
Pedagang Cilor Banting Stir Jadi Penjual Jagung Bakar di Malam Tahun Baru
Di tengah kegembiraan masyarakat yang merayakan malam pergantian tahun, seorang pedagang cilor memilih untuk beralih profesi sementara. Ia menjadi penjual jagung bakar di alun-alun Tanjungsari, Sumedang, pada malam tahun baru. Keputusan ini bukan tanpa alasan, karena ia memanfaatkan momen penting tersebut untuk menarik perhatian warga yang berkumpul.
Momen Spesial untuk Berjualan
Ade Jalaludin (38), warga Desa/Kecamatan Sukasari, adalah seorang pedagang keliling cilor yang biasanya berjualan dari SD hingga SMP di kawasan Sukasari. Namun, malam tahun baru 2025 ke 2026 menjadi kesempatan istimewa baginya. Ia memutuskan untuk “naik kelas” dengan berjualan jagung bakar di alun-alun Tanjungsari.
“Ya, setahun sekali saja. Malam tahun baru,” ujar Ade kepada Tribun, sambil tersenyum. Ia mengatakan bahwa ia hanya menjual jagung bakar dalam satu malam saja, yaitu saat pergantian tahun.
Persiapan dan Proses Pembuatan
Jagung-jagung berukuran besar ditata rapi di lapaknya. Kulitnya menumpuk di satu sudut, sedangkan tongkolan yang siap dibakar berjajar menunggu giliran. Sejak mulai berjualan pukul 15.00 WIB, lapaknya tak pernah benar-benar sepi.
Dengan topi hitam dan kaos oblong, Mang Ade sibuk memainkan perannya. Tangan kanannya mengibas-ngibaskan kipas bambu (hihid), menjaga bara arang tetap menyala. Tangan kirinya cekatan membolak-balik jagung yang telah dilumuri mentega, hingga warnanya mengilap keemasan.
Jenis Jagung yang Dijual
Malam itu, Ade menjual dua jenis jagung. Pertama, jagung mentah yang dibanderol Rp10 ribu per kilogram. Isinya kadang hanya berisi dua tongkol karena ukurannya besar. Kedua, jagung bakar yang dijual Rp10 ribu per buah.
Hasilnya terbilang manis. Hingga pukul 20.30 WIB, sekitar 30 kilogram jagung telah ludes terjual. Ia pun dibantu seorang teman untuk melayani pembeli yang terus berdatangan.
“Alhamdulillah ramai. Dari tadi banyak yang beli,” tuturnya.
Sumber dan Perhitungan
Jagung yang dijual Mang Ade ia peroleh dari pemasok lokal. Total, ia membawa sekitar satu kuintal jagung khusus untuk malam pergantian tahun ini. Namun, jangan berharap bisa menemukannya besok. Sebab Ade berjualan jagung bakar semalam ini saja.
“Besok mah enggak. Ini hanya memanfaatkan momen saja,” katanya.
Kehangatan di Penghujung Tahun
Di tengah hiruk-pikuk malam tahun baru, lapak sederhana Ade menjadi bagian kecil dari perayaan. Bagi sebagian orang, jagung bakar hanyalah camilan. Namun bagi Ade, ia adalah harapan tentang rezeki musiman, kerja keras, dan kehangatan yang lahir dari bara arang di penghujung tahun.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar