II, Evil Does Not Exist). Boleh juga menambahkan film-film noir dan absurd karya Takeshi Kitano (Kids Return, Violent Cop), Shinya Tsukamoto (Bullet Ballet, Tokyo Fist), serta Takashi Miike (Audition, First Love).
Jangan lupa memberi apresiasi kepada sutradara perempuan Jepang seperti Miwa Nishikawa (Wild Berries, Sway) dan Naomi Kawase (Sweet Bean, True Mothers). Kamu juga bisa memilih film berdasarkan trope dan topik besar. Jika suka drama sekolah, coba Swing Girls (2004), Linda Linda Linda (2008), dan Waterboys (2001). Pecinta horor bisa mencoba Cure (1997) dan Pulse (2001) karya Kiyoshi Kurosawa. Memilih film dari aktor atau aktris favorit juga bisa dilakukan. Tidak perlu minder, karena dari sosok yang kamu sukai, kamu bisa berkenalan dengan genre dan trope yang sebelumnya kamu hindari.
Manfaat Ikut Japanuary Challenge

Lantas, apa manfaatnya ikut Japanuary Challenge? Sebenarnya, ini bisa dijadikan alternatif hiburan saat gabut atau punya waktu luang. Hitung-hitung ini jadi pengganti kebiasaan doomscroll yang bikin kamu merasa tidak produktif. Tantangan ini juga bisa membuat kamu menjelajahi film yang selama ini mungkin tidak pernah masuk prioritas.
Namun, jangan sampai terlena dengan banyaknya pilihan hingga terjebak dalam proses pencarian film. Yang begini justru melupakan tugas utamanya: menonton film hingga selesai dan lupa untuk cek medsos. Siapa tahu kamu juga terpikir untuk membuat tantangan serupa dengan kategori yang berbeda.
Entah kamu berhasil menamatkan satu atau puluhan film Jepang dalam sebulan, itu semua tidak perlu jadi soal, apalagi kompetisi. Nikmati saja prosesnya sebagaimana sebuah hobi yang tujuannya sebagai hiburan. Jadi, sebagai sinefili, apakah kamu tertarik mengikuti Japanuary Challenge tahun ini?
8 Film Seru yang Tayang Terakhir di Netflix Januari 2026
7 Film MCU Paling Menegangkan Sejauh Ini, Setuju?
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar