
Perubahan Kebijakan Alkohol di Arab Saudi
Selama lebih dari 70 tahun, Arab Saudi dikenal sebagai negara dengan larangan alkohol paling ketat di dunia. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa negara Islam ini mulai melonggarkan akses penjualan alkohol, meskipun tidak secara terang-terangan. Perubahan ini menandai awal dari pergeseran kebijakan yang mungkin akan berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi negara tersebut.
Kebijakan larangan alkohol di Arab Saudi telah diterapkan sejak 1950-an dan bertahan selama beberapa dekade. Akses minuman beralkohol biasanya hanya terjadi melalui pasar gelap, pesta privat, atau suplai alkohol dari kedutaan besar yang memanfaatkan jalur diplomatik. Namun, situasi mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam 10 tahun terakhir, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah mendorong berbagai reformasi sosial, seperti menghapus polisi syariah, mengizinkan perempuan mengemudi, dan membuka hiburan publik. Meski begitu, legalisasi alkohol tetap menjadi isu sensitif yang tidak pernah diumumkan secara formal oleh pihak kerajaan.
Pemerintah Arab Saudi diketahui telah menghentikan sistem lama yang memungkinkan diplomat membawa alkohol dalam jumlah besar melalui pengiriman diplomatik. Langkah ini disebut sebagai upaya mengendalikan pasar gelap dan menjadi sinyal awal adanya perubahan sistem distribusi alkohol ke negara itu.
Beberapa waktu setelah pembatasan itu, sebuah toko minuman beralkohol resmi dibuka di kawasan Diplomatic Quarter, Riyadh, tetapi hanya untuk diplomat dan warga asing nonmuslim yang memegang izin premium residency (izin tinggal khusus bagi warga asing kaya atau berpendidikan tinggi). Toko tersebut tidak memiliki nama dengan plang bertuliskan “Barang Bebas Pajak (VAT) Khusus untuk Diplomat Saja”, tidak tercantum di peta, dan hanya diketahui melalui berbagi lokasi GPS antarorang dalam jaringan tertutup.
Sistem aksesnya pun dibuat sangat ketat. Pelanggan harus menunjukkan kartu identitas resmi, memiliki kuota bulanan yang terhubung ke aplikasi pemerintah, serta membayar harga yang jauh lebih tinggi dari standar internasional. Bahkan, menurut laporan, satu botol anggur putih dengan kualitas menengah dijual sekitar 1,4 juta rupiah dengan sistem harga diplomat lebih murah sedangkan premium residents lebih mahal.
Meski toko mulai ramai dikunjungi, pemerintah Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi. Media lokal juga tidak menyoroti perkembangan ini. Langkah serba senyap ini dianggap konsisten dengan pendekatan sosial era Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang seringkali membuat kebijakan tanpa deklarasi resmi untuk menghindari potensi penolakan dari masyarakat konservatif.
Kebijakan ini diduga karena Arab Saudi tengah berupaya menarik lebih banyak pekerja asing berpendidikan tinggi, memperkuat sektor pariwisata, dan mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Selain itu, penjualan alkohol dipandang sebagai sumber pemasukan tambahan di tengah tekanan fiskal yang dihadapi kerajaan, mengingat Dubai sebagai tetangga terdekat sekaligus rival ekonomi mendapat pemasukan besar dari industri minuman beralkohol.
Namun, perubahan ini membuat sebagian konsumen masih ragu karena aturan detail mengenai konsumsi, distribusi, dan batasan legalitas bagi pemegang premium residency belum dijelaskan secara terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tanda-tanda perubahan, pemerintah masih menjaga sikap hati-hati dalam menghadapi isu sensitif ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar