
Tingkat Kematian Ibu dan Bayi di Banyumas Menjadi Perhatian Serius
Di Kabupaten Banyumas, hingga November 2025, tercatat 13 ibu meninggal dan 194 bayi meninggal. Angka ini menunjukkan tingginya tingkat kematian ibu (AKI) dan kematian bayi (AKB), yang menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dr. Dany, menyampaikan bahwa meskipun penanganan stunting menunjukkan tren positif, masih ada beberapa faktor risiko yang menjadi tantangan besar. Salah satu faktor utama adalah jumlah keluarga perokok yang cukup tinggi.
"Kebiasaan merokok di rumah tidak hanya mengalihkan anggaran kebutuhan gizi, tetapi juga meningkatkan paparan asap bagi anak. Ini menjadi faktor risiko terbesar stunting," ujar dr. Dany.
Banyumas mencatat hasil positif dalam penanganan stunting dengan kasus baru berada di bawah target 2,5 persen. Kabupaten ini bahkan meraih penghargaan sebagai kabupaten berkinerja baik dalam pencegahan stunting. Namun, Kecamatan Purwojati masih menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi.
Cakupan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) per November 2025 masih berada di bawah rata-rata nasional. Beberapa kendala seperti keterbatasan anggaran, sasaran yang belum terjangkau, serta variasi faktor input menjadi hambatan di lapangan.
Tantangan dalam Penguatan Posyandu
Upaya penguatan Posyandu juga menjadi pembahasan penting. Saat ini, Posyandu menjalankan layanan kesehatan sepanjang siklus hidup, termasuk untuk lansia, namun menghadapi berbagai tantangan, antara lain:
- 60 persen atau 10.213 kader belum pernah mendapat pelatihan.
- Banyak kader berada pada usia produktif sehingga beberapa desa hanya bisa membuka Posyandu pada malam hari atau hari libur.
- Keterbatasan alat antropometri dan kebutuhan sarana lainnya.
- Insentif kader belum merata, meski aturan telah mengharuskannya.
dr. Dany berharap perhatian pemerintah daerah dapat meningkat, khususnya dalam pemberian insentif untuk menjaga motivasi kader.
Gerakan Kolektif untuk Penurunan AKI, AKB, dan Stunting
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Sadewo menegaskan bahwa penurunan AKI, AKB, dan stunting harus menjadi gerakan kolektif. Ia menekankan bahwa hal ini tidak bisa dibebankan pada Dinas Kesehatan semata.
"Ini tugas kemanusiaan. Semua sektor, profesi, dan komunitas harus terlibat," katanya.
Sadewo juga menyoroti peran Posyandu sebagai pintu pertama pelayanan kesehatan keluarga. Ia menekankan pentingnya klinik bagi wanita usia subur dan pasangan usia subur dalam menyiapkan kehamilan sehat.
Program skrining layak hamil, menurutnya, perlu diperkuat karena mampu mendeteksi risiko sebelum kehamilan terjadi, sehingga berkontribusi pada penurunan AKI dan AKB.
Intervensi Stunting yang Lebih Luas
Intervensi stunting kini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga balita dan ibu hamil. Program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat juga diperluas agar manfaatnya menjangkau lebih banyak kelompok rentan.
"Kita harus bekerja lebih dekat, lebih kompak, dan lebih cepat untuk menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas dan berdampak nyata bagi masyarakat Banyumas," ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar