
Perubahan Zaman dan Perubahan Gaya Hidup
Dulu, ketika anak-anak mulai dewasa, orang tua biasanya duduk santai di kursi goyang. Di kampung saya, kursi itu disebut "kursi malas", bukan tanpa alasan. Kalau sudah enak duduk di sana, memang rasanya malas sekali untuk bangun.
Saat nenek mulai memegang sapu lidi untuk menyapu halaman, dari dapur langsung terdengar suara ibu:
"Hai anak-anak! Masa iya nenek yang menyapu halaman? Indak bakarunciangan (tidak tahu aturan)!"
Begitu pula ketika kakek turun ke kebun untuk membersihkan rumput liar. Suara ibu pasti muncul:
"Masa iya kakek yang membersihkan kebun? Malu nggak dilihat tetangga?!"
Pada masa itu, "memanjakan" orang tua dengan cara tidak membiarkan mereka melakukan apa pun dianggap sebagai wujud kasih sayang. Anak-anak berlomba mengambil alih semua pekerjaan rumah, agar orang tua bisa beristirahat sepanjang hari.
Namun ternyata, pola pikir itu menyimpan kekeliruan besar.
Karena duduk seharian di kursi goyang membuat banyak orang tua kehilangan kesempatan untuk hidup mandiri. Baru berusia 65 tahun saja sudah tidak kuat berjalan jauh, tidak berani mengurus diri sendiri, bahkan hal-hal sederhana terasa semakin sulit.
Zaman Berubah, Cara Sayang Kita Ikut Berubah
Kini, setelah belajar dari kesalahan masa lalu, kita justru dianjurkan untuk memberi ruang agar kakek nenek tetap aktif dan mandiri. Memberikan kesempatan untuk tetap melakukan hal-hal yang mereka mampu.
Contohnya saya alami sendiri bulan lalu. Saat kami berkunjung ke rumah putri kami di Wollongong, New South Wales, Putri kami langsung menyodorkan kunci mobil sambil berkata:
"Papa, ini kunci mobil. Jadi papa mama mau ke mana saja tidak usah naik taksi."
Kalau kalimat itu diucapkan 30 tahun yang lalu, mungkin dianggap tidak sopan. Orang pasti akan berkata: "Bukannya bilang: papa mama kasih tahu saja mau kemana ya, supaya diantar. Kok malah kasih kunci mobil?"
Namun kini, kami justru merasa dihargai. Putri kami bukan sedang melepas tangan. Ia sedang mempercayai kemampuan kami. Ia ingin kami tetap menikmati kebebasan, tetap merasa mandiri, tetap bergerak seperti biasa.
Ternyata apa yang dulu dianggap "kurang ajar", justru kini dipahami sebagai bentuk perhatian yang lebih dewasa dan bijaksana.
Kasih Sayang yang Sejati
Kasih sayang pada orang tua bukan selalu berarti melarang mereka bergerak. Kasih sayang yang sejati adalah:
- Memberi ruang agar orang tua tetap berdiri tegak
- Memberi kesempatan untuk tetap aktif
- Memberi kepercayaan untuk tetap mengambil keputusan sendiri
- Membiarkan orang tua menjalani hari tanpa merasa menjadi beban
Kita semua mencintai orang tua kita, tetapi cinta kita pun harus ikut berkembang seiring zaman. Karena ketika orang tua masih bisa bergerak, memilih, berkarya, dan beraktivitas, di situlah orang tua kita merasa berharga.
Keberhasilan dalam Kemandirian
Sesungguhnya di usia berapa pun, setiap manusia ingin tetap merasa dirinya berarti. Walaupun tampaknya sangat sepelekan, seperti ikut berkebun bersama anak-anak, adalah sebuah kebahagiaan bagi orang tua.
Kami berdua adalah saksi hidup bahwa dengan cara membetulkan kesempatan kepada orang tua untuk tetap aktif, maka puji syukur kehadirat Tuhan, hingga kini usia 82 tahun plus, A to Z masih kami lakukan secara mandiri.
Dari mulai berbelanja keperluan dapur, memasak dan membersihkan rumah dengan mencangkul dan merawat kebun, kami lakukan secara mandiri. Mengemudikan kendaraan hingga keluar kota adalah tugas saya. Sewaktu Maria adik istri datang berkunjung ke Perth dan tinggal bersama kami selama sekitar 3 minggu, setiap kami ajak ke berbagai lokasi yang jaraknya sekitar 7 jam pulang pergi. Saya mengemudikan kendaraan tanpa ada masalah sama sekali.
Pesan Moral untuk Generasi Muda
Pesan moral bagi generasi muda: Jangan memanjakan orang tua secara keliru. Karena secara tanpa disadari sesungguhnya menyebabkan orang tua tidak hidup mandiri, serta kehilangan gairah hidup.
Renungan Kecil di Malam Hari
Tjiptadinata Effendi
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar