nurulamin.pro.CO.ID,BRASILIA – Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penangkapan kepala negaranya Nicolas Maduro memantik kemarahan di negara-negara Amerika Latin. Kawasan itu sepanjang sejarah kerap jadi sasaran operasi AS menggulingkan pemrintahan yang tak sejalan dengan mereka.
Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva mengecam Amerika Serikat karena melakukan “penghinaan serius” terhadap kedaulatan Venezuela dan mengancam perdamaian regional.
“Pemboman di wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya melewati batas yang tidak dapat diterima,” tulis Lula dalam postingannya di X. Ia mengatakan bahwa hal tersebut mengancam “pelestarian wilayah tersebut sebagai zona perdamaian”.
Dia mengatakan serangan AS mengingatkan “momen terburuk campur tangan dalam politik Amerika Latin dan Karibia” dan mendesak PBB untuk “merespons dengan penuh semangat”.
Kolombia juga melayangkan kecaman atas serangan AS. “Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka telah menyerang Venezuela,” tulis Presiden Kolombia Gustavo Petro dalam serangkaian pernyataan yang diposting di platform media sosial X.
“Republik Kolombia menegaskan kembali keyakinannya bahwa perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan kehidupan serta martabat manusia harus diutamakan dalam segala bentuk konfrontasi bersenjata,” kata Petro.
Dalam postingan terpisah, dia mengatakan Kolombia “menolak agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin”. Petro kemudian mengumumkan pengerahan pasukan militer ke perbatasan Venezuela.
Presiden Miguel Diaz-Canel mengeluarkan kecaman tajam di media sosial, menuduh Washington melakukan “serangan kriminal” terhadap Venezuela dan menyerukan tanggapan internasional yang mendesak.
Dalam postingannya di X, Diaz-Canel mengatakan apa yang disebut sebagai “zona perdamaian” di Kuba sedang “diserang secara brutal”. Ia menggambarkan tindakan AS sebagai “terorisme negara” yang ditujukan tidak hanya pada rakyat Venezuela tetapi juga pada “Amerika Kita” secara lebih luas.
Ia mengakhiri pernyataannya dengan slogan revolusioner: “Tanah Air atau Mati, Kita Akan Berjaya.” Dalam sebuah pernyataan yang diposting oleh berbagai kedutaan besar Kuba di seluruh dunia, Havana mengatakan pihaknya “mengecam serangan militer AS terhadap Venezuela”.
Pernyataan tersebut juga “menuntut reaksi segera dari komunitas internasional”, dan menggambarkan serangan tersebut sebagai “terorisme negara”.
Dalam sebuah pernyataan yang diposting di X, Presiden Chili Gabriel Boric Font mengungkapkan “keprihatinan dan kecaman” pemerintahnya terhadap tindakan militer AS di Venezuela. “Kami menyerukan upaya mencari solusi damai terhadap krisis serius yang mempengaruhi negara ini,” katanya.
"Chili menegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip-prinsip dasar Hukum Internasional, seperti larangan penggunaan kekuatan, non-intervensi, penyelesaian sengketa internasional secara damai, dan integritas wilayah negara. Krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog dan dukungan multilateralisme, dan bukan melalui kekerasan atau campur tangan asing."
Dalam pernyataannya di X, Presiden Claudia Sheinbaum Pardo mengatakan “Meksiko mengutuk intervensi militer di Venezuela.”
Ia juga memasukkan dalam postingannya sebuah artikel dalam Piagam PBB yang menyatakan: “Anggota Organisasi, dalam hubungan internasionalnya, harus menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu Negara, atau dengan cara lain apa pun yang tidak sejalan dengan Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.”
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar